
"Assalamualaikum," ucap Rehan setelah tiba di rumah Bi Ijah, karena dia tadi ditelpon oleh istrinya bahwa mereka sedang berkunjung sepulang dari tempat pariwisata dan oleh sebab itu Rehan menyusul dengan berjalan kaki, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah produksi.
"Waalaikumsalam..." seru mereka serempak yang tengah duduk bersama di depan rumah panggung tersebut.
"Abiiii..." seru Rina yang langsung turun dan memeluk putrinya itu.
"Bagaimana tadi jalan-jalannya? seru gak?" tanya Rehan setelah membalas peluk dari Rina.
"Seruuu bangeettt... Apalagi tadi berenangnya sama teman baru, anaknya teman Umi," ucap Rina penuh semangat menceritakan tentang jalan-jalannya tadi sambil duduk dipangkuan ayahnya, dan Rehan hanya menjadi pendengarkan yang baik saja dan menanggapinya dengan senyum, sesekali Zahra menimpali dengan bercanda membuat semuanya tertawa.
"Hmmzz... Sungguh keluarga yang sangat bahagia," gumam Rena dalam hati, melihat tingkah keakraban antara keluarga kecil tersebut.
"Ouh iya Bi Ijah, nanti senin atau hari selasa Bi Ijah sama Rena bisa mulai kerja di pabrik kerupuk, nanti Bi Ijah bagian packing dan Rena bagian pendataan," ucap Rehan setelah selesai mendengar cerita jalan-jalan dari Rina.
"Tapi kami kan tidak punya surat lamarannya Kang," timpal Rena, yang kini dia dan Rehan tidak canggung lagi ketika berbicara satu sama lainnya, tidak seperti pertama kali mereka bertemu kembali.
"Ah... Gak usah pake lamaran segala, orang cuma pabrik kecil yang lain juga sama hanya daftar nama saja ke pak Rt, karena memang ini dikhususkan buat warga sekitar, kecuali kalau ada dari desa lain baru harus menyerahkan surat lamarannya," ucap Rehan kembali menjelaskan sistem rekrut yang dia pakai.
__ADS_1
Tidak terasa mereka berbincang hangat hampir satu jam lebih, dan baru pamit menjelang pukul dua siang, sebelum pulang ke rumah Zahra meminta untuk mengecek persiapan pabrik yang akan dikelola oleh suaminya tersebut.
"Ah... Besok mah kebagian piket akhri pekan di puskesmas, padahal pengen banget ngelihat acara syukuran pembukaan pabrik ini," seru Zahra sedikit kecewa, karena untuk besok dia bagian jadwal piket jaga di puskesmas.
***
Sementara di sebuah lorong rumah sakit terlihat Keysa yang tadi tertidur kini telah mengerjap-ngejapkan matanya, dia baru terbangun hampir menjelang sore, mungkin karena dia sangat kelelahan dan para perawatpun tak ada yang berani membangunkannya.
"Ughh... Sepertinya aku ketiduran terlalu lama," gumamnya sambil meregangkan badan yang terasa sangat kaku, sorot matanya masih seperti cahaya temaran yang hampir badan, memandang ke segalah arah tiap-tiap sudut bangunan rumah sakit tersebut.
Lantas Keysa berdiri dari tempat dia tertidur dan melangkah kebagian lobby rumah sakit, yang mana dia menanyakan keadaan ayahnya itu, ternyata ayahnya harus menginap di ruang ICU malam ini.
"Ouh... Ternyata dokter Ryan, tibanya sich tadi pagi, Dokter Surya sudah pulang ya?" timpalnya balik bertanya, setelah memasuki ruangan ICU Keysa sempat akan mencari dokter yang melakukan perawatan pada ayahnya itu, meski dia juga seorang dokter tapi dirinya adalah seorang dokter kecantikan, jadi Keysa ingin mengetahui keadaan ayahnya tersebut.
"Iya baru 30 menit yang lalu, tenang saja keadaan Pak Wijaya sudah stabil kok," ucapnya lagi yang ternyata dia adalah dokter yang sudah cukup lama bekerja di rumah sakit yang sekarang dipimpinan oleh Rudy tersebut, jadi dia cukup kenal baik, siapa saja anak-anak Pak Wijaya.
"Ouh ya.. Terimakasih kalau begitu, bilangin ke bos kau, suruh jaga dan rawat baik-baik Papanya itu, jangan malah shopping mulu, baiklah kalau begitu saya mau pulang ke rumah dulu, paling besok sore saya membesuk Papa kembali," timpal Keysa dan dia langsung beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut, karena seharian ini dia belum mandi badannya terasa sangat gerah, selain lapar juga tentunya.
__ADS_1
~
Keesokan paginya Keysa sudah berada di kampung Tegal Bungur, dia berangkat dari rumahnya setelah adzan subuh lewat satu jam, Keysa bertekad hari ini dia harus benar-benar membuktikan apa yang dilihatnya kemarin bukanlah imajinasi belaka.
"Hmmz.... Ramai sekali disana, ada acara apa ya?" gumamnya ketika melihat sebuah rumah yang dekat dengan gerbang masuk kampung tersebut.
Memang pegawai yang akan bekerja di rumah produksi milik Rehan itu sejak dari pukul tujuh pagi sudah berkumpul untuk diberi arahan oleh Rehan sendiri, hampir 20 orang lebih ternyata sedang menunggu giliran untuk di panggil olehnya, dengan beragai usia dan kebanyakan didominasi oleh perempuan.
Keysa yang tadinya hendak masuk ke kampung tersebut entah kenapa dia malah tertarik memperhatikan kerumuhan, dan dia alangkah terkejutnya seperti melihat sosok seseorang yang sangat dia kenal, diapun bergegas langsung turun dari mobiknya.
"Renaaa?" serunya dengan cukup kencang, membuat semua pasang mata menoleh pada dirinya.
"Kak Keysa," gumam Rena yang cukup teekejut dengan kemunculan kakak perempuannya itu, dan Keysa berlarian menghampirinya, sementara Rena hanya diam mematung, meski ada pikiran untuk lari darinya, tapi entah kenapa ia tak bisa melakukannya, karena ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Kamu beneran Rena kan?" tanya Keysa sambil terus menetap secara seksama untuk memastikan apa dia benar atau tidak, sementara Rena hanya diam tanpa menjawabnya sama sekali.
"Orang yang ada di depan non Keysa beneran Non Rena, Nona Keysa tidak salah lihat kok," timpal seseorang dari arah belakang Keysa yang muncul dari kerumuhan orang-orang.
__ADS_1
"Bi Parijah?" seru Keysa tertahan, karena dirinya semakin terkejut, ternyata sumber suara tersebut adalah Bi Ijah yang baru saja datang.