
Viocha masih diam, entah apa yang ada di dalam pikiran gadis mungil ini. Pikirannya terlalu sulit di tebak. Siapa yang harus dia pilih? Asisten kakak iparnya yang tampan dan masih berusia dua puluhan. Dan supir kakaknya yang tak kalah tampan, sudah menginjak awal tiga puluhan.
"Oh?" Icha menggumam, dia tampak sadar akam satu hal
Sepertinya dia sudah memutuskan pilihannya. Icha turun darisana, dia membaur ke para hadirin, menarik seorang pria berambut pirang platinum dengan pakaian batiknya.
"Will, ayo dansa? Gantiin kak Tea sama kakak ipar."
Bukan Noel, bukan Barant, yang di datangi dan di ajak Viocha, bukan lain adalah adik beda ibunya, William Zayn Floyena. Adik yang selama ini, dia benci dan tidak dia suka.
William masih diam membatu , dia tidak bisa bergerak seolah kakinya membeku, dia memasang telinganya baik-baik, dia takut yang di dengarnya adalah halusinasi semata, karna dia sangat ingin berdansa dengan Viocha.
"Kak? Kak Icha gak salah ngomong kan? Kakak beneran ngajak Will dansa? Ini bukan prank kan kak? Pendengaran Will gak salah kan, Kak?"
Tentu saja Will harus memastikannya lagi kan? Soalnya itu Viocha loh, bukan Tea yang mengajak Will menari, tapi Viocha.
"Iya ayo buruan gantiin Kak Tea sama kakak ipar, kamu mau gak sih?" Icha mengulangi perkataannya, tidak ada yang tau sebenarnya apa yang selalu ada dalam otak kecil Viocha, apa yang selalu dia pikirkan, dan dari sudut pandang mana dia sebenarnya mencerna suatu masalah, bagaimana cara Viocha menilai baik dan buruk, tidak ada yang tau bahkan Tea sekalipun. Viocha dan seluruh pemikirannya sangat sulit di tebak.
"Aku! Aku mau Kak! Aku mau dansa sama Kakak! Ayo dansa."
William tesenyum sangat lebar, dia tampak tampan dengan senyuman sumringah di wajahnya. Viocha langsung dengan cepat menarik tangan William menuju ke arah Tea.
__ADS_1
"Kak, Kakak ipar aku akan menari dansa pertama dengan William, bukan salah satu dari mereka." Lapor Icha setelah dia memastikan keputusannya, dan memilih pasangannya.
"Cha? Kamu yakin, gak mau sama aku aja? Aku ganteng loh? Aku tinggi, bisa dansa dan mengayomi, melindungi juga." Noel langsung mucul dihadapan Viocha memegang bahunya lembut.
"Nona Viocha, bagaimana kalau pilih saya saja? Saya jauh lebih baik, percaya pada saya, saya bisa jago berdansa." Timpal Barant dengan cepat.
William menatap kedua pria yang mencoba modus pada kakaknya, tatapan benci William keluarkan khusus untuk dua orang yang tidak jelas ini. Sikap waspada dia keluarkan demi menajaga keamanan kakak-kakaknya dari mereka.
"Ada apa sih, kenapa kalian berebut ingin berdansa dengan kakak ku, kakak ku hanya ingin melakukan nya dengan ku. Kalian enyahlah sana, kalian terlalu menggangu. Dan satu lagi, Kak Icha masih sembilan belas tahun. Apa kalian tidak malu mengejar anak remaja saat kalian sudah tua, usia seperti kalian harusnya sudah mengantar anak ke sekolah, bukan lagi merayu anak sekolah."
Deg
Kata-kata William yang tidak di saring itu, sukses besar melukai hati dan harga diri keduanya. Tapi, yang William katakan tidak salah kan? Mereka berdua sudah berada di usia mengasuh anak, bukan untuk merayu anak orang.
"Untung calon adik ipar, jadi bisa di maafin. Kalau gak, saya pites juga kepalanya." Noel tersenyum dengan beban di hatinya. Tangannya gatal ingin menepuk kepala William yang tampan.
