Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Meyakinkan Sang Mantan


__ADS_3

Sementara di tempat yang cukup jauh dari ibukota, selepas ashar terlihat Rehan sedang bersiap-siap pergi dari gerai elektroniknya setelah menyervice beberapa ponsel milik pelanggan, "Jup, nanti jangan lupa dikunci ya, si Adang belum pulang dari mushola?," seru Rehan pada karyawannya yang bernama Jupri.


Memang sejak dia memiliki rumah produksi atas saran dari Zahra dia merekrut seorang karyawan untuk bekerja di gerainya agar dia tidak terlalu kerepotan meski begitu posisi Siti dan Jamilah tidak dia singkirkan, karena bagaimana pun mereka berdua hanya bekerja pada sabtu dan minggu. Tapi bagaimana pun kadang dia akan bolak ke gerai dan rumah produksi bilamana ada alat elektronik yang tidak bisa ditangani oleh kedua karyawannya itu.


"Oke bos, belum bos mungkin lagi bermunajat agar cepet dapat jodoh, hahahaa...." Jawab singkat Jupri sambil tertawa.


"Hah.... Kau nich, jangan terlalu menghina orang yang masih jomblo, kalau dia mendengar dan sakit hati bisa-bisa dia ngedoain kamu yang gak bener, ingat doa orang sakit hati itu cukup ampuh, baiklah kalau begitu saya pergi dulu," timpal Rehan tersenyum yang setengah mengingatkan dan langsung membuat Jupri menghentikan tawa.


"Hehehe.... Becanda bos, hati-hati di jalan bos," ucapnya sambil mesem dan menggaruk rambut yang tidak gatal.


Rehan pun langsung melajukan motornya meninggalkan gerai tersebut dan tempat yang dia tuju bukanlah langsung pulang ke rumahnya melainkan kembali ke kampung Tegal Bungur untuk bertemu dengan Rena, karena ada hal yang dia ingin bicarakan dengannya.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Rehan sampai ke kampung Tegal Bungur, dia lantas membelokan motornya ke rumah produksi untuk sekedar melihat keadaan perusahaan kecilnya itu, tapi meski hanya sebuah perusahaan kecil dan baru bergerak beberapa bulan saja keuntungannya sudah cukup membanggakan, karena Rehan bisa meraup net profit hampir mencapai sepuluh juta lebih perbulannya.


"Asaalamualaikum Bos, tumben balik lagi kemari, apa ada hal penting," seru pak rt kampung Tegal Bungur sekaligus sebagai kepala penjaga rumah produksi tersebut.


"Waalaikumsalam, ah pak rt biasa aja ngapa panggilnya jangan ada embel-embel bos segala, nggak ada cuma ini saya hanya hendak bertamu ke rumah Bi Ijah," ucap Rehan dan dia juga agak risih bila disebut bos oleh orang lain apalagi orang yang lebih tua darinya.


"Hehee... nggak apa-apa toh sekarang emang udah jadi bos beneran," timpal pak rt terkekeh.

__ADS_1


"Wah ada gerangan apakah hendak ke rumah Bi Ijah apa? Apa nak Rehan hendak menjadikan neng Rena istri kedua," ucapnya lagi dengan nada bercanda.


"Ish... Enggaklah, satu aja udah cukup," timpal Rehan sambil menepuk bahu pemangku jabatan di kampung tersebut.


Setelah memarkirkan motor dan pamit pada pak rt, Rehan pun berjalan memasuki kampung tersebut dan ketika dia melangkahkan kaki di jalan yang baru saja di perbaiki itu banyak sekali orang yang menyapanya dengan ramah, karena sedikit banyaknya Rehah telah membantu warga sekitar menumbuhkan pendapatan mereka dengan cara mendirikan rumah produksi di kampung Tegal Bungur, apalagi sistem kerjanya tidak terlalu memberatkan, karena mereka masih sempat untuk mengurusi ladang mereka.


"Assalamualaikum," seru Rehan ketika sudah sampai di rumah Bi Ijah.


"Waalaikumsalam," timpal Bi Ijah dan Rena secara bersamaan yang tengah duduk di balai bambu rumah panggung tersebut yang sedang menikmati waktu senggang menjelas sore hari.


"Eh ada apa Bos? apa ada laporan yang harus saya rekap ulang lagi," ucap Rena menyunggingkan senyum.


"Ish.... Bas-bos-bas-bos, kayak pak rt aja panggil bos," timpalnya dengan memasang wajah bete.


