Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
71. ....


__ADS_3

"Ada apa ya? Kenapa anda malah bawa saya dan bukan asisten anda itu?"


Noel akhirnya mengeluarkan pertanyaan itu, setelah mobil yang dia kendarai dengan Asher di belakang sebagai penumpang, sudah berjalan cukup lama di lalu lintas padat kendaraan.


Dia sendiri sudah tidak nyaman, hanya berdua dengan Asher. Lebih baik dia berada di sisi Non kesayangannya saja.


Barant sialan! Bisa-bisanya dia ngambil posisi ku! Liat aja nanti, batang lehernya pasti bengkok.


Noel hanya mampu mengumpat dalam hati, soalnya ada Asher dan segala kekuasaan yang dia pegang, sedang berada di belakangnya. Noel tau jelas, bahwa Barant adalah pegawai asisten yang sudah menetap dengan Asher selama empat tahun. Padahal sebelumnya Asher bolak balik ganti asisten. Dia yang sudah mempekerjakan Barant dengan lama, tentu nyaman dengan kinerja orang itu. Noel tidak boleh sembarangan menghinanya.


"Tidak ada, aku hanya cemburu. Aku menjauhkan mu dari istri ku, karna aku tidak suka melihat mu di dekatnya." Sahut Asher enteng, dengan dirinya yang masih fokus menatap benda persegi yang serba bisa dan sangat ajaib.


"Anda memecat saya karna anda cemburu? Anda kelewatan kan? Saya serius loh waktu bilang saya akan melamar Viocha akhir tahun nanti."


"Hem, begitu ya? Sepertinya aku harus menjauhkan mu juga dari adik ipar ku. Dia cantik dan dia menarik, dan aku memiliki banyak kolega muda yang tampan dan berbakat. Untuk apa aku menyerahkan adik ipar ku pada mu." Asher juga tidak peduli, menurutnya Noel tidak layak menjadi adik iparnya kelak. Bukan tidak layak, lebih tepatnya dia tidak suka orang-orang suruhan kakeknya.


"Terserah apa kata anda, pokoknya saya bakal nikah sama Viocha. Anda maupun Non Tea cukup beri restu saja, gak usah main drama setuju dan gak setuju."


"Menyebalkan sekali, sangat keras kepala. Kau ingin restu?" Asher sudah tampak agak serius saat ini.


"Apa keinginan anda?" Noel juga sudah menajamkan matanya, dia menatap wajah Asher yang sangat tampan dari pantulan cermin di atasnya.


"Selidiki soal Morgan. Aku dengar kau mata-mata tingkat atas. Buktikan padaku bahwa itu benar, dan bukan hanya omong kosong semata. Jika kau gagal, jelas sekali organisasi yang kakek tua itu dirikan, hanya berisi omong kosong dan orang-orang tidak berguna." Asher menyungginhkan senyuman provokasi. Meskipun terlihat jahat dan licik, sialnya dia masih tampan.


Pantas aja kalau orang udah goodlooking, mau kelakuan salah atau benar, tetap aja di bela.


Batin Noel, yang harus dia akui, dia kalah tampan dengan pria di belakangnya. Kalah tampan, kalah tahta, juga kalah harta.

__ADS_1


"Jadi anda membawa saya sejauh ini hanya untuk menggunakan saya? Berkelit-kelit sekali. Kalau memang niat awalnya itu ini, ingin menggunakan keahlian saya untuk merampas informasi. Anda kan tidak perlu sampai memecat saya dan menjauhkan saya dari Non Tea. Bahkan sampai memisahkan saya dari Viocha yang adalah calon istri saya. Anda kelewatan sekali."


Noel menghela napasnya. Ada sedikit kelegaan yang menyapa di hatinya, restu mungkin saja di dapat, apalagi pekerjaan mungkin juga kembali di tangan, kan?


"Kalau saya berhasil memuaskan anda dengan segala informasi yang saya punya. Tolong kembalikan saya menjadi supir Non Tea, dan restui hubungan saya dengan Viocha." Noel semakin tidak tau diri, dia mulai berani mengajukan penawaran pada seorang Asher Vinchete Anumertha. Dia merasa ini adalah kesempatan emas yang diberikan padanya, untuk mengambil kembali posisinya yang hilang.


