
Setelah suasana mengharu-biru antara keluarga yang sudah jarang berbicara dari hati ke hati, akhirnya selesai juga. Meski agak kikuk dan canggung, mereka berhasil memangkas jarak antara Joselyn dan Tea, walau hanya satu langkah. Yah, hanya jarak Joselyn dan Tea, karna tampaknya sulit sekali untuk memangkas jarak antara Viocha dan Joselyn.
Jangankan jarak antara Viocha dan Joselyn yang terpangkas, yang ada jarak mereka berdua semakin jauh, bahkan hubungan William dan Viocha juga begitu. Viocha terlalu sulit untuk di dekati memang. William sudah berusaha sekeras mungkin mendekati kakak nya yang satu itu, namun sayang, jangankan membuka hati, dan jalan untuk Will datang. Yang ada Viocha memblokir seluruh jalan untuk Will di hati, maupun dunia nyata.
Entah Viocha yang terlalu terluka, atau egonya yang terlalu tinggi. Tak tampak tanda-tanda dia akan memaafkan Joselyn, dan berdamai dengan keduanya.
Aku harap Viocha bisa buka hati untuk Will suatu hari nanti. Karna Will beneran mau damai sama Icha. Pasti seru kalau liat keduanya akur.
"Tuan muda, bagaimana ini? Sebentar lagi akan ada acara dansa. Dan masalahnya, itu sebentar lagi dan pembukaannya tentu adalah tarian pertama anda dan Nona Tea. Bagaimana ini? Mengingat kondisi Nona Tea yang sekarang, sepertinya agak sulit kan?" Bisik Barant yang baru saja datang membawa laporan penting. Ya penting lag, ini akan jadi pusat perhatian. Dimama dua insan yang katanya serasi akan memadu kasih di atas lantai.
"Ya skip aja sih." Sahut Asher enteng tanpa dosa.
Tea menarik napasnya dalam-dalam, padahal dia juga ingin merasakan dansa bersama Asher di bawah sana. Seingat Tea, mereka tidak pernah dansa bersama kan? Tapi, setelah ada kesempatan dia harus kehilangan kesempatan itu karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan.
"Ha~" Tea menghela napasnya kasar.
Asher yang sadar langsung meliriknya. "Ada apa? Kau tidak ingin bilang bahwa kau ingin berdansa dan kau memaksa? Sebelum kau menanyakan itu, aku akan menolaknya. Aku akan menolaknya bahkan jika kau memaksa. Ingat kondisi tubuh mu, kau masih sakit. Mengerti?"
"Apa kau tidak ingin berdansa dengan ku?"
"Aku tidak ingin kau terluka dan berdarah-darah, masih ditanya lagi?"
"Tapi kenapa kau menjawabnya dengan santai sekali. Kau bilang skip begitu saja tanpa rasa penyesalan, seolah kau tidak kesal tidak berdansa dengan ku?!"
"Hari ini lagi malas gerak."
__ADS_1
"Kau tau kalau kau kejam?"
Asher menghela napasnya. "Kau nyaris menangis begini karna tidak bisa dansa di hadapan orang-orang? Sembuh dulu, maka aku akan mengadakan satu pesta besar yang akan mengundang banyak orang untuk menyaksikan kita berdansa. Jadi, jangan sedih, ini semua mudah, suami mu kaya, dan status sosialnya tinggi."
Yang Asher katakan tidak salah kan? Tidak masalah mau menbuang berapa uang untuk sebuah pesta dansa, yang terpenting Tea sembuh dulu. Dan saat ini, Tea mengerti maksud dari ucapan Asher.
"Kau akan mengadakan sebuah pesta besar hanya untuk kita berdansa?" Tea menatap suaminya dengan binar.
"Jika kau menginginkannya kenapa tidak?"
"Kalau begitu apa bisa kita lakukan di hotel ini?" Wah, Tea mulai melunjak, padahal dia tau betapa sulitnya mengadakan acara di hotel Hyunan ini.