"Tidak-tidak! Kakak lebih setuju kalau Icha memang berdansa dengan Will. Kakak sangat setuju dan mendukung keputusan Icha. jadi kalian berdua berdansalah dengan bahagia. Noel ataupun Barant, jangan mengganggu mereka, jika kalian mengganggu aku tidak akan memaafkan kalian. Jadi mundur, dan jauhi Icha dan Will. Kasih mereka berdua ruang gerak." Tea dengan dukungan seratus persen sangat bersemangat. Tidak dia duga-duga, akan tiba hari dimana kedua adiknya yang biasa ribut, kini akam berdansa bersama di sana.
Mana mungkin Tea akan melewatkan momen langka dan bermakna yang jarang sekali ada. Mungkin saja, tidak akan ada ke depannya. Makanya selagi Viocha mau, lakukan saja, di banding tidak sama sekali untuk selamanya.
Jangan tanyakan betapa istri Asher itu sangat bahagia. Sepertinya salah satu impian terbesar nya akan segera terwujud walau tidak dalam waktu dekat. Tapi setidaknya, ada satu langkah kemajuan dalam hubungan kakak adik itu.
__ADS_1
"Non, kan tadi Non dukung saya. Gimana sih?" Tentu saja Noel yang sudah tinggi harapannya protes. Ini adalah satu bagian dimana dia harusnya bisa melancarkan modusnya.
"Tutup mulut mu supir. Sekarang lebih baik, umumkan bahwa Kedua adik ipar ku yang akan mewakili kami untuk dansa pertama." Titah Noel sudah turun, dan akhirnya yang menjadi pasangan Viocha adalah William.
--
Musik sudah berbunyi, mereka sudah menerima bahwa Icha dan Will yang akan melakukan dansa pertama. Ada sebagian tamu yang terkejut pasalnya, mereka kira bagian ini akan di lewatkan, mengingat sang pengantin wanita sedang dalam konsdisi tidak prima. Tapi, siapa yang menduga, bahwa akan ada penggantinya? Yah, pokoknya tamu lain merasa terhibur, karna ini salah satu cara mereka untuk mengenal anak orang kaya lainnya, dengan status yang sama dengan mereka. Hubungan kerja sama dan bisnis sering terjadi melalui pernikahan saling menguntungkan kan?
Tapi, meskipun banyak yang senang, ada yang tidak senang dengan pasangan pengganti ini. Tentu saja mereka adalah Neila dan Vallen, mereka pikir, itu harusnya menjadi hak mereka, mengingat mereka lebih tua dan mereka berasal dari garis keturunan Anumerta. Tapi, siapa yang sangka? Malah kedua adik Tea.
Meskipun Neila dan Vallen sangat marah, kesal dan merasa dipermalukan, mereka belum bisa mengambil tindakan apa-apa kan? Setelah melihat Yelena di buang dan berakhir dengan menyedihkan, mereka juga memutuskan untum hati-hati dan jaga emosi.
"Mereka sangat manis ya? William juga sangat senang, keduanya terlihat bahagia." Ujar Tea saat melihat kedua adiknya menari di tengah sana. Gerakan nya agak kaku memang, mungkin karna keduanya tidak pernah berdansa bersama? Ah bagi Tea peresetan gerakannya. Will dan Icha menari bersama adalah kebahagiaan besar untuk Tea.
Siapa yang tidak senang saat salah satu harapan besarnya terwujud kan?
"Apaan yang serasi? Non gak liat muka Icha datar dan di tekuk, yang senyum cuma bocah itu Non. Yang bahagia cuma Non sama bocah itu. Ichanya saya tampak menderita." Protes Noel, dia masih belum terima posisinya di rampas begitu saja oleh bocah berusia belasan tahun.
"Diamlah Noel, kau harusnya dalam usia sudah mengantar anak sekolah, bukan mengomentari orang berdansa." Celetuk Tea enteng.
Asher mencoba menahan tawanya, dan Noel yang menahan malunya.
__ADS_1