
Setelah kekacauan yang tadi terjadi, pesta berjalan seolah tidak ada yang terjadi, semuanya santai sekali. Bukan tanpa seban, itu pasti karna perkataan Asher tadi.
"Jangan bahas yang terjadi di pesta saat ini, aku tidak suka mendengar bisikan menyebalkan. Kalau sampai ada yang membahasnya, dan bukan kami, maka, kalian tau kan akibatnya?"
Ya berkat perkata-eh maksudnya ancaman halus versi Asher. Pusat perhatian masih tertuju pada Tea. Tea diam, dia sendiri saja masih bingung.
"Ash, apa pelakunya benar-benar Yelena?" Bisik Tea saat dia sedari tadi bungkam. Apa yang bisa dia katakan? Dia saja masih bingung, bukankah ini kejutan untuknya?
"Iya dia, aku bukan tipe manusia suka fitnah. Tolong catat itu." jawab Asher enteng.
"Lalu, kenapa kau melakukannya padanya? Kenapa di depan umum dan di depan semua teman-temannya, disini juga ada gebetannya, kau tau?"
"Baguslah, karna ini tempat yang tepat. Dengan begitu, dia masuk penjara, nama baiknya hilang, dan dia di coret dari nama Anumertha. Hukuman mana yang lebih baik dari ini?"
"Bukannya itu kelewatan ya?"
"Dia yang lebih kelewatan karna menyakiti mu. Jika ingin mengikuti kata hati, aku tidak akan melibatkan hukum. Aku akan memasukkannya ke dalam peti yang isinya jarum ssmua. Jadi, menurut mu, mana lebih mending? Yang sekarang? Atau yang ada di kepala ku?"
Tea diam, dia tau Asher kejam. Tapi, apa kekejaman itu bisa sampai memikirkan hal yang buat ngilu begini? Ah, benar juga, dia kan Asher. Dia saja sering menyakiti Eve, dan jika hanya Yelena? Mana mungkin dia keberatan kan?
"Baiklah, yang sekarang yang terbaik. Tapi, apa kau harus melibatkan Icha juga? Sejak kapan Icha jadi seperti itu?" Tea juga masih tidak percaya, bahwa bisa-bisanya dia menyandung kaki Yelena dengan sengaja. Dia seperti bukan Viocha yang Tea kenal. Tea hanya tau kejahatan Viocha menyandung kaki, soal tusuk jarum, Tea masih yakin kalau adiknya benar-benar tidak sengaja melakukan itu. Kejadian itu, murni karna ketidaksengajaan Viocha, karna dia hampir terpleset.
"Biasanya, orang akan berubah jika orang yang paling dia cintai tersakiti. Dan mungkin saja, itu terjadi pada Viocha kan? Kau tau adik mu sangat menyayangi mu."
"Itu benar sih, dan--"
"Hentikan itu putri rata, jangan bahas perempuan itu lagi. Kau membuat suasana hati ku buruk, aku bahkan memerintahkan mereka untuk bungkam soal Yelena. Kenapa malah kau yang membahasnya. Lebih baik kau tenang dan persiapkan diri mu karna sebentar lagi akan masuk acara, dimana salam-salaman tiba. Dan kau akan melihat para penjilat handal di sini."
__ADS_1
Tea menghela napasnya.
Aw sakit!
Tea mendesis perih saat punggungnya bersentuhan dengan kursinya. Perih-perih nyelekit itu dia rasakan. Tea sih ingin mengadu pada Asher niatnya, tapi kayaknya bakal ada keributan part dua jika sampai dia mengadu.
"Kak? Gimana? Sakit? Mau udahan?" Entah sejak kapan tapi Viocha sudah berada di sebelah Tea saat ini.
"Enggak kok, kakak suka. Ngomong-ngomong, Icha jangan kasar kayak gitu lagi ya. Gak baik." Nasihat dari Tea akhirnya turun. Dia harus menjaga kepolosan dan kesucian adiknya ini.
"Disuruh kakak ipar." Jawab Icha jujur. Ya, dibalik semua rencana ini tentu saja Asher.
