
"Apa, apa maksud mu yang sebenarnya? Kebencian?" Tea masih agak bingung tapi dia juga agak mengerti.
"Saya pikir Kakek Bryan adalah orang yang dingin dan dia berlagak tegas tapi dia sama sekali tidak adil, lalu ada Tuan muda Asher yang kasar, dan Morgan yang menjijikan. Saya membenci keluarga ini sampai ke tulang, tapi melihat dua dari mereka sangat mencintai anda, dan begitu melindungi anda. Dan anda yang saya cintai juga mencintai keluarga Anumertha membuat saya ingin melepas kebencian ini."
"Tu-tunggu! Apa maksud mu mencintai ku?"
Tea sudah salah tingkah saat ini, ini sangat aneh dan asing untuk di pikirkan apalagi di ucapkan. Dan lebih mendebarkan lagi saat dia menanyakan.
"Pftt, tunggu - tunggu jangan bilang anda berfikir bahwa saya adalah orang yang seperti itu, haha? Serius? Nona Galatea?"
Eve terkekeh pelan mendengar ucapan Tea, apalagi harus melihat wajah wanita itu yang imut dan panik.
"Loh! Enggak dong? Berarti saya yang salah ya? Aduh, efek ge-er." Wajah Tea langsung datar, ternyata dugaan nya selama ini salah
Eve bukan orang yang seperti itu.
"Oh? Astaga? Apa ini? Wajah anda terlihat kecewa saat tau saya tidak menyukai anda dalam artian yang seperti 'itu' oh! Atau kah saya harus menyukai anda dengan artian begitu? Hmm? Akan saya co--"
"Tidak! Jangan katakan itu, jangan di lanjutkan Eve. Itu mengerikan." Tea langsung memotong ucapan Eve dengan teriakan supersonic nya.
"Tapi tadi wajah anda terlihat kecewa loh."
"Bukan kecewa, hanya saja itu di luar dugaan ku."
"Haruskah saya menjadikan dugaan anda itu nyata? Hmm? Nona Galatea?" Eve mengedipkan sebelah matanya menatap Tea genit. Tea langsung merinding seketika.
"Hentikan itu, sungguh aku merinding." Tea langsung mengusap kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Haha, saya menyukai anda bukan artian seperti itu, saya mencintai anda juga bukan dalam hal begitu. Saya sangat mengagumi anda, entah kenapa anda berhasil mengukir tempat khusus di hati saya, sulit rasanya untuk menjelaskan siapa anda untuk saya. Yang jelas saya menyayangi anda." Eve menjelaskan secara seksama, jujur saja dia juga suka melihat ekspresi salah tingkah di wajah Tea, dia menikmati kesalahpahaman itu, jika dia bisa dia ingin melanjutkan nya.
"Oh ya, apa kau tidak berniat lepas dari Morgan? Kau kan tidak mencintai nya?" Ini adalah hal yang paling Tea penasaran alasannya.
"Saya menetap karna saya membenci nya dan ingin membalaskan dendam saya pada keluarga ini, tapi saat ini saya sudah tidak lagi membenci nya. Karna anda sekarang adalah bagian dari keluarga ini. Saya sadar, bahwa pada dasarnya, memang saya tidak bisa memenangkan hati Tuan besar Anumertha, atau Tuan muda Asher. Yang berhasil memenangkan semuanya adalah anda. Hanya anda, dan bukan orang lain."
Tea tersentak halus, ada bagian hati nya yang berdesir saat Eve mengatakan itu. Saat Eve tersenyum sambil mengisyaratkan bahwa Tea adalah manusia yang istimewa, satu-satunya di dunia, tidak akan ada yang bisa melakukan apa yang Tea bisa itu kan maksud Eve?
Tea mengingat kembali kata-kata Asher saat dirinya dulu mengeluh tidak memiliki bakat. Bukan +Tea tidak memiliki bakat, dia hanya punya hal lain sebagai kelebihan.
