
"Viocha! Cha, ini Kakak, tolong bukain, Cha!"
Tea masih menunggu di luar, hari sudah semakin sore dan Tea masih berdiri disini. Di depan toko bunga. Sudah hampir setengah jam Tea berdiri didepan sana.
Setelah berbincang ringan dengan Ely, Tea kembali lagi ke rumahnya. Tea tau, adiknya Viocha memang selalu kekanak-kanakan. Bahkan Tea tau Will lebih dewasa dalam pola pikir dibanding Viocha.
Tapi itu bukan kesalahan Icha, itu adalah kesalahan Joselyn yang memperlihatkan jelas ketimpangan kasih sayang antara William dan Viocha. Belum lagi trauma kejam yang selalu menghantui gadis yang baru menginjak usia sembilan belas tahun ini.
Tea sadar, sampai mati pun dia tidak akan mengerti trauma keji yang membayangi adiknya. Dan bahkan sampai saat ini, Tea belum mampu menghapus kenangan kejam itu dari pikiran Viocha. Membuatnya menjadi anak yang pendiam, introvert, dan sensitif terhadap orang asing apalagi lawan jenis.
Tea mengambil kunci yang sedari tadi tersimpan manis didalam tasnya. Dia membuka pintu, dengan perlahan masuk menyusuri rumah yang nyaris tidak ia pijak selama dua puluh empat jam. Tea tetap menunggu karna ingin Viocha sendiri yang membukanya, Tea akan menghargai segala keputusan yang Viocha ambil, termasuk menghukumnya berdiri di depan rumah.
Tea membuka pintu kamar adiknya, gelap, suram, dan sepi, menyebalkan sekali. Tapi Tea tidak bisa apa-apa, karna suasana kamar seperti ini yang Viocha inginkan. Tea sudah berusaha yang terbaik untuk membawa Viocha ke beberapa psikiater, tapi Viocha selalu menolak, dia tidak suka di anggap gila. Menurutnya dia baik-baik saja dan dia waras.
Bahkan Tea juga sering meminta Viocha untuk membuka jendela agar cahaya masuk, tapi tidak juga. Viocha tidak suka cahaya.
Tea duduk disebelah Viocha yang sedang berbaring, mata gadis itu bengkak, wajahnya kusam. Tea menyentuh bantal yang dipakainya.
"Basah..., banget? Berapa lama kamu nangis Cha?"
Tea semakin merasa bersalah karna meninggalkan adiknya dalam kondisi seperti ini. Dia tidak bisa memilih antara Viocha dan William, mereka berdua sama-sama adik yang berharga untuk Tea. Tapi, melihat kondisi Viocha yang memprihatinkan membuat Tea meragukan keputusannya.
"Harusnya Kakak selalu ada buat Icha, maafin Kakak. Semuanya salah Kakak, Kakak sama sekali gak ngerti perasaan Icha. Kakak cuma coba lakuin yang terbaik buat kesembuhan William. Dia nyaris mati Cha. Kakak gak akan minta kamu mengerti kondisi Will, kalau kamu mau kamu bisa tetap benci Will. Tapi jangan kurung diri kamu gini Cha, Kakak sakit, di sini sakit banget lihat kamu begini." Elusan hangat yang lebih hangat dari mentari di musim dingin menyapa kepala Viocha.
Tea tak kuasa membendung air matanya. "Maafin Kakak, Kakak gak bisa jadi Kakak yang sempurna buat Viocha. Tapi Kakak janji bakal lakuin yang terbaik buat Icha! Meskipun kita pisah rumah, Kakak janji akan ke sini setiap hari nemein Icha."
Tea melepas sepatunya, dia ikut berbaring disebelah Viocha. Masih memeluk erat adiknya itu.
...***...
__ADS_1
Tea terbangun, dia membuka jendela kamar Viocha. Sudah nyaris malam. Dengan cepat Tea kembali memakai sepatunya.
"Kakak pergi dulu ya, besok Kakak ke sini lagi. Kamu jangan lupa makan ya."
Tea berjalan cepat, namun langkahnya terhenti saat ingin menuruni tangga. Tea berjalan ke dapur. Tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Tea mengikat asal rambutnya dengan karet gelang yang biasa dipakai mengikat nasi uduk itu.
