
Tea tidak kuasa menolaknya, karna dia tau betapa gaun itu sangat penting bagi keberlangsungan bisnis Jenny.
"Baiklah."
"Anda bisa menggantinya di sini saja. Kami akan membantu anda."
Tea membuka pakaiannya secara perlahan, malu memang saat dia harus melepaskan pakaian di depan orang lain. Di depan Asher aja dia masih gugup, apalagi di depan para wanita ini. Untung saja mereka wanita.
Langkah demi langkah pergantian baju itu terlaksana. Dan pemakaian gaun sudah mulai di coba.
Deg!
"Akhhhh!!!!!" Tea berteriak sekerasnya saat gaun itu menempel di badannya.
Rasa ngilu sakit dan perih dia rasakan di beberapa bagian titik tubuhnya, kecuali di bahu dan punggung, seolah dia sedang di iris secara panjang. Sakit, itu sakit sekali. Tea ingin menangis sekeras-kerasnya.
Perih yang dia rasa sangat menyiksa, Tea tidak pernah merasa se sakit ini sebelumnya. Seolah ada jarum yang menggores menusuk-nusuk bagian tubuhnya. Ah, atau mungkin itu memang jarum kan?
Viocha yang baru tidur mendadak bangun. Suara pekikan kakaknya yang begitu kuat membangunkan dirinya secara paksa. Ada yang aneh dengan teriakan itu. Suaranya melengking menyebarkan rasa sakit, membuat yang mendengarnya bisa sesak.
Mata Viocha mendadak terbuka lebar, padahal dia masih ngantuk berat. Pemandangan matanya yang dia tangkap pertama kali, mampu mengusir kantuk secara ampuh.
Viocha bisa melihat lengan kakaknya yang sudah banjir dengan darah, gaun yang mulanya tanpa ada warna merah, kini di penuhi corak merah kental. Bau anyir darah menyebar ke seluruh ruangan.
Bukan hanya di lengan, punggung dan bahu juga ikut tersayat menyakitkan. Sakit kepala, perih, dan tangisan adalah bentuk ekspresi Viocha saat ini. Dia yang dikenal tanpa ekspresi mengeluarkan raut muka yang begini.
Tentu saja itu karna Tea yang berada di dalam posisi menyedihkan ini.
__ADS_1
"Kakak!" Viocha langsung mendekati Tea saat dia sadar bukan waktunya diam saja. Walau badannya membeku, kesadarannya membatu, dia harus sadar dan sigap menolong Tea.
Saat Viocha semakin mendekat ke arah Tea. Anyir darah juga semakin menyengat, ekspresi kakaknya yang menangis sembari terus berdesis sangat menyesakkan dirinya. Dia rasanya ingin melakukan apa saja untuk menghentikan itu semua.
"Panggil ambulan, telepon Kak Asher cepat!"
Semua yang ada di sana dibuat diam mematung, pasalnya darah sudah membanjiri gaun mewah itu. Gaun yang sebelumnya sangat di idam-idamkan banyak wanita, kini di jauhi banyak wanita pula. Mulut mereka yang sedari tadi memuji keserasian Tea dan gaun itu juga mendadak diam.
"Hey Desainer! Panggil penjaga di depan! Minta dia memanggil dokter! Atau panggil Kak Asher! Ah bukan! Minta dia menyiapkan mobil." Icha yang juga ikut panik, bingung sendiri dengan perintah mana yang harus di keluarkan.
Jenny tersadar seketika. Dia akhirnya memiliki kembali kewarasannya.
"Kalian semua, cepat cari bantuan! Kau laporkan ini pada manajer hotel, minta mereka melakukan pertolongan pertama dulu. Aku akan panggil penjaga di depan!"
Jenny mulai mengatur kembali bawahannya yang sempat teemenung sama seperti dirinya. Kini mereka yang sudah sadar jelas, mulai beraksi sana sini mencari bantuan, mengambil kotak p3k, air dan semacamnya yang di rasa perlu.
"Tadi masih ada pengawal Anumertha kan di depan ruangan. Karna kamar di hotel ini kedap suara, mungkin dia tidak mendengarnya. Dia pasti punya mobil." Jenny ingin segera keluar dari kamar. Namun, pintu yang akan dia buka malah sudah terbuka.
