
"Berapa usia mu?"
"19 tahun, tahun ini." Jawab Viocha saat Asher bertanya cukup serius.
Asher melirik ke arah Noel.
"Kau? Berapa usia mu?"
"32 tahun ini Tuan muda."
"Tea katakan pada adik mu, aku punya banyak kenalan pengusaha muda kaya raya yang tampan. Apa dia harus bersama om-om yang tua seperti itu?"
Noel mendelik seketika. "Apa anda tidak tau? Bahwa Om-om lebih menggoda?"
"Adik ipar, apa menurut mu dia menggoda?"
Viocha menggeleng sekali. "Dia membosankan."
"Kau dengar? Keluar!"
Apa yang baru saja terjadi? Noel baru saja sakit hati karena dikatakan tua, dan dia memaafkan penghinaan itu karna yang penting dia ada di dalam? Tapi, apa yang terjadi saat ini? Dia di usir keluar? Pernakah tau Asher perasaan supir ini?
"Non Tea ..." Noel sudah mengeluarkan kemampuan menjilatnya. Dia tau meskipun Non nya agak gak normal, tapi dia yakin Non kesayangannya adalah pemilik hati paling lembut diantara orang-orang ini.
"Kau ingin membelanya? Ingat berapa gerakan yang akan ki--"
"Tunggu! Noel keluar!"
"Kok rasanya posisi saya di ambil ya sama Tuan muda?"
...***...
Tea saat ini sudah berada di parkiran dengan Asher. Awalnya mereka hanya ingin pergi berdua, namun karna Tea ingin Icha ikut, Viocha juga berakhir dengan kedua orang tua itu.
Asher baru saja ingin menyetir sendiri, namun langkahnya di halangi oleh sang pemegang kuasa utama. Siapa lagi kalau bukan Kakek Bryan Kert Anumertha.
Kakek sudah memblokir jalan Asher, dengan Noel yang mengembangkan senyumannya.
"Aku sudah memecatnya, maka dia dipecat."
Asher langsung ke intinya sebelum bujukan kakeknya turun.
"Berapa saham yang saat ini kau pegang?"
__ADS_1
Kakek mengabaikan segala peringatan Asher, dan beralih ke hal yang paling Asher sukai.
"25 persen."
"Aku tambah dua persen jika dia kembali menjadi supir Tea."
Apa?! Kakek memberi saham dua persen hanya demi Noel kembali jadi supir Tea? Jika Vallen atau Morgan mendengarnya, telinga mereka pasti sudah terbakar seketika. Bisa-bisanya membuang saham seenak membuang permen.
"Nggak. Ayo Tea,"
Dan apa yang Asher katakan? Dia sang brengsek uang menolak saham bernial miliaran hanya demi agar Noel menjauh dari istrinya?
"Tiga persen!" Kakek membujuk lagi. Noel bahkan sudah tidak bisa berkata-kata. Dia pikir saat Kakek sudah menawarkan saham semua masalah selesai.
"Tea, jalan mu lambat."
Asher menarik Tea yang tidak menggerakkan kakinya karna ada Kakek disana. Tidak sopan bagi Tea untuk melewatinya dan meninggalkannnya begitu saja.
"Ash, aku rasa aku butuh supir."
Tea angkat bicara, berharap Asher mengerti dan memungut Noel kembali.
"Aku akan minta Barant jadi supir mu?"
Kejam sekali Asher, apa dia benar-benar tidak merasa berdosa pada supir yang selalu setia.
"Tunggu! Kenapa harus dia? Kan ada saya di sini Tuan muda. Biarkan saja dia membantu Anda di kantor dan saya menjaga Non Tea dimanapun Non berada."
Noel juga angkat bicara, dia pikir dia sudah tenang dan aman saat Kakek melempar saham yang merupakan hal kesukaan Asher. Dia pikir dengan saham dia akan kembali ke kursi kemudi dimana ada Nonnya duduk dibelakang. Nyatanya? Tidak Noel! Tidak semudah itu!
"Berisik."
