
Asher menghela napasnya, dia mengikuti perkataan Tea dan membalikkan badannya, dengan cepat Tea mengambil handuk putih lembut tak jauh darinya, melilitkannya asal-asalan asal bisa menempel dengan cepat.
"A-ayo...," wajah Tea memerah, itu sudah menggoda. Apalagi dengan dia yang hanya memakai handuk sepaha, membuat kaki jenjangnya terpampang mulus. Itu sempurna untuk melakukan malam pertama.
"Jangan minta berhenti di tengah-tengah." Asher mengangkat Tea, menciumnya sembari berjalan ke ranjang mereka.
Asher meletakkan gadis itu diranjangnya, sembari terus mencumbu bibirnya, Asher dengan leluasa membuka handuknya, membuat Tea langsung menarik selimutnya. Dia melotot ke arah Asher yang seenaknya, Asher hanya tersenyum menyebalkan.
"Jangan khawatir, ini sangat pas di tangan." Bisik Asher di tengah-tengah itu. Tea tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya semakin lama semakin panas. Belum lagi tangan Asher yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat dirinya geli.
Asher menghujani wajah Tea dengan kecupan, dan belaian yang lembut.
"Tubuh mu sensitif sekali, tapi baru sebentar sudah sepanas ini."
Apa yang Asher katakan benar. Tea bahkan bisa merasakan dalam tubuhnya yang terbakar, dia sangat lemah saat ini.
"I-itu karna kau!"
Apa yang harus Tea katakan lagi? Asher menjelajahinya seperti seorang ahli, tidak ada satu inci pun yang suaminya lewatkan.
"Benar juga, itu karna aku."
Namun Asher merasa suhu tubuh Tea semakin lama semakin tidak normal, itu bukanlah suhu tubuh panas hubungan badan.
Tea juga merasakannya, panas ditubuhnya semakin tinggi, dan tubuhnya yang lemah. Tapi dia tidak kuasa menghentikan Asher, atau lebih tepatnya tidak ingin berhenti. Namun, perlahan Tea kehilangan kesadarannya.
"Hey putri rata?" Asher memeanggil nama Tea beberapa kali, namun gadis itu masih tetap diam. Tapi, panggilan atau perbuatan Asher barusan sama sekali tidak di gubriss oleh Tea.
Asher mendekatkan wajahnya ke wajah Tea, menempelkan keningnya ke kening gadis yang ia tindih saat ini. Jangan tanyakan tangannya kemana? Lagi sibuk loh, masa ga tau.
"Panas? Demam?"
Asher akhirnya mempergunakan tangannya untuk memastikan suhu tubuh Tea. Dia mengambil termometer di laci meja dan langsung mengukurnya.
"39?"
__ADS_1
Asher membaca angka yang tertera. Dia menghentikan segala kegiatannya barusan, mengambil ponsel yang berada di meja kecil.
"Datang ke rumah cepat, jadilah dokter yang baik, kalau gak mau rumah sakit mu ditutup." Hanya itu yang Asher katakan. Sepertinya dia pas pelajaran bahasa indonesia soal tata krama berbicara dia bolos deh, harusnya kan pembuka, basa-basi, inti lalu penutupan. Tapi dia langsung ke intinya saja? Tanpa penutupan lagi, Ah, dia kan Asher.
Asher bahkan langsung menutupnya setelah dia mengancam, tanpa mendengar jawaban sang dokter apakah dia sibuk atau tidak.
Asher segera memgambil pakaian Tea, dia memakaikannya dengan susah payah. Kenapa harus dia? Dia kan bisa panggil pelayannya.
-
-
Asher sudah mengompres Tea dengan air saat ini, setelah dia menghebohkan satu Mansion bahwa Tea demam. Sheila-pelayan Tea langsung menyarankan untuk mengompresnya. Yah, hanya Sheila yang berani, sisanya takut semua pada Asher.
*tok tok tok
"Buka itu." Titah Asher pada Sheila yang sedari tadi setia disebelahnya.
Sheila berjalan ke pintu, tentu saja dia sudah tau dokter itu siapa? Karna dokter itu adalah dokter pribadi Asher, yang sering dia panggil ke rumah.
