
Sudah tiga minggu berlalu, serangkaian tes sudah Tea jalani, baik dengan dokter satu dengan dokter yang lain. Tes apapun bahkan dengan mendatangkan dokter dari negara ternama dengan alat yang bukan main mahalnya tidak merubah hasil tes itu.
Tapi sayang seribu sayang, apa yang dikatakan Albert tidak salah, Tea memiliki rahim yang lemah dan sulit mengandung. Fakta itu Tea dengar lebih dari sepuluh dokter yang sudah Asher bawakan.
Tidak ada dokter yang bisa mengubah itu, Tea mungkin saja tidak bisa mengandung jika tidak turun keajaiban dari yang maha kuasa.
Tidak ada yang bisa dilakukan uang, uang bukan segalanya, dan Asher mulai memahami itu.
Dia sadar benar bahwa kekayaan tidak bisa meberikannya senyuman istrinya saat ini, kekayaan yang dia usahakan seumur hidup tidak ada apa-apanya dengan ketentuan takdir yang sudah maha kuasa gariskan.
Asher memutuskan untuk berhenti memanggil dokter dari berbagai daerah, negara, dan belahan dunia manapun. Dia berhenti berusaha untuk mengubah fakta yang digariskan. Karena, semakin sering Tea diperiksa, dia akan terus tertampar kenyataan dengan dirinya yang sulit mengandung.
Tea bahkan sudah beberapa hari ini mengurung diri di kamar. Bukan hanya Asher, bahkan Kakek dan Eve mulai mencari terapi dan jalur alternatif lainnya. Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi. Noel dan Sheila juga turun tangan mencari jalan keluar dengan koneksi mereka yang bukan main luasnya. Tapi, apa boleh jadi? Yang maha kuasa sudah berkata begitu, tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
Jangan tanyakan sefrustasi apa kakek saat mendengar ini pertama kali, sejak saat itu beliau tidak pernah mengunjungi Tea lagi, entah apa maksudnya, kecewa mungkin?
Suasana rumah utama ataupun Mansion mendadak sepi, semuanya senyap di rundung nestapa, karena sang pilar utama kebahagiaan dan keceriaan tengah dirundung sedih yang teramat sangat. Tak ada yang bisa menyembuhkannya.
Asher memahami bahwa Tea lebih berharga saat hatinya kian perih menatap sang istri yang hanya duduk diam di atas kasur dengan air mata yang tak pernah kering, seperti saat ini misalnya. Tea bahkan tidak sadar suaminya sudah masuk ke dalam kamar.
Tidak ada pertengkaran, perdebatan, keributan antara putri rata dan bandit payah yang terjadi. Berita itu menyerang tiba-tiba tanpa mereka duga-duga.
Ini bukan lagi soal dirinya yang seru atau tidak seru, ini soal aku yang membutuhkannya, bukan soal dia asik atau tidak asik, aku memerlukan senyumannya dan merindukan dirinya yang berisik. Bukan lagi soal dirinya membosankan atau tidak, aku tidak bisa melihatnya menangis.
Asher memeluk Tea. Berbagai hiburan sudah Asher kerahkan, tapi bagaimana cara menghibur wanita yang direnggut hak paling cantiknya?
Asher ingin mengatakan bahwa berita yang Albert bawa adalah omong kosong, namun apa kabar yang di bawa belasan dokter terbaik juga omong kosong?
__ADS_1
"Apa itu anak? Tidak ada juga tidak apa-apa, yang menjadi masalah adalah saat ini, Kau, berhentilah meratapi itu semua. Kita gak bisa berhenti berjalan hanya dengan satu cobaan, kan?" Sejak Tea dirundung nestapa, Asher jadi semakin berbakat dalam menghiburnya.
Tea masih diam, dia hanya terus menangis tanpa henti di pelukan Asher.
"Kita bisa memgadopsinya kan?" Asher mencoba menarik minat hidup Tea yang tersisa.
"Tapi dia bukan anak yang lahir dari rahim ku, dia bukan anak ku, dia bukan anak dari pria yang kucin--" Tea langsung diam, mungkin secara tidak sadar dia ingin menceploskan perasaannya saat ini. Namun, Tea segera sadar dan menghentikan ucapannya.
"Apa? Katakan yang jelas." Asher memang kurang peka akhir-akhir ini, apa sebegitu sulit menerka kalimat yang terpotong?
"Bukan apa-apa, aku cuma gak mau adopsi anak." Tea menyembunyikannya sebisa mungkin. Menyembunyikan fakta bahwa saat ini dia masih percaya Asher masih mengharapkan Eve kembali. Dan saat itu terjadi, Tea hanya ingin hidup damai, berdua dengan anak yang dia lahirkan, dengan darah dirinya dan pria yang dia cinta mengalir dalam diri anaknya nanti.
