
Makan malam itu semakin meriah, walau hanya tiga orang yang makan. Ya tentu saja tidak sepi karna ada Tea di dalamnya. Sebenarnya yang mengobrol hanyalah Kakek dan Tea, Asher berperan menjadi pendengar yang baik. Setiap kali dia mencoba angkat bicara, Tea langsung memotong ucapannya. Ini balasan karna Asher sudah membohongi Tea. Hal itu membuat Asher beberapa kali ingin melayangkan sendok makannya pada gadis berisik ini. Syukurlah ada tatapan tajam kakek yang mampu mengatur Asher, jika tidak, habislah Tea.
Para pelayan semakin menghargai Tea, karna mereka tau Tea jauh lebih disayang dibanding Asher yang cucu kandungnya. Jangan tanyakan reaksi Tea? Dia tentu terkejut setengah mati, namun sangat menikmatinya. Malam ini, dia adalah 'queen'nya. Kasih sayang Kakek membuat Tea semakin berani dalam menjahili Asher. Bukan sekali dua kali Tea menghina Asher terang-terangan dan Kakek hanya menyambutnya dengan tawa seolah itu candaan cucu yang masih TK.
Namun, inilah saat keterpurukan Tea. Dia sudah turun jabatan dan kehilangan kekuasaannya mengganggu Asher karna kakek yang akan kembali ke rumah utama.
"Ingat Asher, jangan pernah kasar pada Tea!"
Itu adalah kalimat yang terakhir kakek ucapkan sebelum beliau meninggalkan mansion ini. Dan saat ini, punggung kakek sudah hilang termakan oleh jarak. Dan Tea mendadak merasa merinding, atmosfer dari sebelah kanannya membuat dia begidik nyaris tertekan. Tentu saja itu karna Asher sialan berdiri disana.
"Hey istri rata, kau tau apa yang terjadi pada putri yang masuk hutan, dan bertemu oleh bandit saat dia kehilangan kstarianya?"
Tea menampilkan cengiran manisnya. Dia sangat yakin suami gilanya pasti menyimpan dendam karna sesi makan malam menyebalkan tadi. Dia tau Asher menyinggung soal dirinya yang ditinggalkan kakek.
"Oh tentu aja putri itu baik-baik saja, malah dia akan membantai bandit payah itu, karna dia cantik, kuat dan jago bela diri." Tea menjawab dengan percaya diri.
"Dia memang akan baik-baik aja."
"Kan, sudah ku bila--"
"Tapi bukan karna dia jago bela diri. Tubuhnya rata, makanya sang bandit tidak nafsu. Dan akhirnya sang bandit meninggalkan sang putri dengan keren, dan mencari mangsa lain dan sang bandit hidup bahagia." Dengan santainya Asher berjalan, melambaikan tangan meninggalkan Tea.
"Hey bandit payah! Kau mau kemana?!"
"Menjauh dari putri rata, katanya hal-hal buruk itu gampang menular. Aku cuma antisipasi dan menjauhkan diri."
Tea hanya bisa mengepalkan tangannya kesal. Dia baru menikmati mengganggu Noel, tapi saat ini dia diganggu?
"Hari ini kau harus tidur di luar...!"
...***...
Berkat secangkir kopi hangat, Tea sudah meredamkan amarah dan kekesalannya pada suami di atas kertas itu. Tea berdoa pada tuhan semoga kerjaan orang itu banyak dan dia gak tidur dikamar, biar aja dia tidur di ruang kerja mansion.
Tea menscroll list Kampus bergengsi. Dia sangat bersemangat memikirkan adiknya yang akan memakai almet sebuah kampus.
__ADS_1
"Almet yang cocok sama Icha apa ya? Kuning? Biru?"
Tea sesekali memperbaiki kacamatanya yang kadang turun, itu semua berkat hidungnya yang minimalis.
"Hey putri rata, gak usah pakai kacamata, kau cuma menyiksa diri, hidung mu yang masuk kedalam itu tidak akan sanggup menopang beban kacamata."
Tea tidak ingin menggubrisnya, dia lagi sangat-sangat serius. Merasa tidak dipedulikan Asher berjalan mendekati Tea. Ikut melihat apa yang Tea lihat.