"Kau mau di sini? Padahal aku mau membangunkan mu sebuah hotel baru, dengan kualitas bintang lima. Dan kita akan mengadakan pesta pembukaannya disana. Tapi, kalau kau maunya di sini sih, ya sudah. Aku bisa apa?" Asher tidak bohong, dia sungguh-sungguh sudah berencana membangun sebuah hotel mewah atas nama Tea.
Tea terdiam, dia dulu menyimpan cinta sendirian, apa memang cinta yang terbalas memang seindah ini? Dia tidak pernah membayangkan bahwa Asher akan jatuh cinta padanya. Dan beruntung nya dia, bulan kah Asher sudah terlalu berlebihan dalam mengekspresikan cinta? Itu terlalu menyebalkan untuk dilihat oleh orang-orang yang cintanya di tolak.
"Kak? Gimana? Skip aja nih? Acara dansanya?" Kini Viocha yang sudah muncul di sebelah Tea.
"Agak aneh sih, kayaknya banyak yang nantiin bagian ini karna pengen dansa sama gebetan. Gimana kalau Icha aja yang buka sesi dansa nya?" Tea menerbitkan senyuman penuh maksud pada sang adik.
"Oke? Pasangannya siapa? Kau ingin ku rekomendasikan dengan seseorang?" Asher ikut menimpali.
Tampak Viocha berpikir sebentar. "Siapa?"
"Barant!"
__ADS_1
"Noel!"
Jawab Tea dan Asher bersamaan. Barant yang sudah berada di sebelah Asher sedari tadi merasa berdebar, dia akan berdansa dengan Viocha?
Noel yang tadi kesepian, melihat ramai-ramai mengobrol disana, dia juga datang melangkah, tanpa tujuan, cuma ikut-ikutan doang. Dia menjadi sangat bosan setelah mengeluarkan Yelena dari sini, perannya sudah selesai dan dia menjadi bosan.
Tapi siapa sangka, langkah isengnya disana malah membuat telinganya mendengar pembelaan dari Non kesayangannya. Tidak bisa Noel pungkiri, Non Tea nya memang selalu mendukungnya, dan ada di sisinya kapan pun dia merasa sendiri. Tea adalah orang yang akan datang membela Noel apapun yang terjadi.
Non Tea emang gak ada duanya.
Noel kali ini tersenyum hangat, dia terlihat sangat tampan. Tapi sayang sekali, tidak ada satupun yang menyadari senyuman yang baru saja terbit di wajahnya. Padahal fotonya saat ini, sangat sempurna dijadikan walpaper wa.
"Terima kasih tuan muda sudah mengusulkan nama saya, saya sangat berterima kasih dan terharu." Barant sudah tersenyum senang, begitu juga denganĀ Asher. Barant merad
"Cha? Gak mau sama aku aja? Pengantin akhir tahun? Cha? Kakak mu Tea sudah setuju dengan hubungan kita. Kau tidak akan mengikuti kata-kata kakak ipar mu, karna kau lebih menyayangi kakak mu kan?" Timpal Noel yang tak ingin kalah, dia sudah mengulurkan tangannya lebih dulu. Barant yang sadar, dia juga tak ingin kalah dan mengulurkan tangannya.
"Semangat teman-teman!" Tea memberikan semangat dari tempatnya.
Viocha masih diam, matanya masih menatap dua telapak tangan yang besar dan tampak kuat menggantung di udara, tepat di hadapannya.
"Cha?"
Viocha masih diam, entah apa yang ada di dalam pikiran gadis mungil ini. Pikirannya terlalu sulit di tebak. Siapa yang harus dia pilih? Asisten kakak iparnya yang tampan dan masih berusia dua puluhan. Dan supir kakaknya yang tak kalah tampan, sudah menginjak awal tiga puluhan.
"Oh?" Icha menggumam, dia tampak sadar akam satu hal
__ADS_1
Sepertinya dia sudah memutuskan pilihannya. Icha turun darisana, dia membaur ke para hadirin, menarik seorang pria berambut pirang platinum dengan pakaian batiknya.
"Will, ayo dansa? Gantiin kak Tea sama kakka ipar."