Tea membuka kulkas, secara cepat memasak nasi goreng untuk adiknya tercinta. Dengan sebuah surat indah dimeja makan, Tea menyampaikan isi hatinya, mengemis maaf adiknya.
Saat yakin semuanya sudah rapi dan nasinya sudah tertutup tudung saji, Tea melanjutkan jalan pulangnya. Dia benar-benar berharap adiknya memakan itu.
Setelah memarkirkan mobil di garasi mansion, Tea ingin berjalan masuk. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang sedang duduk di bangku taman dekat pohon tak jauh dari air mancur.
Tea yakin itu bukan hantu, makanya dengan gagah berani dia berjalan menuju orang itu. Benar saja, saat Tea sudah sampai dibelakang pria itu, Tea tau siapa dia dari harum parfumnya yang memggelitik hidungnya sepanjang malam.
"Hey...? Kau udah pulang? Tumben?" Tea tanpa izin sudah duduk di sebelah pria itu, Asher suaminya.
"Kau yang baru menikah dan tinggal semalam dengan ku tau apa soal jadwal pulang ku?" Suara dingin yang menyebalkan itu terdengar lagi.
Asher menatap Tea aneh, dia menggelengkan kepalanya. "Jangan berkata seolah kita menikah karna cinta."
Tea hanya menampilkan cengiran manisnya.
"Kau darimana baru kembali? Jangan bilang ke dokter untuk membentuk tubuh mu?"
Senyuman manis yang tadi hadir di wajah Tea mendadak sirna seketika. Perkataan menohok presdir hebat ini benar-benar nyelekit.
"Kenapa aku harus repot-repot mengubah diriku? Aku udah sempurna tau! Kalau kau gak bisa liat kesempurnaan aku, itu artinya ada yang salah dengan matamu bukan tubuhku." Tea beranjak bangkit dan ingin pergi. Menyebalkan sekali berbicara dengan pria ini.
Namun tiba-tiba Asher menahan tangannya. "Jangan berpikir untuk makan lebih dulu, aku tau kau pasti makan seperti tikus yang kelaparan tanpa memikirkan orang lain." Asher bangkit berdiri, menarik Tea untuk masuk.
__ADS_1
-
-
-
Setelah selesai mandi, Tea akhirnya makan malam di rumah ini. Ini pertama kalinya Tea makan bersama Asher. Terdapat tiga pelayan yang berdiri di sekitar mereka untuk melayani keduanya. Orang kaya memang beda. Tea harus mencoba membiasakan diri kan? Soalnya dia kan gak mau cerai.
"Kalian boleh pergi." Meskipun begitu, biarkan kebiasaan itu bertahap. Tea tidak nyaman jika makan seperti itu.
"Tapi Nona, ka--"
"Pergilah." Potong Asher cepat menggerakkan tangannya, mengisyaratkan ketiga pelayannya untuk hilang dari pandangan mereka.
"Hey Asher? Aku penasaran, kenapa kau bisa putus dari mantan mu? Padahal kau tampan, kaya dan bucin akut. Kenapa dia meninggalkan mu?"
Sudah dibilang, Tea adalah gadis petakilan yang hobinya ceplas-ceplos. Dia tidak bisa menahan dan memikirkan sesuatu masalah hingga berlarut-larut. Jika dia penasaran dia akan bertanya, tak ada gunanya penasaran sendiri setengah mati.
Dipikirkan bagaimanapun dan dari sudut pandang manapun, bukannya perempuan itu gila ya? Dia menolak pria tampan yang kaya raya apalagi bucin akut.
"Karna dia mempunyai orang yang dicintainya setu~lus hati." Sahut Asher enteng. Ada nada yang aneh dalam kata tulus yang diterangkan Asher.
"Ha? Jadi maksudmu dia udah punya pacar baru?"
"Iya."
"Bukannya kau bilang, kau bakal jadiin dia sebagai istri sah mu?"
"Iya."
__ADS_1
"Caranya gimana?"
Asher meletakkan alat makannya, dia menatap mata Tea lekat-lekat. "Kau serius bertanya soal itu? Aku ini Asher Vinchete Anumertha, apa yang aku inginkan harus aku dapatkan tidak perduli bagaimanapun caranya. Dan soal Eve? Itu mudah, aku kan tinggal merampasnya saja. Kalau masih gak bisa juga, aku kan tinggal menghilangkan pria yang dia cintai dari hadapannya."