Tea melirik ke arah Asher. "Kita musuhan satu hari!"
Asher hanya tersenyum, tidak ada hal lain yang dia katakan.
Namun, secara perlahan William-adik Tea, yang kini gagah nan tampan dengan batik hitam yang ia pakai, menarik tangan Joselyn untuk berjalan ke arah Galate dan Asher. Saat semakin dekat William berjalan, semakin tidak terbendung pula air mata anak itu.
Dia meneteskan air mata dari ekor matanya, dia ingin memeluk Tea, namun dia menghalangi niatnya, karna tau kondisi tubuh kakaknya sedang tidak mendukung.
"Gak mau peluk Kakak? Kakak kangen loh." Tea sudah merentangkan tangannya, menanti pelukan dari sang adik bungsu. Wah, yang lain pada ingat kalau Tea terluka, tapi sepertinya dia sendiri lupa bahwa banyak corak di punggungnya saat ini.
"Udah dikasih wejangan sama Kak Icha, katanya jangan peluk Kakak untuk sementara. Punggung kakak luka." William menahan dirinya, dia menarik sudut bibirnya.
"Oh iya, Kakak lupa kakak sakit. Tapi Will, kenapa kamu lama banget kesini. Kakak sangat menantikan kehadiran mu."
"Aku masih belum siap melepas Kakak. Aku pikir saat Kakak pergi karna pernikahan kontrak, suatu saat kakak akan kembali, dan aku akan membawa kakak pulang, tapi sepertinya Kakak tidak akan kembali lagi. Padahal, aku ingin sekali menghabiskan hari dengan Kakak dan Kak Icha, seperti dulu lagi bermain. Walau hanya bermain monopoli atau ular tangga, karna tubuh ku lemah, tapi itu sangat seru. Aku merindukan saat itu." William sesak, tapi juga dia bahagia melihat kakanya bahagia.
__ADS_1
"Cengeng." Celetuk Viocha santai tanpa beban.
"Gak apa-apa Will, kamu bisa sering main ke rumah kakak kalau kangen. Nanti kakak suruh Kak Icha ajak kamu." Tea mengusap kepala adiknya, yang bahkan sudah lebih tinggi darinya. Pertumbuhannya lebih cepat dari biasanya.
"Memang Kak Icha mau?" Will melirik ke arah Icha.
"Gak lah." Apa yang mereka semua harapkan? Icha menangis dan bilang iya? Oh jika itu terjadi sudah jelas Icha kerasukan.
"Cha?" Tea melirik ke arah Icha.
"Gak Kak. Tolong jangan dipaksa." Icha sendiri masih kekeuh akan keputusannya.
"Oke, Kakak harap kamu bisa nerima Will lain kali."
"Gak jamin."
"Maafin Mama Tea, ini semua salah Mama. Kalau aja Mama...," Joselyn angkat bicara, namun dia tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
"Ya, akan Tea coba maafin."
Suasana canggung antara keluarga itu terjadi, kikuk antara Tea dan Joselyn. Ya, mau bagaimana lagi? Setelah sekian lama mereka baru mau memulai hubungan baik? Itu sulit kan? Bahkan dengan luka yang Joselyn tinggalkan untuk Tea dan Icha.
"Gimanapun Icha juga anaknya Ma--"
"Kita memang kakak adik, Kak. Tapi bukan berarti aku putrinya. Kita satu ayah dan beda ibu. Jadi tolong, jangan di bahas." Icha langsung memotong ucapan Tea cepat.
Sepertinya tidak akan semudah itu untuk mendapat maaf dari Icha kan? Mau bagaimana lagi? Yang paling banyak terluka dalam keluarga itu adalah Icha. Icha pemilik trauma paling banyak berkat Joselyn dan mantan suaminya.
__ADS_1
"Kalian tidak ingin makan? Makananya enak, silahkan mencoba." Asher akhirnya mulai angkat bicara sebelum pembicaraan itu semakin panas, dia harus melerainya. Dia memang suka keributan, tapi bukan keributan dimana istrinya akan sedih karena itu.