Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
86. Hari ini


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu saja, dan Asher juga Tea semakin manis saja. Ah, lebih tepatnya Asher.


Tidak ada kejadian yang menarik, semuanya damai, tentram, anteng ayem. Dan saat-saat seperti inilah yang membuat Tea bosan.


"Ah, bosan banget di rumah."


Atas dasar kalimat keluhan yang Tea bilang tadi pagi, akhirnya Tea berada di sini. Saat itu Asher bilang akan membawanya ke tempat rekreasi. Tapi, tempat rekreasi apa ini? Tempat menghibur mana yang di penuhi dokumen begini?


Tea menghela napasnya kasar, dia sedang duduk manis di sofa kantor Asher. Suaminya membawanya jalan-jalan ke kantor. Entah siapa yang bilang bahwa ke kantor Asher adalah rekreasi.


"Ash? Bukannya kau sudah kelewatan ya? Kau bilang akan mengajak ku ke tempat yang membuat aku dan kau bahagia karna aku bosan berada di rumah. Tapi apa sekarang? Kau membawa ku ke kantor? Ini rekreasi?" Tea menghela napasnya kasar, dia menatap Asher yang hanya diam berkutat pada dokumennya.


Dia sama sekali tidak menghiraukan ocehan Tea sejak tadi. Kenapa Asher diam? Tea tidak lagi butuh pendengar yang baik, dia butuh penjelasan Asher dengan janjinya yang ingin membawanya ke tempat hiburan yang cantik.


"Ash! Aku bicara dengan mu? Mana tempat rekreasi nya? Apa maksud mu ini tempat rekreasi? Mandi dokumen misalnya? Oh, atau guling-gulingan di lantai mahal, maju mundurim sofa? Kau kira itu hiburan?" Tea harus apa? Apa yang harus dimainkan Tea di sini? Seperti contoh yang dikatakannya.


Asher yang sedari tadi fokus pada dokumennya, mencoba menahan tawanya. Memang ya, kalau bersama putri rata itu, tidak ada satu detik pun tanpa tawa.


"Kau tertawa? Bisa-bisanya kau tertawa saat istri mu menjerit di sini! Aku tidak butuh pendengar yang baik! Aku mau kau memberikan penjelasan! Aku butuh hiburan!" Tea berteriak kesal, jika dia tau ujung-ujungnya begini, lebih baik dia di rumah nonton film ini itu.


"Oh? Kau menjerit? Aku pikir kau bernyanyi? Soalnya sedari tadi suara mu merdu sekali di telinga ku." Astaga, makin hari otak Asher makin kehilangan posisinya.


"Kau! Beneran deh buat sakit kepala! Kalau tau gini, mending aku tidur aja! Aku mau pulang! Entah dimana rekreasinya!"


"Apa kau tidak terhibur? Aku saja sangat terhibur ada kau di sini."


Ya ya ya, tentu saja Asher terhibur, betapa menyenangkan nya baginya untuk mengganggu sang istri yang baru saja pulih secara total.


"Tau ah, bikin sakit kepala! Seriusan! Mending aku keluar jalan-jalan!"

__ADS_1


"Kalau kau melangkah menjauh dari ku, lihat saja aku akan mengikat mu." Asher sudah menurunkan ancamannya. Umumnya manusia lain, akan takut dengan ancaman Asher yang ini, tapi sepertinya ini tidak berlaku untuk Tea. Dia sama sekali tidak takut pada suaminya. Bahkan ekspresi Tea saat ini sudah kesal, dia bukan takut melainkan marah. Siapa yang bisa melakukan hal seberani ini depan Asher kecuali Tea? Asher mengancam, Tea yang marah.


"Bukannya kita udah terikat ya?"


Asher menaikkan sebelah alisnya. "Terikat? Tangan kita masih terpisah."


"Maksud ku, terikat ikatan cinta pernikahan."


Asher membalikkan kursinya memunggungi Tea. Tea merasa aneh pada tingkah suaminya.


"Kenapa kau? Apa wajah mu sakit? Kenapa kau berbalik?"


