
"Istirahatlah dulu aja," ucap Bi Ijah pada Nathan sesaat setelah mereka sampai di rumahnya, karena Nathan hendak langsung mencuci kacang tanah yang dia bawa.
"Bi Aku duluan ya ambil wudhunya," seru Rena yang langsung melangkah ke samping rumah untuk ke ****** yang berada di belakang dapur hendak membersihkan diri, karena adzan sudah berkumandang ketika mereka masih berada di ladang.
Sejak satu tahun lalu rumah tersebut sudah nampak berbeda dengan yang dulu, dengan adanya tambahan kamar mandi di belakang rumah, dan ruang dapur pun sudah diplester, meski begitu sebagian besar tidak sama sekali diubah dan tetap mempertahankan bentuk rumah panggungnya, yang di ganti hanyalah dinding bilik bambu saja dengan yang lebih bagus, karena Bi Ijah ingin mempertahankan rumah tradisional tersebut.
Setelah mereka semua sudah membersihkan diri dan melaksanakan sembahyang dzuhur, kini mereka pun berkumpul untuk makan siang bersama.
"Maaf ya Nak Nathan makannya seadanya," ucap Bi Ijah sambil meletakkan piring.
"Gak apa-apa Bi malah saya yang harusnya minta maaf jadi ngerepotin Bi Ijah dengan numpang makan segala," timpal Nathan.
"Nie lalapan seger langsung dipetik dari kebunnya," seru Rena yang membawa beberapa lalapan seperti leunca, terong dan selada yang diambil dari kebun belakang rumah.
"Wah mantepp tuch, segerr kayak yang bawanya," timpal Nathan tersenyum.
"Aish... Gombal banget Pak Dokter nich," cibir Rena tapi dalam hatinya dia tersipu karena senang, setelah semuanya sudah tersedia mereka pun makan dengan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, terlihat Nathan menghabiskan makanannya begitu lahap, dia pun sempat heran pada dirinya sendiri karena tumben nafsu makannya begitu besar, meski dengan hidangan seadanya, mungkin semua itu karena efek dari habis membantu Bi Ijah dan Rena di ladang tadi, yang mana itu hal baru baginya.
"Ren, sehabis makan maukah kau temaniku jalan-jalan disekitaran kampung ini?" Tanya Nathan mencoba mengajak Rena.
"Boleh saja, tapi nanti sore aja soalnya sekarang cuaca tak mendukung, masih panas," Jawab Rena dan itu pertanda dia menyetujui ajakannya.
***
Sementara jauh dari kampung Tegal Bungur tepatnya di keramaian sebuah Mall Ibukota terlihat dua keluarga kakak-beradik tengah berbincang dengan serius sambil menyantap makanan siang mereka.
"Kak bagaimana apa kita akan setuju dengan usulan dari Papa kita tempo hari?" Tanya Daniel pada Rudy.
__ADS_1
"Hmmmz.... Aku sich tetap kurang setuju, enak aja kita harus membagi dengan jumlah sedemikian banyaknya, padahal aku sudah bersusah payah untuk mengumpulkan semua itu, apalagi dia kan hanya anak bungsu yang tidak pernah ikut campur dalam urusan perusahaan," Jawab Rudy, kedua kakak beradik itu sepertinya masih keberatan dengan perintah yang ayah mereka tempo hari, padahal Pak Wijaya memberi keringanan dengan memberi hak Rena secara bertahap.
"Kenapa kalian tidak menolak usulan tersebut?" Tanya Istri Rudy yang mulai ikut nimbrung dalam masalah suaminya.
"Itu tidak mungkin kami lakukan dihadapan ayah kami, bisa-bisa dia mencabut hak waris kita," Jawab Rudy.
"Kalau memang tak bisa menolak permintaan ayah, kenapa Kau dan Kak Rudy tidak berbicara saja dengan Rena untuk menekannya tanpa sepengetahuan ayah, dia pasti akan mudah ditekan apalagi dengan alasan yang kalian sebutkan tadi," timpal istrinya Daniel yang kali ini memberi sarannya.
"Hmmz... Betul juga katamu, bagaimana kak, apa kakak setuju dengan usulan dari istriku?" ucap Daniel yang setuju dengan usulan dari istrinya.
"Usulan yang masuk akal, tapi kita kan tidak tau dimana Rena tinggal sekarang," kata Rudy yang menyetujui ide tersebut.