"Tunggu, kalau begitu biarkan dia menjalankan tugasnya untuk hari ini saja, anggap ini hari terakhirnya." Kakek masih berusaha meletakkan Noel yang dia percaya di sisi Tea.
"Ya, terserah."
"Kemana kalian akan pergi?"
"Hotel Hyunan Kek, mau mempersiapkan pesta pernikahannya. Kakek ingin ikut?" Tea bertanya dengan ramah.
Namun Kakek menggeleng dengan lembut. "Ada beberapa hal yang harus Kakek kerjakan, kalian pergilah. Saat ada waktu senggang, Kakek akan membantu mempersiapkan pestanya. Jika ada yang kurang, atau ada yang diperlukan, laporkan saja pada Kakek."
"Kenapa lapor? Itu tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri."
__ADS_1
Noel hanya bisa menatap pasrah saat Asher membukakan pintu mobil untuk Tea. Padahal itu kan harusnya menjadi posisinya.
Noel membukakan pintu untuk Icha yang akan duduk di sebelahnya. Tidak apa-apa, setidaknya bagian positifnya adalah Icha disisinya.
...***...
Entah sudah berapa kali Tea takjub saat melihat bangunan megah ini, ada beberapa lukisan dengan bingkai emas yang terpajang di tempat-tempat khusus. Lukisan abstrak yang indah, dan menggetarkan jiwa terpajang di dinding lorong.
Entah Viocha tidak takjub atau dia memang takjub, tapi tidak bisa berekspresi karna wajahnya memang begitu.
Kalau Noel berusaha terlihat takjub, demi menipu Viocha dan Tea. Padahal Asher jelas tau, bahwa Noel sering bolak-balik ke sini menyelesaikan serangkaian tugas, dan semacamnya. Yah pokokya tugasnya.
Dan Asher juga biasa saja, tak jarang dia bertemu utusan negara lain untuk memulai bisnis di sini.
"Silahkan Non."
Noel membuka pintu kamar yang sudah Asher pesan sebelumnya. Sudah ada ahli dekorasi di dalam sana.
"Baik, jadi Tuan muda dan Nona muda mau pesta bertemakan apa? Cinta yang abadi? Cinta kita bersemi di ujung musim semi? Cinta murni yang tulus? Pernikahan karna cinta?"
Tanya sang ahli dekorasi setelah sebelumnya mereka sedikit berbasa basi membahas nama, makanan kesukaan dan sedikit trend akhir-akhir ini.
"Bisa tolong sederhanakan saja temanya? Kok agak ribet ya namanya?"
Tea bahkan sudah merasa geli dengan tema dekorasi yang ahli ini ucapkan.
"Baiklah, atau cinta di padang bunga? Tema yang baru kami kembangkan, kami akan memakai banyak bunga, bunga asli yang digunakan dengan kualitas terbaik, anda pasti suka. Sangat sederhana, tampak murni dan indah di pandang oleh mata."
"Gak sesuai selera Icha Kak, membayangkannya Icha gak suka." Ceplos Icha saat bentangan imajinasi itu sudah hadir dikepalanya.
"Icha bosan liat bunga mulu, gak di rumah, gak di pesta."
Icha kan saat ini menjadi pemilik toko bunga kecil di rumahnya? Pemilik toko bunga gak suka bunga? Wah...!
"Oh Icha gak suka tema yang ada bunganya? Terus Cha suma tema gimana? Biar bisa saya persiapan pas nikahan kita akhir tahun nanti." Timpal Noel yang mendekat ke arah Icha yang duduk di sebelah Tea.
"Mau menjauh sendiri, atau kau angkat kaki dari ruangan ini?"
"2 meter cukup kan?"
Noel menjauh seketika, dia trauma sama perkataan Asher yang mengandung ancaman dan jelasnya ancaman itu akan terlaksana.
"Aku sudah pikirkan, pestanya haruslah mewah. Buat siapa saja yang melihat dekorasinya tidak akan melupakannya, tema pestanya adalah 'Lihat aku kaya!' bagaimana menurut mu Tea?"
__ADS_1
Siapa yang bisa mengatakan ini dengan percaya diri jika bukan orang itu?