Eve saja yang sempurna dalam wajah maupun kepintaran, tidak bisa mengambil hati Asher maupun Kakek Bryan. Hanya Tea yang bisa melakukan itu, hanya Tea satu-satunya di dunia yang dapat melelehkan hati mereka.
Dan saat ini Tea sadar, bahwa cinta paling indah adalah ketika dia dicintai dengan segala kekurangan yang dia punya. Dia tidak di tuntut untuk lebih.
"Itu artinya Asher mencintai ku lebih dari yang ku bayangkan? Aku yang biasa saja dengan otak yang biasa pula?"
Tea sadar, bahwa dia tidak lagi perlu merendah di depan orang yang lebih cantik dari nya. Karna tidak peduli seberapa cantik nya orang itu, dia tidak akan bisa apa-apa di depan orang yang tulus seperti Asher.
"Tapi, aku tidak tau dimana bagian istimewa ku? Aku tidak tau dimana kelebihan ku? Aku tidak tau di point mana yang membuat Asher jatuh cinta pada ku."
"Sering kali sesuatu yang tidak anda sadari menjadi daya tarik anda sendiri. Jadi tampil lah dengan percaya diri, percaya bahwa ada yang menarik dari anda. Kalau untuk saya, anda yang menarik."
*Cup
Eve mengecup pipi Tea pelan.
"Eve!! Ini kecupan persahabatan kan? Tanpa bumbu-bumbu perasaan lain di dalam nya?"
__ADS_1
Jantung Tea berdebar, dia masih memegangi pipinya yang bekas di cium oleh Eve.
"Entahlah, apakah itu hanya sentuhan persahabatan atau ada niat lain di dalam nya? Saya juga bingung, saya kurang tau. Atau jangan ja--"
"Eve hentikan itu!!!"
Obrolan mereka berlanjut agak lama. Dan Noel yang sudah kembali dari menjemput Viocha kini langsung menghadap ke arah Eve. Emosi nya mendadak naik saat melihat Eve masih di sana. Dan lebih parah nya lagi, tampaknya Tea dan Eve semakin dekat. Dahulu ada jarak aneh yang membuat keduanya canggung tapi sekarang, entah di bagian mana dan entah kapan itu, yang jelas sepertinya mereka sudah membuang jarak canggung itu. Berhasil memangkas jarak yang ssmpat tumbuh di antara keduanya.
"Non jangan dekat dengan Eve! Dia tidak normal!" Pekik Noel dengan jari telunjuk nya mengarah ke arah Eve.
"Iya deh si paling normal." Eve bahkan enggan menyahutinya.
"Ngomong-ngomong soal normal, bukan nya kau juga menyuruh ku menjauh dari Barant karna dia normal. Dan sekarang meminta ku jauh dari Eve karna dia tidak normal? Sebenarnya mau mu apa sih Noel?" Tea menatap Noel serius membuat Noel frustasi sendiri. Dia tidak mengerti jalan pikir Non nya.
"Pokok nya sudah saya nasihatin ya! Kalau dia itu gak normal! Pokoknya udah saya peringatkan! Kalau kedepannya terjadi hal-hal aneh! Bukan salah saya!"
"Berisik sopir trial." Celetuk Eve enteng.
"Apa kau bilang? Sopir trial? Kalau aku sopir trial kau apa? Tunangan babu?"
"Noel!!"
Kericuhan terjadi antara kedua orang itu sedangkan peran Tea hanya melihat dan mengawasi perdebatan mereka berdua agar tidak terjadi baku hantam.
***
Satu minggu sudah berlalu begitu saja, waktu terus maju tanpa kenal penyesalan. Dan selama ini, hampir setiap hari Eve datang untuk mengobrol bersama Tea. Kadang ada Noel yang ikut campur dan akhirnya mereka berdebat, kadang ada Viocha juga yang menjadi pawang nya Noel.
__ADS_1
Saat ini Tea sedang duduk membaca sebuah koran di sofa ruang tamu nya, semuanya aman tenang adem ayem tenteram sejahtera. Hanya ada masalah Elise saja yang berputar di kepala Tea.
"Non, katanya ada yang mau ketemu Non? Tamunya tuan muda Morgan."