Tapi kini semua angan itu sia-sia, jika nanti Asher pergi meninggalkannya tak ada yang tersisa kecuali duka semata. Luka yang tertoreh saat ini bahkan sudah lebih dari cukup, jangan tambahkan penderitaan lagi untuk Tea yang ceria.
Bahkan sekarang kakek gak pernah datang, manggil, atau mau ketemu sama aku. Padahal dulu baik banget. Tapi aku juga gak bisa marah kan? Beliau pemimpin Anumertha, pasti mau dan menyukai segala kesempurnaan? Dan aku menantu yang banyak kurangnya dan sangat tidak sempurna. Gak ada yang bisa kuharapkan disini, bahkan tameng yang biasa melindungi ku sudah pergi. Kalau Kakek aja begitu, Noel juga pasti menjauh kan? Ya, itu sebabnya Noel gak pernah menemui ku lagi.
Perih sekali, dia sudah di vonis begitu dan kemana perginya orang-orang yang menyayangi dan katanya mencintainya selama ini, kemana?
"Gak ada, aku ingin sendiri." Tea mendorong Asher menjauh. Melepaskan diri dari pelukan hangat sang suami yang akhir-akhir ini menghangatkan dirinya.
"Katakan sejujurnya."
"Tidak ada."
*Cup
Asher langsung mengecup bibir yang agak kering karna Tea sudah jarang makan dan minum akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Kau mencintai ku kan? Kau ingin memiliki anak dengan ku? Dengan suami mu yang kau cintai ini?" Wah, ternyata Asher peka. Kalau begitu, buat apa dia bertanya sedari tadi.
"Bukan! Mana mungkin aku mencintai mu!" Tea menyangkalnya mati-matian, padahal jantungnya sudah berdebar kencang saat ini.
"Kenapa berbohong? Hentikan itu, kau tidak akan mau disentuh oleh ku jika kau tidak mencintai ku kan?"
Tea diam, dia hanya mengalihkan pandangannya. Dirinya masih ingin berdalih terus menerus sampai Asher percaya bahwa Tea tidak mencintainya.
"Apa memiliki anak dengan ku lebih penting dari hidup mu sendiri? Hingga kau harus mengacaukan hidupmu dan meratapi takdir begini?"
"Apa memiliki anak dengan ku tidak penting untuk mu?" Perkataan Asher yang barusan sepertinya menyinggung hati dan perasaan putri rata kita. Hingga membuat Tea mengeluarkan tatapan tajam penuh kekecwaan dimatanya.
"Tidak." Jawab Asher dengan suara yang jelas.
Deg,
Jantung Tea seolah berhenti berdetak, apa yang dia harapkan? Asher mengatakan iya? Hentikan itu Tea, dan bangunlah dari mimpi mu.
Tea sudah menyerah, jiwanya sudah rapuh, semangatnya telah patah, dan kini raganya di remukkan dengan jawaban kejam dari sang suami. Tea tersenyum kecut.
"Haha!" Bahkan tawanya sama sekali tak mencerminkan adanya kebahagiaan dari suara rendah itu. "Tentu saja kau tidak peduli ada atau tidaknya anak diantara kita! Karna nantinya kau akan berakhir dengan Eve! Hanya aku! Hanya aku yang menginginkan anak, karna aku ingin mengurus anak ku dengan suami yang aku cintai! Tapi suami itu hanya terobsesi pada wanita lain! Ak--"
Asher lagi-lagi menghentikan ucapan Tea dengan ciuman di bibir.
"Jangan menyentuh ku! Ini menj--"
"Aku tidak butuh anak itu. Bukan berarti aku tidak menginginkannya. Kau tau? Jika nantinya aku punya anak dari darah ku, maka anak itu juga harus berasal dari rahim mu. Jika rahim mu tidak bisa melahirkan anak untuk kita, aku juga tidak bersedia memiliki anak dengan darah ku. Jika bukan dengan mu, aku tidak tertarik memiliki anak." Asher memotong ucapan Tea, dia mengusap air mata yang sudah membanjiri wajah sang istri.
__ADS_1
"Aku menginginkan anak dari mu, tapi jika karena anak itu kau jadi seperti ini, hanya diam dan menangis, lebih baik aku tidak memiliki anak. Jadi, berhentilah menangis. Kau tidak akan tau, betapa sakitnya sesuatu yang di sebut hati ini ketika kau hidup tapi seperti tak hidup." Asher menarik satu tangan Tea menggenggamnya, menuntun tangan yang kian mengecil itu ke dadanya, di tempat hatinya berdetak.
Votenya Kakak~