
Setelah sukses meributkan satu Mansion, dan Albert yang tak kunjung datang, dan di dukung oleh Asher yang tidak sabar. Akhirnya Asher langsung membawa Tea ke rumah sakit. Dan pada akhirnya, Albert memeriksa Tea juga.
Albert menghela napasnya sebelum dia menyampaikan beritanya.
"Jadi, apa Non Tea hamil?" Noel bertanya sungguh-sungguh. Bentar, bukannya harusnya Asher dulu ya yang bertanya?
"Kau supir keluar!" Asher geram sekali dengan banyaknya tingkah supir sialan ini.
"Ta--"
"Keluar!"
Noel terpaksa melangkahkan kakinya karna dia tidak memilik kuasa sebesar itu untuk melawan Asher, dia hanya asisten kesayangan Tea, dan mata-mata kebanggaan kakek.
"Jangan di luar, di pintu aja." Tea yang iba melihat kegundahan supirnya, turut membelanya. Ya, hanya Tea yang bisa menolong Noel memang. Hubungan majikan dan supir yang keduanya miliki cukup erat, bukan?
Noel mengembangkan senyumannya, memang benar bahwa dia adalah bawahan kesayangan Tea. "Non emang gak ada duanya!"
Noel dengan santainya berdiri di pintu, tepat di sebelah Sheila yang masih berwajah dingin. Ah, dia memang humble kalau dekat Tea. Sheila memang cukup datar, kecuali saat dia berbicara dengan Tea. Dia tidak tau, kalau mengobrol dengan Tea, rasanya mulutnya ringan mengeluarkan kata-kata.
"Sebenarnya semua orang itu normal, cuma agak gesrek aja kalau udah bergaul sama Non Tea." Bisik Noel sangat pelan, hingga hanya keduanya yang mendengar.
"Kau benar, aku tidak percaya pria disana adalah Tuan muda Asher. Ternyata batu itu bisa membuat ekspresi khawatir untuk seseorang." Sahut Sheila yang berpikiran sama.
"Aku juga tidak percaya, bahwa wanita yang sering mengganggu Non Tea adalah Sheila, mata-mata peringkat kedua setelah ku."
__ADS_1
Pantas saja Sheila menolak Albert mentah-mentah, tentu dia tau kelakuan brengsek itu yang suka main wanita.
"Jadi, apa istri ku benar-benar hamil?" Asher bertanya dengan cukup serius.
"Kau berharap begitu?" Albert nyaris tidak percaya, pria yang katanya tidak tertarik memiliki anak malah berharap punya anak? Ini sungguh keanehan yang nyata.
"Ya, setelah menjadi seorang suami, aku harus menjadi seorang ayah kan? Hidup ku normal, tidak seperti mu yang aneh-aneh tanpa masa depan."
Albert ingin sekali menyuntik lidah sialan yang baru berkilah itu. Padahal dulu Asher lebih parah dari Albert, parah dalam hal berkeluarga. Albert bahkan yakin bahwa Asher tidak akan pernah menikah. Tapi, lihat? Apa yang terjadi sekarang? Jangankan menikah, dia bahkan berharap punya anak?
"Sayang sekali, usaha mu harus lebih keras. Karna istri mu belum hamil, dan maaf aku mengatakan ini. Lebih baik periksa dia lebih teliti pada ahlinya, aku rasa dia mandul."
Deg
Bukan hanya berita buruk, tapi ini sudah menjadi bencana untuk Tea dan kehidupannya. Apa pria itu bilang? Dokter sialan ini tidak salah kan? Dia memvonis Tea mandul?
Sesak yang memenuhi dadanya kian memuncah, kepedihan yang tak bisa dibendung mengeluarkan air mata yang mengalir terus menerus, bulir-bulir hangat berjatuhan dari pipi membasahi selimut.
Tea memang kuat, dia wanita yang selalu berpikir positif. Tapi, sekuat apapun dirinya, berita ini terlalu buruk baginya. Kenapa badai topan ini menerpanya begitu keras?