"Apa? Kau mau kuliah? Ngambil S3? Ayolah, kasihani otak mu dengan kapasitas terbatas itu."
"Tutup mulut mu payah, atau aku akan menggunakan mulut ku untuk menutupnya."
"Apa kau sudah sikat gigi? Aku gak mau terkontaminasi."
Tea melirik ke arah Asher. Dia berdiri dan langsung memijak kaki lelaki itu kuat.
"Argh!! Sakit! Dasar Rata! Apa kau pernah ikut gulat sebelumnya? Kenapa gak ada elegan-elegannya?!"
"Diamlah! Emang dasar kau aja yang payah dan lemah! Pokoknya malam ini kau tidur di sofa!"
"Kenapa aku yang tidur di sofa, itu kasur ku, kalau kau mau, kau aja yang pindah."
Tea menutup laptopnya dan menaiki tempat tidur, menarik selimut dan memasang headset. Dia sedang dalam suasana hati yang baik memikirkan Viocha. Jangan sampai rusak karna pria sialan ini.
Tanpa Tea sadari, ada senyuman tipis yang terlukis di wajah Ash.
"Bahkan orang bodoh pun tau untuk melepas kacamata sebelum tidur." Asher mengambil kacamata yang masih terpasang di wajah Tea.
...***...
Apa yang lebih menyenangkan dari bangun pagi terkurung di lengan yang seksi? Ya! Itu harusnya menjadi hal yang menyenangkan, tapi berbeda jika yang memeluk ngotot bahwa dia tidak bersalah, dan Tealah yang mengambil kesempatan.
Jangan tanyakan sudah berapa kali Tea mengunyel-unyel wajah Asher dan memijit otot-ototnya yang keren. Tapi Asher belum bangun juga. Sudah terpikirkan oleh Tea untuk memvideo itu semua sebagai bukti bahwa gadis mesum inilah yang menjadi korban. Tapi sayang ponselnya jauh.
Apa bahas soal cerai ya? Biasanya dia bakal bangun?
__ADS_1
"Hey bandit payah, aku gak mau cerai."
"Harus cerai! Aku gak mau menghabiskan sisa hidup ku dengan seluruh tubuh ku menjadi bahan kesenangan dan pelampiasan obsesi mu, aku gak mau di eksploitasi seumur hidup."
Benar dugaan Tea! Si suami sialan ini bangun, dan langsung menjawab perkataan Tea soal cerai. Apa ini? Apa sekarang cerai sudah bisa menjadi sandi untuk membangunkan Asher? Jika Tea tau dari awal akan semudah ini membangunkan Asher. Dia gak kan repot-repot menyentuh tubuhnya.
Itu benar, tapi aku menikmatinya sih! Ototnya keras dan keren!
Astaga! Sadarkan dirimu Tea! Orang ini gila, dia psikopat kejam yang belum move on.
"Hey, kau pura-pura tidur ya?"
"Buat apa? Aku memang baru bangun? Kenapa? Kau berharap berada dipelukan ku lebih lama?"
Tea menatap jengah ke arah Asher. "Angkat tangan mu jauhkan dari badan ku yang mungil ini."
"Kau sendiri yang membuat dirimu terkurung, kenapa aku yang malah bertanggung jawab untuk melepaskannya."
"Kau...! Dasar bandit payah! Kau pasti akan menyesal!"
*Cup!
Tea mencium tepat di bibir Asher, hanya ciuman ringan dan menempelkan bibir saja.
Tea tersenyum mengejek, dia menutup mulutnya seketika. "Bagaimana ini? Aku belum sikat gigi, pasti bibir mu terkontaminasi, sudah ada beberapa virus yang ketinggalan disana."
*Cup!
Asher mencium bibir Tea, persis seperti yang Tea lakukan.
"Apa yang kau lakukan?!" Tea terkejut, pipinya memerah seketika. Dia tidak akan menyangka pria yang anti menyentuhnya ini malah menciumnya balik?
"Mengembalikan semua virus yang sebelumnya tinggal di bibir ku, dan akhirnya virus itu hidup bahagia bersama keluarganya di bibirmu." Sahut Asher enteng.
"Kau...!" geram Tea.
__ADS_1
***
Jangan lupa tinggalin like, komen dan vote ya! Selalu dukung Authornya! Doain semoga gak drop, hehe.