"Tugas mu di batalkan. Lebih baik aku menyeleksi orang lain saja, di banding harus menjadikan mu supir istri ku lagi."


Tentu saja Asher akan menjawab begitu. Apa yang Noel pikirkan selama ini?


Padahal Asher sudah sedari dulu mencari celah dan kesempatan untuk memecat Noel, mana mungkin dia menerimanya kembali setelah kesempatan yang ia nanti-nantikan datang. Dan pada akhirnya supir menyebalkan itu pergi.


"Maaf Tuan, tolong beri saya restu dengan Viocha saja." Noel dengan segera mengubah permintaannya. Dia terlalu serakah untuk mendapatkan keduanya. Lebih baik dia mendapatkan salah satunya, daripada tidak sama sekali.


"Ck! Ada yang tertinggal di hotel, putar balik lebih dulu." Asher mendecak kesal, dia menatap jam tangannya yang entah kenapa cepat sekali memutarkan waktu.


-


-


-


"Icha ngantuk kak, mau sleep. Tadi malam begadang main game." Icha melemparkan dirinya begitu saja di kasur. Dia tidak lagi peduli apa yang terjadi saat ini. Dia hanya peduli soal tidurnya dan menghilangkan kantuk itu sesegera mungkin.


"Aduh, anak ini. Makanya kalau malam tuh tidur, ini malah yang aneh-aneh aja." Meksi Tea mengoceh tidak jelas, Viocha tidak lagi dengar karna dia sudah menyebrang ke alam lain dengan sangat cepat. Rasa kantuk memang tidak ada duanya.


Tea memakaikan adiknya selimut sampai ke perut, lalu mengusap kepalanya lembut.

__ADS_1


Ketukan di luar pintu membuat Tea beranjak, dia membukanya. Tampak beberapa orang termasuk desainer yang mengatur gaunnya saat ini. Ada dua hingga empat gaun kalau Tea sanggup memakainya, gaun-gaun itu, di luar gaun utama.


"Oh? Anda? Ingin mengantar gaun? Silahkan." Tea mempersilahkan mereka masuk. Para perempuan tentunya, dan Barant hanya di luar saja.


"Terima kasih Nona." Desainer itu juga langsung masuk. Jenny, nama desainer itu, dia melirik sekilas ke arah Viocha. Tentu dia kenal, siapa bocah yang tengah tidur manis di sana. Dia adalah adik ipar Tuan muda Asher Anumertha, dan Jenny sudah membuatkan dua gaun untuk anak itu pakai. Makanya dia mengenalnya.


"Apa ini sudah semua gaunnya?" Tea melihat-lihat, gaun yang kini mulai di susun rapi, dengan sangat hati-hati. Gaun-gaun itu adalah pakaian yang akan Tea pakai besok hari. Dia akan menjadi ratu untuk satu hari.


"Iya, dan Nona. Apa saya bisa meminta suatu hal? Tolong coba pakai gaun utama anda. Ini untuk memastikan tidak akan ada yang kurang, semuanya sempurna pas dan sangat nyaman." Jenny menunjukkan gaun itu pada Tea.


Aw! Apa itu tadi? Seperti ada yang menusuk?


Batinnya saat ia yakin telapak tangannya seperti tersakiti.


"Apa aku harus memakainya lagi? Aku sudah mencobanya berkali-kali."


"Anda harus memakainya saat ini, agar saya yakin tidak ada kekurangan dan semuanya aman dan nyaman." Jenny tersenyum manis.


Tea tidak kuasa menolaknya, karna dia tau betapa gaun itu sangat penting bagi keberlangsungan bisnis Jenny.


"Baiklah."


"Anda bisa menggantinya di sini saja. Kami akan membantu anda."


Langkah demi langkah pergantian baju itu terlaksana. Dan pemakaian gaun sudah mulai di coba.


Deg!

__ADS_1


"Akhhhh!!!!!" Tea berteriak sekerasnya saat gaun itu menempel sempurna di badannya.


Semua yang ada di sana dibuat diam mematung, pasalnya darah sudah membanjiri gaun mewah itu.


__ADS_2