Tea ingin menutup telinganya saat Albert mengatakannya, dia ingin menolak fakta ini, dia ingin membantahnya keras-keras. Tea ingin hamil.
"Kau! Mungkin istri ku belum hamil sekarang, tapi mangatakan dia mandul. Kau mau mati hah?! Cepat tarik kata-kata mu lagi Albert! Atau aku akan menutup rumah sakit payah ini!"
Jangan tanyakan betapa marahnya pria arogan itu sekarang, suasana menjadi sangat buruk, tatapannya tajam seolah siap menghancurkan siapa saja. Berita buruk yang tak pernah dia ataupun Tea bayangkan malah di dengar setelah harapan kecil muncul. Apa takdir memang sekejam itu.
__ADS_1
Asher sudah sangat mengerikan saat ini. Membuat siapa saja yang mendekatinya langsung mundur.
"Jika aku bisa, aku juga ingin menarik kata-kata ku kembali, bukan demi mencegah hancurnya rumah sakit ini, tapi demi mencegah hancurnya jiwa istrimu. Tapi Asher, jika aku mengatakan itu, artinya aku berbohong, kan? Sebagai dokter, aku tidak bisa berbohong soal kondisi pasien ku, seburuk apapun itu."
Wajah Albert juga tampak sendu, dia harus mengucapkan berita buruk ini, pada sahabatnya yang sudah mengharapkan seorang anak. Jika dia bisa, dia harap orang lain saja yang menyampaikan berita duka menyayat hati ini.
Bukh!!
Asher tidak terima, dia nyaris gila dan melampiaskannya pada Albert. "Katakan! Katakan bahwa semua yang kau bilang itu bohong! Istri ku bisa hamil!"
"Hik ..." Isak tangis Tea yang begitu pilu dan menyayat hati mengalihkan perhatian Asher, dia melepas kerah baju sang dokter, kembali ke sebelah Tea, memberikan wanita dengan beban berat itu, sebuah pelukan hangat. Tapi, pelukan hangat suaminya juga belum bisa mengusir beban yang dia pikul.
Noel mengepalkan tangannya keras, dia ingin marah pada siapa saja yang menentukan takdir Tea sekejam itu. Bagaimana bisa Tea yang baik dan ceria malah diberikan cobaan seberat ini?
Hati Noel semakin teriris, telinganya terus mendengar denging tangis pilu sang Non kesayangan. Ketakutan bahwa Tea tak kan pernah bercanda atau tersenyum terbayang di kepalanya.
Hal yang tidak terduga dari Sheila pun terjadi, wanita yang biasa disebut mata-mata tanpa darah dan air mata di organisasinya, saat ini sudah melelehkan air mata yang membeku di ekor matanya. Bulir hangat itu adalah bukti, betapa menyedihkannya kondisi Tea saat ini.
"Jangan dengarkan dia, dia itu bohong. Kau pasti bisa hamil, kau bisa mengandung, suatu saat nanti kita bisa punya anak. Jangan menangis, jangan dengarkan dia." Asher memberikan pelukan paling hangat, dia tidak menyangka akan tiba waktu untuk dirinya menghibur manusia lain.
"Aku tidak bisa hamil ..., Asher! Dia bilang aku gak bisa hamil." Tangis Tea semakin pecah dan menjadi-jadi saat Asher memeluknya semakin erat.
"Jangan dengarkan omong kosongnya! Aku akan membuat mu bisa hamil, percaya pada ku. Aku bisa lakukan apapun untuk mu, jadi berhenti menangis, ini sangat menyakiti hati ku!"
Asher tidak bohong, dia merasa sangat perih di hatinya, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Jika dia bisa, dia harap tidak pernah merasakan perasaan itu.
__ADS_1
"Gak akan ada anak yang lahir dari ku."
Se-kecewa apa? Se-sakit apa? Apa ada yang tau bagaimana perihnya Tea saat ini? Orang bilang saat paling cantik bagi perempuan adalah saat mereka hamil, tapi hak paling cantik itu di renggut dari Tea.