
Tea tersentak halus, entah sejak kapan Asher yang dingin ini berubah menjadi manis dengan segala kalimat puitis menggelikan versi dirinya.
"Kalau begini terus, aku bisa mencintai mu." gumam Tea.
"Bukan bisa mencintai ku. Tapi kau memang sudah mencintai ku, kan?" Asher menarik sudut bibirnya. Dia merangkul Tea di pinggangnya. Asher sudah menghapal luka-luka di punggung istrinya, jadi dia tau bagian mana yang tidak sakit, hingga dia tidak perlu ragu dan takut. Astaga, Asher memang suami yang bisa diandalkan.
"Apa yang terjadi? Bukannya dia katanya terluka? Kenapa ada? Dan kenapa semua orang menyambutnya! Kenapa pestanya mewah sekali, lebih mewah dari pesta pernikahan kita." Gumam Neila yang sudah amat sangat kesal, jika dia bisa dia ingin sekali melempar minuman yang kini di pegangnya.
"Diam Neil, kita akan habis jika ada yang mendengar ucapan mu barusan. Diamlah, posisi mereka sangat menguntungkan sekarang." Vallen mencengkram kuat lengan istrinya yang tidak bisa mengatur emosi dan menjaga ucapannya. Vallen sendiri berusaha keras menjaga mimik wajahnya demi nama baik yang tersisa.
Tapi, istrinya malah terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, tentu harus di beri penjelasan kan? Sebuah cengkraman kuat contohnya.
"Kau berani menyakiti ku? Kau sepertinya lupa siapa ayah ku, dan putri siapa aku ini?" Neila juga tak ingin kalah, dia menggeram kesal.
"Kau ingin membahas darah keturunan? Kau tau aku putra siapa? Aku, putra sulung keluarga Anumertha. Jadi diamlah."
"Ya, kau memang putra sulung dan sah, tapi kau selalu kalah pada putra bungsu dan anak haram. Kau menyedihkan."
"Kau...!" Vallen ingin menampar wajah istrinya di tengah-tengah sana. Namun, syukurlah ada Morgan yang menahannya.
"Sabarlah Kakak, Kakak ipar. Kalian tenang, saat ini yang kalian lakukan hanya mempermalukan diri kalian sendiri. Kalian tidak ingin menjadi pusat perhatian karna pertengkaran rumah tangga kan?" Morgan menepuk pundak keduanya. Dia menatap lurus ke arah Tea dan Asher yang berjalan dengan sangat anggun.
"Kau tau istri sialan, ini semua karna kau. Kalau saja kau bisa mendapatkan kasih sayang kakek, walau sedikit. Semuanya akan lebih mudah. Asher mencapai puncak, dan berhasil mengadakan pernikahannya di sini, bukan karna kemampuannya. Tapi karna dia memiliki istri seperti Galatea yang mampu memenangkan hati Pak Tua itu, jika kau tau kau salah. Belajar lah dari Tea, liat bagaimana caranya memenangkan hati Kakek disana." Vallen memelan kan suaranya, meskipun dia masih kesal pada istrinya saat ini, tapi ini sudah lebih baik dari yang sebelumnya.
"Jangan bandingkan aku dengan perempuan pengganti itu. Itu menyedihkan, dan sebuah penghinaan bagiku. Aku yang putri sa--"
__ADS_1
"Berisik, dan diamlah sebelum aku menendang mu keluar dari sini. Aku lelah, jangan tujukan wajah mu di depan ku selama seminggu." Vallen memotong ucapan istrinya, dengan kemarahan dan situasi yang tidak bersahabat dia meninggalkan Neila disana.
"Kau pasti akan menyesal karna membandingkan diri ku dengan perempuan sialan itu." Neila juga menghentakkan kakinya kesal, dia pergi berlawanan arah dari arah Vallen pergi tadi.
Hanya ada dua kaki yang berdiri di sana saat ini, hanya ada Morgan sendiri, menatap aneh ke arah Tea.