"Hmmz... Benar juga ya, yang tau tempat tinggal Rena hanyalah Kak Keysa, tapi itu tidak mungkin kita meminta padanya, aku takut dia akan mengetahui maksud kita nantinya dan akan pasti akan memberitahukannya pada Papa," ucap Daniel yang di benarkan oleh semua yang ada di meja tersebut.
Merekat tengah asik berbincang sambil makan, tapi mereka tak memperhatikan ART mereka yang tengah mengasuh anak-anak mereka sambil menahan lapar karena belum makan siang.
***
Ada sebagian yang terus memainkan benang sambil terus menatap cakrawala dengan netranya terfokus pada sebuah layangan yang terus meninggi dengan liukan-liukan indah diterpa oleh angin sore, sebagian gadis cilik ada yang bermain gobak sodor atau ada sebagian anak lanang bermain sepakbola dan permainan tradisional lainnya.
"Sungguh suasana dengan pemandangan yang begitu menarik, anak-anak yang masih melestarikan permainan tradisional ditengah gempuran permainan berbasis elektronik," ucap Nathan sambil menikmati kopi yang tadi dia bawa dari rumah Bi Ijah.
"Ya begitulah, sungguh menarik bukan?" Timpal Rena menanggapi ucapannya.
"Memang, tapi ada yang lebih menarik disini..." Ucap Nathan tapi dia menghentikan perkataannya sejenak untuk menyesap kembali kopi yang ada ditangannya.
"Apa itu?" Tanya Rena sambil melirik orang yang ada disebelahnya.
__ADS_1
"Itu kamu, dari semua yang ada disini kamulah yang paling menarik," jawab Nathan.
"Tsk... Mulai dech gombalnya," ucap Rena sambil memalingkan wajahnya yang terlihat bersemu merah.
"Tidak aku mengatakan yang sesungguhnya, andaikan waktu itu aku terus berusaha, mungkin kita sekarang akan mempunyai keluarga yang bahagia, seperti Rehan dan keluarganya itu, tapi aku dulu terlalu pengecut untuk menghadapi semua itu," ucap Nathan raut serius tapi ada rasa sesal disana.
"Hmmz... Andai dan mungkin ya? Ya memang kita hanya sebatas berandai-andai dan berkemungkinan, kita sendiri tidak tau kemungkinan itu akan terjadi dan mungkin bila kita tau akan kemungkinan terburuk atau terbaik itu terjadi pada kita, mungkin kita akan menghindari hal buruk tersebut dan mempertahankan hal baik dengan berusaha sekuat tenaga, tapi itu hanya sekedar mungkin bukan? Tetap saja Sang Pengendali Takdirlah yang berkuasa, kita hanya sebatas menerima dan menjalaninya saja," Timpal Rena panjang lebar.
"Tapi bukankah kita harus tetap berusaha atas semua kemungkinan itu?" ucap Nathan.
"Ya, memang benar kita harus tetap berusaha, tapi apa dulu kau melakukan hal tersebut? Tidak bukan? Bahkan kau meninggalkan ku kala itu tanpa penjelasan yang tak pasti," Timpal Rena, perkataan tersebut langsung membuat Nathan terdiam menohok tepat sasaran, karena dia tak bisa memungkiri hal tersebut.
"Ya aku mengakui kesalahan ku waktu itu, maafkan aku," ucap Nathan penuh penyesalan.
"Tak perlu menyesali hal yang sudah berlalu, lebih baik kita tatap hari ini untuk menyongsong masa depan kita yang lebih baik," timpal Rena mencoba mengurangi sesal yang merasuki hatinya.
"Ya kau benar, kali ini aku berbeda dari yang dulu, aku akan berusaha membahagiakanmu," ucap Nathan yang begitu serius dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Lembayung senja yang begitu indah kembali muncul setelah sekian lama, kicauan burung dan angin sore yang menyejukan mengiringi langkah menyusuri pesawahan yang mulai sepi untuk pulang ke rumah Bi Ijah.
#Yuks beri dukungan biar authornya semangat up lagi, dengan memberi Like atau coment, bisa juga memberi hadiah berupa bunga atau pun ngasih vote pada karya ini.
#Dan Biar gak jenuh nungguin mimin up part selanjutnya, ada rekomendasi novel yang tidak kalah menarik nich.
Yuks cekidot and happy reading
__ADS_1