Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
21. Noel Tertolak!


__ADS_3

"Nah, Cha kenalin dia Noel, supir pribadi Kakak. Yang mulai hari ini juga bakal anterin kamu ke kampus bareng Kakak. Nah Noel, kenalin dia Viocha, adik perempuan ku yang suka hidup mandiri." Tea memperkenalkan pria berseragam rapi disebelahnya, kepada gadis manis didepannya.


"Oh?"


Iya, hanya itu tanggapan Viocha. Jangan harap Viocha akan melakukan perkenalan diri sendiri.


"Ya udah, hari ini kelasnya sampe sore kan? Ayo kakak anterin, ntar telat. Ayo jalan Noel." Tea sudah berbalik. Namun dia diam menatap pintu mobil, bukan karna Tea lupa caranya membuka pintu mobil, hanya saja seperti ada yang mengganjal.


Tea melirik ke arah Noel. "Ada apa Noel, kau tidak ingin menjadi penjahat yang makan gaji buta kan?"


Tapi Noel diam, dia sama sekali tidak menggubris Tea. Pandangan Noel masih terfokus pada Viocha yang mengunci pintu.


"Ah~ gitu ya!"


"Arghhh!!" Teriakan Noel tersadar ketika sesaat dia merasa kakinya nyut-nyutan. Noel tentu tau siapa penyebabnya, dia melirik ke arah kanan, tepat Non kesayangannya yang baru memijak kakinya tersenyum menyebalkan.


"Non tau, Non itu kejam? Saya lagi perhatiin gimana bidadari hidup di bumi, bisa tolong jangan rese?"


"Sadar umur Noel, Viocha masih 19 tahun. Jangan macam-macam."


"Kenapa? Padahal Non kan yang suruh saya deketin bocah kinyis-kinyis yang umurnya 16-an." Noel menatap Tea dengan tatapan protes yang serius.


"Ada apa Kak?" Viocha sudah selesai mengunci rapat akurat pintunya, sama seperti dia mengunci hati dan dirinya.


"Dia suka sama kamu, katanya kamu bidadari yang turun ke bumi." Sahut Tea ceplos dan enteng, dengan wajah datar dan jari telunjuk diarahkan pada Noel. Tea sama sekali tidak memperhatikan wajah Noel saat ini.


Lihat wajah Noel itu! Dia yang kesal, malu, bercampur rasa debaran yang sedikit mengganti warna pipinya. Ingin sekali rasanya dia menenggelamkan nonanya di palung mariana.


"Maaf, boleh tau sebenarnya kamu pemilik selendang warna apa? Terus dulu mandinya di sungai mana? Ah, pasti pemilik selendang biru kan, soalnya kamu berhasil membiru-harukan hati ku." Noel menampilkan senyuman termanisnya sepanjang dia hidup.


"Garing sih."


"Oh."


Sahut kedua kakak beradik itu bersamaan. Tentu saja Tea menatap aneh ke arah Noel, dengan sedikit ilfeel...? Apa yang Noel harapkan dari Viocha? Gadis itu tersipu malu? Dia merona? Dia berdebar? Ayolah, dia itu Viocha.

__ADS_1


"Jangankan Viocha, aku aja mau muntah dengarnya." Tea menunjukkan tatapan seolah melihat orang gila yang berbicara sendiri.


"Apa Kakak memang selalu dikelilingi orang seperti itu? Kak, tolong jangan berteman dengannya. Bila perlu jaga jarak, Kakak mungkin tidak akan baik-baik saja." Ya, dia adalah Viocha, gadis irit kata yang langka. Dia hanya banyak bicara jika itu dengan Tea. Bahkan dengan Ely saja Viocha masih bicara seperlunya.


Noel yang mengeluarkan gombalan, dia pula yang malu sendiri. Jika dia bisa, dia ingin sekali masuk ke lubang tikus. Noel ingin menutup wajahnya! Dia merutuki mulutnya yang langsung berbicara saat menatap Viocha.


"Gak apa-apa Cha, mental kakak kuat. Kakak pasti bisa tetap waras diantara orang gila. Icha tau Kakak kuat kan?" Tea menampilkan wajah kalemnya saat selalu bersama Viocha.


Noel yang sedari tadi mencoba menahan malu, kini kembali sadar berkat omong kosong Tea barusan. "Apa-apaan itu, yang ada Non yang buat saya stress. Padahal diantara kita, Non yang paling stress dan saya cuma ketularan. Awalnya saya normal!"


"Oh? Jadi maksudmu Kakak ku tidak waras?" Viocha mengeluarkan aura tidak bersahabat dan tatapan menusuk untuk Noel.


