
"Berkas ini yang kau maksud? " Tea memberikan sebuah amplop coklat pada Barant.
"Iya Nona." Barant hanya bisa mengangguk dan mengiyakan segala perkataan Tea. Karna dia tidak tau berkas mana yang Asher maksud. Setahunya, seluruh berkas penting rapat hari ini sudah di meja Asher semua.
"Kalau begitu kau kembalilah, Noel kau mau mengantarnya?" Tea menatap Noel yang sedari tadi berdiri di sebelahnya.
"Kenapa harus saya?" tanya Noel menunjuk dirinya sendiri, dengan ekspresi tidak bersahabat tentunya.
"Iya juga, dia yang datang sendiri kok. Siapa suruh dia ikut kita, ya kan? Bisa datang masa gak bisa pulang." sahut Tea tentu membela bawahannya yang paling setia (kalau ada duit)
"Nona, saya ingin minta maaf lagi. Saya benar-benar minta maaf karna mengatakan anda berbohong, anda benar Tuan Asher bisa tersenyum." dia menunduk, ya ampun pribadinya ini benar-benar deh membuat Tea sakit kepala. Tea itu orangnya tidak gampang tersinggung, jadi hal itu bukan masalah baginya.
"Sudah ku bilang, dia bisa tersenyum, dan itu menyebalkan. Dan kau, kembalilah sekarang sebelum urat kewarasan ku putus." Tea berjalan masuk ke kamarnya.
"Baik Nona, hey supir ayo antar aku."
"Ogah banget, mending aku ngerayu pelayan dapur buat bikinin jus. Nih kunci mobil putih paling ujung. Bawa sendiri." Noel dengan santainya melempar kunci mobil itu.
"Kau itu hanya supir! Kenapa gak ada sopannya sih? Aku bakal melaporkan mu pada Tuan Asher."
"Laporkan aja, aku gak peduli tuh. Karna aku dipekerjakan langsung oleh Tuan besar Bryan Anumertha, menjadi supir pribadinya Non Galatea. Jadi hanya perkataan mereka berdua yang aku turuti."
"Kau...! Liat aja nanti! Dengan kepribadian mu yang seperti itu, Nona Galatea pasti akan mengusir mu!"
Keduanya berbalik saling memunggungi, berjalan berbeda arah dengan bisik-bisik umpatan satu sama lainnya.
-
-
Tea sedang menikmati membaca sebuah buku sastra, dia yang berkepribadian pecicilan itu sangat terbalik dengan hobinya yang menyukai puisi dan syair yang mendalam.
Tea mendengar suara pintu terbuka, Tea tau tentunya siapa yang bisa masuk tanpa izin kecuali Aser?
Tea tau Asher pulang, namun dia tidak tertarik untuk menyambutnya. Kalimat demi kalimat yang menggugah hatinya terlukis dengan indah diatas kertas putih itu. Bahkan Asher yang tampan masih kalah menarik dengan tulisan.
Bruk!
Namun, Tea tidak bisa lagi mengabaikan Asher karna pria yang sudah bertelanjang dada itu berbaring dipaha Tea.
"Apa? Kau mau menggoda ku? Aku lagi masa gak mood buat lakuin itu."
"Buang buku itu, dan pijat kepala ku. Ini sakit sekali, bawahan-bawahan payah itu hanya makan gaji buta. Kenapa meraka tidak bisa mengerjakan pekerjaan sederhana itu!" Asher memejamkan matanya, meromet tidak jelas.
Tea masih diam mematung. "Agak sakit kayaknya anak ini, Kau gak lupa bawa pulang saraf kewarasan kan?"
__ADS_1
"Ck...! Kenapa kau ini lamban sekali? Apa sesulit itu langsung menuruti kata-kata ku?" Asher mengambil buku yang Tea pegang. Dia langsung membuangnya kemana sana asal menjauh darinya.
"Hey buku berharga ku!"
Asher tidak perduli, dia menarik tangan kanan Tea, meletakkannya dengan manis di atas keningnya.
"Pijat itu, itu bagian yang terasa sangat sakit."
Tea mendengus kesal, namun dia juga tidak bisa menolak. Bagaimanapun, itu kan memang tugasnya sebagai seorang istri. Tea dengan keterampilan seadanya memijat kening Asher.
"Ada apa? Gagal proyek? Kalah tender?" Tea sedikit penasaran.
"Apa kau pikir aku menerima kekalahan? Aku memenangkan semuanya."