Tidak perlu waktu lama untuknya, sepersekian detik kemudian dia langsung menghampiri Tea.
"Tea?! Ada apa ini!! Viocha! Ada apa ini? Kenapa Tea bisa begini? Si sialan mana yang berani menyakiti istri ku?!"
"Aku tidak tau! Saat aku bangun, Kakak sudah berdarah, dan darahnya semakin banyak! Kaka juga berteriak! Aku tidak tau kakak kenapa." Bela Viocha jujur apa adanya.
"Ash, sakit, ini perih sekali. Aku bersumpah ini sangat perih Ash. Arghhh ..." Lirihan Tea saat ini sangat menyentuh nurani siapa saja yang mendengarnya. Orang yang tidak kenal juga pasti akan kasihan. Sakit dari banyak jarum yang dengan sesuka hati menusuk tubuhnya, sangat ngilu.
Sakit, sesak, darahnya seperti terbakar, kepalanya sudah mau pecah, dia ingin marah pada siapa saja, tapi ini bukan waktunya. Saat ini istrinya sedang mendesis perih menyakitkan.
__ADS_1
Tubuh Asher memang tidak perih, tapi hatinya berdenyut perih. Melihat Tea yang begitu, putri ratanya yang lucu dan menggemaskan, harus banjir darah dengan gaun pengantin yang dia idamkan.
"Barant! Siapkan mobil, telepon Albert cepat! Minta dia menyiapkan ruangannya!"
Asher ingin segera menggendong Tea. Dia mencoba mengangkat tubuh Tea.
"Argh..., " desisnya saat dia yakin ada yang menusuk telapak tangannya.
Asher diam, dia perhatikan baik-baik. Tampak ada jarum perak di tengah gaun yang sudah berdarah itu.
Asher mencbut benda yang berkilauan itu.
"Jarum?" Asher melihatnya dengan dekat. Itu benar-benar jarum yang cukup panjang dengan ujung yang lancip. Setengah bagian jarum itu, sudah kotor dengan darah.
"Sialan! Desainer bodoh! Apa yang sebenarnya kau lakukan! Bagaimana bisa ada sebuah jarum di baju istri ku?! Kau ingin menyakitinya?! Kau berani?!" Asher sudah menajamkan matanya pada sang pembuat gaun.
"Bisa-bisanya kau seteledor ini!!!" Viocha juga angkat bicara. Jika Noel ada, dia pasti sudah mencekik habis wanita ini.
Tidak ada Noel disana, karna Asher memintanya menunggu di mobil. Tadi niatnya, Asher tidak ingin melihat Noel ikut bersamanya. Dia tidak suka kalau Noel dan Tea sampai bertemu. Tapi keputusan Asher tampaknya salah, dia membutuhkan Noel saat ini.
"Bukan satu, ada banyak Ash! Jarumnya ada banyak, tujuh, delapan, tidak ini belasan! Punggung ku rasanya tergores panjang oleh beberapa jarum. Ash ini perih sekali." Tea mengadu dengan hati-hati. Dia tidak ragu, dia yakin jarum itu bukan hanya satu. Ada sangat banyak.
"Kakak! Tolong jangan menangis!!"
"Viocha, tahan mereka semua! Setelah Barant datang, minta dia mengurus segalanya." Asher segera mengangkat Tea.
"Arghh!! Sakit!!"
__ADS_1
Tea berteriak sekerasnya, pasalnya saat dia di gendong oleh Asher. Sedikit gerakan saja membuat banyak luka tambahan.
"Tolong diam sebentar Tuan muda! Kami akan mencabut jarumnya. Mohon anda jangan bergerak. Kalian, cepat cari itu. Maafkan atas kesalahan kami Tuan, tapi anda harus tau bahwa ini bukan pertama kalinya Nona Tea mencoba gaunnya. Dia sudah mencobanya beberapa kali, dan tidak ada yang seperti ini. Tidak ada satupun jarum yang menempel pada dirinya. Tapi, saat kami mencobanya baru saja, untuk yang terakhir kalinya. Malah ada banyak jarum di sini."