"Bu-bukan gitu! Mak--"


Noel melirik ke arah Tea yang tersenyum mencoba menahan tawanya dibelakang Viocha.


"Apa?" Viocha semakin tajam menatap Noel.


"Iya, saya yang tidak waras. Ayo segera naik ke mobil, akan saya antarkan dengan baik." Noel tersenyum dengan elegan, dia membukakan pintu untuk kedua kakak adik itu.


-


-


-


Mereka sudah selesai mengantar Viocha ke kampus. Dan saat ini keduanya sedang dalam perjalanan pulang setelah membelikan kue jajanan kesukaan Tea untuk kakek nanti.


"Kantung plastik mana?! Noel dimana kantung plastik?!" Tea memegangi perutnya juga menutup mulutnya.


"Apa? Kenapa tiba-tiba? Non gak biasanya mabuk perjalanan? Non sakit?"


"Ah, aku bukan mabuk perjalanan, tapi aku mabuk kepayang karna gombalan romantis seseorang tadi pagi. Ah itu romantis sekali, kau berhasil membiru-harukan hati ku," Tea memeluk dirinya sendiri dengan senyuman menyebalkan.


Noel yang melihat itu langsung memasang wajah kesal yang siapa saja bisa lihat. "Itu semua kan karna Non!"

__ADS_1


"Gimana bisa kau bilang gitu sama perempuan yang baru kau temui. Noel, kau payah sekali."


"...." Noel diam saja, dia sudah menahan malu setengah mati.


"Ah aku merona~ berdebar~ tersipu malu~ aww jantung ku hampir lepas~ bagaimana ini?"


"Nona cukup dong! Ini penyiksaan paling menyiksa!"


Tea hanya tertawa lepas. Dan Tea tidak pernah puas mengganggu Noel sampai akhirnya mereka sampai ke gerbang rumah.


Tea langsung masuk ke rumah utama, menenteng totabag berisikan makanan yang ia belikan untuk Kakek. Sayang sekali Kakek tidak ada di sini, dan akhirnya Tea hanya menitipkan itu pada kepala pelayan dan langsung keluar dari rumah utama.


"Nona Galatea?"


Tea merasa asing dengan suara itu, tapi dia tetap menoleh karna yang disebutkan adalah namanya.


"Ya...?" Setelah Tea menoleh, akhirnya dia mengerti arti kata penyesalan karna dia baru saja merasakannya, saat menatap Eve sang mantan tercinta dengan kecantikan dan kemolekan yang haqiqi.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih, karna menolong saya hari itu."


Tea hanya menatap Eve. Lalu kembali tersadar. "Ah iya, habisnya Asher memang begitu. Maafkan dia ya, kalau begitu aku pergi dulu."


Tea baru berjalan beberapa langkah. Namun dia kembali menghentikannya karena....


"Anda menikah dengan tuan muda Asher karna perjodohan kan? Itu pernikahan paksaan kan, tanpa unsur cinta didalamnya. Tentu saja, mana mungkin iblis itu tau arti kata cinta."


Tea berbalik ke arah Eve. Kali ini dengan tatapan tajam yang menyerang, kalau kata Asher permulaaan yang bagus untuk perang.


"Entah karna cinta, uang, perjodohan, paksaan, intinya kami sudah menikah sah didepan hukum. Apa masalahnya dengan mu?" Tea semakin menajamkan pandangannya.


Eve tersentak halus, "Bukan! Maksud saya bukan begitu, maksud saya, saya akan bantu anda lepas darinya. Anda pasti sangat tersiksa dengan sikapnya yang kasar kan? Pas dia--"


"Cukup Nona Eve! Anda sudah kelewatan dan terlalu banyak ikut campur sebagai mantan pacarnya. Bagaimanapun saya dan dia menjalani kehidupan pernikahan kami, ini adalah urusan kami berdua, ini disebut urusan rumah tangga. Tidak ada orang luar yang bisa ikut campur. Mohon Nona Eve mengerti itu." Tea berbalik, dia berjalan meninggalkan Eve. Dia benar-benar kesal saat ini.


"Bukan begitu maksud ku, aku hanya tidak ingin kau terluka. Kau orang yang baik..., jangan terjebak seperti aku. Hidup ku sudah jatuh dalam jurang, tapi kau masih di tepinya. Aku ingin kau tidak jatuh, dan tidak akan pernah jatuh." Eve menghela napasnya, dia menatap punggung Tea yang semakin mengecil dijalan marmer yang lurus itu.

__ADS_1


__ADS_2