"Ish... Lebay banget sich seantreo Padjadjaran, sekabupaten bagian timur aja masih belum apalagi sepadjadjaran, itukan mencakup seantro jawa barat dong, tapi mudah-mudah ucapanmu jadi doa," timpal Rehan.


"Aamiin" seru serempak Bi Ijah dan Rena.


"Sebenarnya aku ke sini bukan untuk membahas pekerjaan, tapi...." Lanjut Rehan dan menggantung perkataannya, karena dia langsung meminum air yang sudah disediakan oleh sang empu rumah agar tenggorokannya tidak kering.

__ADS_1


"Tapi apa?" Ucap Rena yang penasaran.


"Tapi, ingin membicarakan tentanmu dan Dokter Jonathan," ucap Rehan.


"Maksudnya?" tanya Rena kurang mengerti, yang mana membuat raut wajahnya berubah sedikit murung, Bi Ijah yang cukup pengalaman dalam pahit-manisnya kehidupan sudah paham dengan arah pembicaraan tersebut, maka dari itu dia pun ijin undur diri untuk memasak air di dapur untuk persedian besok, padahal Bi Ijah hanya memberi ruang untuk keduanya saling berbicara secara leluasa.


"Maksudku, bagaimana pendapatmu tentang keseriusan dari niatnya untuk melamarmu?" timpal Rehan dan balik bertanya.


"Aku tak tau harus menanggapinya bagaimana? Karena di sisi lain aku masih trauma dengan masalalu yang pernah aku alami, tapi akupun tidak ingin mengecewakan seseorang lagi," ucap Rena sambil tertunduk, perasaannya sekarang sungguh rumit.


"Yakinkan pada kata hatimu Dokter Nathan adalah orang baik, apalagi dia adalah orang yang pernah mencintaimu jauh sebelum kita saling mengenal dan diapun sudah menceritakan alasannya ketika meninggalkanmu dan bila kau suatu hari butuh bantuanku jangan sungkan untuk memberitahukannya padaku, karena sekarang dirimu sudah kami anggap sebagai anggota keluarga kami sendiri," ucap Rehan begitu meyakinkan.


"Tapi gimana dengan Bi Ijah nanti dia akan sendirian bila aku sudah menikah nanti, aku sangat menyayanginya karena sekarang beliau sudah kuanggap sebagai orang tuaku dan aku tidak ingin meninggalkannya dalam kesendirian," ucap Rena lagi.


"Tidak apa-apa Neng jangan terlalu memikirkan Bibi, Neng berhak bahagia atas hidup Neng sendiri," timpal Bi Ijah yang tiba-tiba saja datang dari arah samping, tapi perkataan tersebut malah membuat air mata Rena merembas dari celah bola matanya.


Setelah ucapan Bi Ijah tersebut, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Rena, dan karena Rehan tidak ingin terlalu memaksa agar dia menerima kembali cinta pertamanya itu, karena bagaimana pun dirinya lah yang menjalani rumah tangga tersebut, jadi keputusan akhirnya juga ada pada dirinya sendiri.


Perbincangan pun berlanjut tapi tidak lagi menyinggung tentang Nathan, melainkan perbincangan tentang kemarau yang sudah cukup lama dan tentang hasil palawijaya yang dikelola setiap orang di desa tersebut.

__ADS_1


Dan ketika waktu menunjukan jam setengah enam, Rehan pun pamit undur diri dari rumah Bi Ijah, "Kau mungkin bukan cinta pertamaku tapi kau adalah mantan terindah yang pernah aku miliki Kang," ucap Rena dalam hati sambil melihat punggung Rehan yang tengah berjalan meninggalkan kediaman Bi ijah.


"Sejak kecil aku tidak pernah memiliki pemikiran untuk hidup sempurna meski dulu aku tinggal di keluarga konglomerat, karena aku tau dunia ini penuh intrik cerita, dan ketika aku bertemu denganmu aku merasakan cinta seluarbiasa itu dari dirimu Kang, meski pada akhirnya aku harus merelakan perasaan ini demi membuatmu bahagia bersama sahabat terbaikiku, karena aku tidak bisa mempertahankan hubungan kita akibat ego dari keluargaku sendiri," gumam Rena yang terus memandang kepergian Rehan yang dibarengi dengan cahaya senja yang mulai nampak, ada sembilu yang mengiris kalbu ketika dia mengenang tentang masalalu.


__ADS_2