"Selamat datang dokter Albert, Tuan muda ada di dalam." Sheila sempurna sebagai seorang pelayan.
"Apa lagi? Kali ini wajah mu tertimpa berkas? Atau tangan mu tergores kertas?" Albert yang tau tabiat temannya ini, tentu saja langsung memarahinya. Apa Asher tidak tau dokter itu sibuk?
Namun saat Albert berjalan mendekat ke kasur, dia berhenti seketika, ocehannya diam, matanya hanya terpaku pada Asher yang merawat Tea dengan telaten. Dia nyaris tidak percaya apa yang dia lihat saat ini.
"Serius ini kau Ash? Seorang Asher Vinchete Anumertha, mengurus seseorang?"
Asher melirik tajam ke arah pria itu. "Tutup mulut mu, periksa dia, kalau sampai dia tidak membaik sampai besok pagi, rumah sakit mu aku tutup."
"Hey...! Itu kelewatan!"
Asher tidak menjawab, dia hanya terus melemparkan lirikan tajam, bukti bahwa Albert tidak boleh main-main karna Asher serius atas perkataannya.
"Siapa dia?" Albert mulai memeriksa denyut nadi Tea, memastikan suhu tubuhnya dan detak jantungnya.
__ADS_1
"Istri ku."
"Ah ya, aku memang sudah mendengarnya, kau sudah menikah paksa karna kakek mu kan? Aku pikir kau akan memberikannya rumah mewah diluaran sana, tidak disangka kau malah membawanya ke Mansion, dan bahkan tinggal dikamar mu. Bahkan Eve saja tidak pernah bermalam disini."
"Diam dan periksa dengan baik." Asher masih setia berada disebelah Tea, tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Tuan muda, sepertinya Non Tea tadi belum makan. Jadi saya sudah meminta pelayan dapur membuatkan sup atau bubur, saya izin untuk memeriksanya." Sheila tidak kuat ada dipertengkaran dua sahabat ini.
"Pergilah."
"Seperti biasa, Sheila kita memang selalu bisa diandalkan. Jadi, apa udah ada jawaban atas lamaran saya?" Albert menghentikan tangan Sheila.
"Saya menolak." Sahut Sheila enteng dan tegas, lalu berjalan keluar dari kamar.
Albert menghela napas, entah sudah berapa kali dia ditolak oleh Sheila.
"Menyedihkan."
Satu kata Asher itu mampu membuat dokter itu ingin sekali menyuntik sang pengusaha hebat ini.
"Stok suntik rabies banyak loh di rumah sakit? Mau coba?"
"Bagaimana keadaannya?" Asher tidak peduli, dia hanya ingin tau kondisi putri ratanya.
Albert melihat Tea dan segala jenis jejak yang Asher tinggalkan di leher putih gadis itu.
"Bahkan saat dia demam, kau memaksanya untuk berhubungan badan? Kau gila? Aku tau kau tidak mencintainya, tapi menyiksanya begitu? Aku tidak ingat kau punya obsesi terhadap yang seperti itu. Seingatku kau bahkan masih perjaka, aku ingat kau menampar keras wanita di bar yang menempel pada mu." Albert melihat Asher heran.
"Apa demamnya tinggi? Apa dia besok bisa lebih baik? Wajahnya pucat sekali?" Asher mengusap kening Tea lembut.
"Hey kau bahkan hanya mengatakan 'oh' saat Eve pingsan!"
"Oh? Dia pernah pingsan ya?" dari wajah Asher, tampak jelas dia pernah melupakan kejadian itu.
Albert sudah tidak habis pikir. Dia menatap Tea dengan seksama. "Bukannya dia jauh dari tipe mu? Kau yang terobsesi pada kesempurnaan, tubuh, wajah, sifat elegan dan pintar, semua itu ada di Eve. Apa kau sudah memutuskan untuk melepaskan Eve?"
__ADS_1
"Kau bercanda? Bahkan aku akan tetap memilikinya walau dia menjadi mayat."
Asher memang sudah tidak waras.