"Terus kenapa kau sakit kepala?"
"Para karyawan itu, kerjanya payah sekali. Aku banyak memperbaiki kesalahan mereka! Ah aku stress."
"Wah bagus, mau ke rumah sakit jiwa? Aku punya kenalan psikiater."
"Kau punya kenalan psikiater?"
"Iya, kau mau ku kenalkan?" jawab Tea antusias.
"Pantas, sudah ku duga kau pernah gila sebelumnya."
Tukh!
"Argh!"
"Maaf~ tidak sengaja~ ya ampun tangan ku bersalah."
Asher mendadak bangkit, dia agak kesal. Dia perlahan mendekat ke wajah Tea, kedua tangannya meraih tengkuk Tea, secara perlahan mendekatkan wajah Tea dengan wajahnya.
Serius ciuman?
Hanya ada pemikiran itu di dalam otak kecil Tea menanggapi situasi saat ini.
Tukh!
Asher menjedutkan keningnya sendiri, ke kening Tea, membuat hidung keduanya saling bersentuhan.
"Aduh, sakit tau!" Pekik Tea seketika. Persetan dengan suasana romantis, jidatnya sudah sakit dan memerah.
"Apa sih yang sebenarnya coba kau lakukan?" Tea masih mengusap-usap keningnya yang terasa nyut-nyutan.
__ADS_1
"Membalas mu, kalau aku sakit, kau juga harus sakit."
"Astaga!" Tea memekik lebih kencang. Kali ini dia yang mendekatkan wajahnya san menarik tengkuk Asher. Untuk kedua kalinya mereka saling menjedutkan. Ya ampun, kenapa hobi kedua orang ini absurd banget.
"Apa kau gila? Kau bilang sakit kan? Kenapa menjedutkan lagi, dasar rata!"
"Diamlah Asher! Dan berterima kasihlah pada ku karna aku sudah mematahkan kutukan yang kau buat untuk kita berdua."
"Kau ngomong apa sih sebenarnya? Ini akal-akalan mu kan? Karna ingin merusak wajah ku?"
"Kau gila ya? Mana mungkin aku merusak wajah mu, itu kerugian untuk ku!"
"Benar juga, jadi apa yang sebenarnya kau lakukan?"
"Kau gak tau? Kata nenek kalau kepala perempuan dan laki-laki kejedut seperti tadi, artinya mereka jodoh sehidup semati. Dan kalau mereka menjedutkannya untuk kedua kali, artinya mereka gak jadi jodoh."
"Kau umur berapa sih?"
"23 tahun." Sahut Tea polos.
"Jadi kalau menjedutkannya ketiga kali, apa yang terjadi?" Asher sudah tidak habis pikir soal wanita di depannya.
"Penasaran? Mau coba?" Sebenarnya Tea juga penasaran apa yang terjadi.
"Kau gila? Bisa-bisa kening ku jadi lentur. Sudahlah, aku mau mandi." Asher turun dari ranjangnya.
"Dimana sih bukunya tadi?" Tea melihat buku itu sudah kacau di dekat meja sofa. Tea ingin mengambilnya. Namun--
Brukh!!
"Argh!"
"Aduh!"
Teriakan keduanya serentak, tatkala Asher jatuh di atas Tea. Tubuh mungil Tea terpaksa menopang badan kekar itu.
"Duh, jidat ku!" Tea memekik lagi, tatkala dia sadar kening keduanya lagi-lagi bertabrakan dengan rasa sakit."
"Kau sengaja ya? Karna penasaran dengan jedutan ketiga?" Asher masih diam saja di atas tubuh Tea meskipun dia sudah sadar sepenuhnya.
"Tutup mulut mu, dan berdirilah. Kau menyiksa tubuh mungil ku."
"Kau lebih rata dari yang ku bayangkan." Asher menatap lurus ke arah dada Tea, yang sebenarnya tidak terlalu rata. Seperti yang Tea katakan, itu ukuran standar.
"Kau yang belum pernah melihat dan menyentuhnya secara langsung, tau apa soal milik ku?" Tea tidak ingin kalah! Dia masih percaya bahwa miliknya standar oke?
__ADS_1
"Apa? Mau kita lihat sekarang sebagai bukti?" Bisa-bisanya Asher mengatakan itu disituasi begitu.
Tea diam membatu. Tu-tunggu dulu! Tea belum siap dengan keadaan mendadak ini. Dia hanya bercanda oke.