"Wajah mu jelek, mata ku sakit, jantung ku tidak aman."


"Kau...!" Tea menggeram kesal, dia menarik napasnya dalam-dalam, untuk membuang niatnya menjadi istri durhaka yang melempar sepatunya kepada suaminya.


"Kau kan mencintai ku, perlakukan aku seperti ratu dong." Tea menghela napasnya.


"Lupakan, aku lelah, aku stress. Aku mau membuat kopi untuk diri ku sendiri. Nikmati liburan mu suamiku." Tidak baik untuk Tea berada lebih lama di satu ruangan dengan Asher. Salah-salah jika dia khilaf karna kesal pada Asher, bisa saja vas itu akan pecah. Tea memilih pergi, mundur dengan baik-baik.


Dan Asher sama sekali tidak menghentikan langkah Tea. Tea berdecak kesal, padahal dia berharap Asher mengehntikannya, dengan alasan bahwa Asher tidak akan bisa jika harus jauh-jauh dari Tea. Nyatanya apa? Asher hanya diam dan bahkan memunggunginya.


"Menyebalkan!"


Klek


Saat suara pintu sudah tertutup, Asher membalikkan kursinya, dia melihat tak ada lagi Tea di sana.


"Ah, sial! Kenapa dia imut sekali sih? Dia yang marah juga sangat menggemaskan, suaranya adalah yang terbaik. Dia terlalu menggemaskan sampai aku tidak bisa melihatnya, jika di lanjutkan, jantung ku pasti meledak. Kenapa ada manusia se imut dia sih? Menatapnya saja sudah seperti menanam ranjau di hati ku. Bikin hilang akal saja! Bukan hanya hati, dia bahkan mencuri kewarasan ku!"

__ADS_1


-


-


Tea kali ini berjalan sendirian untuk membuat kopi, biasanya kalau tidak ada noel, maka ada Barant, entah pergi kemana yang dua itu, membuat Tea harus jalan sendiri.


Asher memang sangat menyebalkan, Dia begitu menyebalkan tapi masalahnya aku sangat mencintai nya, dan dia mencintai ku? Ya aku sih percaya itu.


Langkah Tea gontai, dia berjalan dengan bosan. Akhir-akhir ini kegabutan menghampiri istri orang kaya ini.


Pokoknya aku harus mengajak Asher berlibur! Apapun yang terjadi!


Tea memantapkan niat dan semangatnya, langkah nya menjadi lebih ringan dari sebelum nya.


Tidak mungkin kan? Suami ku yang luar biasa ini akan menolak ajakan istrinya yang imut ini? Mustahil kan? Tidak ada alasannya untuk menolak, dia punya banyak sekali uang kan?


"Ya ya aku akan mencoba merayu supir itu? Ah namanya Noel, tenang saja sayang. Aku akan lakukan yang terbaik, renacana kita pasti akan berjalan lebih lancar saat ini. Aku pastikan Noel akan bertekuk lutut pada ku."


Tea menghentikan langkahnya, saat dia mendengar suara asing tak jauh darinya. Suara perempuan itu asing di telinga Tea, tapi nama yang dia sebutkan sangat Tea kenal. Bukan hanya Tea kenal, tapi Tea tau dengan jelas. Noel, sudah menjadi orang penting untuk Tea.


Tea mencoba mencari asal suara, sepertinya itu dari salah satu ruangan kosong yang ada di sana.


"Ya sayang? Aku akan berusaha keras, memanfaatkan Noel dan menghancurkan mereka sesuai keinginan mu. Setelah itu kita akan bahagia bersama, dan melakukan pernikahan yang lebih megaj dari kedua orang itu."


Deg


Tea marah, badannya bergetar seolah darahnya mendidih seluruh tubuh menjadi panas, dia yang hanya bisa menatap punggung wanita itu, ingin sekali menarik rambutnya yang panjang dan tergerai disana.


***

__ADS_1


Vote nya kaka, author bakal sering up di sini, untuk yang Shiren dan Bryan, hiatus dulu dan akan mulai lanjut di tanggal satu bulan depan. Makasih atas pengertiannya ^^


__ADS_2