"Itu benar, Asher mendapatkan segala kemewahan dan saham ini bukan karna dia berkemampuan. Hanya karna dia menikahi Tea. Jadi, kesimpulannya. Siapapun yang menjadi suami Tea, akan mendapatkan posisi Asher saat ini. Dan tidak lama lagi, posisi itu akan menjadi milikku. Seperti aku yang dengan mudah merebut Eve dari mu, kali ini juga akan sama kan? Sepertinya akan lebih mudah mendapatkan Tea, daripada Eve. Tunggu saja kehancuran mu Asher." Morgan menerbitkan senyuman licik khasnya.
"Kau yang tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik, akan selalu di tinggalkan, lagi, lagi dan lagi, sampai kau mati." Lanjut Morgan dengan kepercayaan diri bahwa dia bisa mengambil Tea lebih mudah dari Eve.
Keduanya sudah menaiki tangga perlahan, dan duduk di dua bangku yang sudah dipersiapkan penuh hiasan.
Tea belum terlalu fokus pada wajah saudara-saudari suaminya, karna dia sibuk menganggumi dekorasi dan suaminya yang sangat romantis.
Akhirnya, dari bangku itu, Tea bisa melihatnya, wajah-wajah tegang yang iri tanpa senyuman.
Padahal pesta pernikahan mereka digadang-gadang sebagai pernikahan termewah selama sepuluh tahun terakhir, tapi sepertinya rumor itu harus terganti dengan pernikahan spektakuler Asher dan Tea, yang digadang-gadang sebagai pernikahan termewah.
Belum lagi Yelena yang kehilangan keanggunannya karna menggigiti kukunya kesal. Wajahnya terlihat sangat marah, Tea tidak tau apa yang dikatakannya, yang jelas pasti bentuk makian kan?
Tea melirik seseorang yang tak jauh dari Yelena berdiri, ada Morgan dengan senyumannya melambaikan tangan pada Tea.
Tea langsung begidik ngeri melihatnya.
"Pfttt, dia bukan monster sampai kau harus jijik melihatnya." Asher menahan tawanya. Dia yang sedari tadi memperhatikan segala tingkah laku dan tatapan istrinya, sadar bahwa Tea begidik ngeri karna Morgan yang tersenyum. Bukannya terpanah oleh wajah tampan Morgan, Tea malah merasa itu sangat mengerikan.
__ADS_1
"Tapi dia menggelikan. Ash tersenyum lah sedikit, aku butuh mensucikan mata ku lagi."
Asher tersentak halus, dia menaikkan sebelah alisnya. "Jangan begitu, kau terlalu membuat ku sering terpesona, aku jadi semakin mencintai mu."
"Ayo senyum cepat, mata ku gatal."
"Tidak mau."
"Lakukan cepat."
"Bibir ku kering, sulit untuk tersenyum, jika kau ingin aku senyum, bukannya kau harus membasahinya dulu. Cium aku di sini." Asher dengan santainya menunjuk ke arah bibirnya.
"Tiba-tiba mata ku sehat." Tea beralih kembali menatap para kerumunan tamu hadirin.
*cup
Asher mengecup pelipis Tea di tengah-tengah keramaian disana.
Tea tersentak, dia kaget, hampir saja bola matanya jatuh menggelinding, belum lagi jantungnya yang kurang sehat kini di paksa menerima banyak serangan kejutan.
"Sudah-sudah, jangan kaget seolah aku pertama kali melalukan ini. Kita sering melakukannya, bahkan sampai ke--"
"Diam Ash, itu tidak lucu." Tea dengan cepat menutup mulut suaminya yang sulit di ajak bekerjasama ini. Wajah Tea sudah memerah.
Tanpa sengaja, mata Tea malah menangkap Eve. Anehnya Eve yang berdiri tak jauh dari mereka, menatap Tea berbinar kagum. Wajahnya sangat cantik matanya sangat tulus dan murni. Dia sepertinya benar-benar mengagumi Tea.
__ADS_1
"Dia hanya sekedar kagum kan?" Tea mencoba membalas senyuman Eve sebisanya dan sewajarnya saja.