Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
40. Masih Pagi Juga


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak Tea terakhir kali sakit, saat ini dia sudah diizinkan untuk keluar lagi. Dan pagi harinya, seperti biasa dia masih terjebak dalam lengan kekar suaminya. Tapi, karna Tea sudah terbiasa, dia tidak seheboh dulu meskipun dia masih sangat suka menyentuhnya.


"Kau akan pergi hari ini?" Entah sejak kapan Asher sudah membuka matanya, sukses membuat gadis yang tengah mengiler itu terkejut.


"Ya, aku harus menemui teman ku."


"Emangnya orang seperti mu punya teman?"


"Tentu saja, gadis baik, cantik dan manis serta ramah dan tamah seperti ku punya banyak sekali teman." Tea tersenyum sombong, faktanya memang saat dia kuliah, dia punya banyak teman karna sifatnya yang baik.


"Seorang gadis? Jadi selama ini kau masih menganggap diri mu gadis ya?" Wajah Asher sudah tidak bersahabat.


"Apa? Aku kan masih muda, badan ku mungil, wajah ku bahkan terlihat seperti masih anak SMA."


"Ya kau benar, terlebih lagi badan mu yang kecil, orang akan percaya kau masih bocah jika kau memakai seragam sekolah." Asher tanpa dosa, menyentuh sesuatu yang dia sebut kecil itu.


"Hey! Memang pertumbuhan nya lambat tau!" Jangan tanya reaksi Tea, dia sudah terbiasa. Miliknya sering diejek, namun juga sering disentuh, entah apa yang Asher inginkan.


"Entahlah, mungkin saja gak bertumbuh lagi, kan?"


Tea tidak bisa berkata-kata, jika berdebat soal fisik Tea harus mengaku kalah karna dari sisi manapun, fisik Asher itu sempurna.


"Sudah berapa bulan kita menikah?" Kali ini Asher mengalihkan topiknya.


"Entahlah mungkin lebih dari tiga bulan?"


"Sudah lebih dari tiga bulan kita menikah? Dan kau masih menganggap dirimu gadis? Sepertinya aku harus menyadarkan mu, akan posisi mu saat ini." Asher bangkit dengan cepat, dia menindih gadis mungil itu.


"Menyadarkan posisiku? Maksud mu posisi ku di bawah Eve? Atau posisi ku di bawah mu saat ini?" Tea tidak gugup, dia malah menatap mata Asher dengan berani.


"Entahlah mungkin menyadarkan diriku sendiri, tentang arti kau dalam hidup ku." Asher langsung menyerang bibir mungil itu. Dia dengan lembut, menuntun Tea yang masih pemula untuk terus mengikutinya.


Tea hanya diam, dia memejamkan matanya, mengalungkan kedua tangan mungilnya ke leher berotot sang suami.


Saat Asher sudah melepasnya, memberi jeda untuk Tea bernapas. Wanita itu langsung mengambil kesempatan untuk menanyakan maksud perkataan Asher barusan.


"Apa maksud perkataan mu barusan?"

__ADS_1


Asher tidak menjawab, dia malah melanjutkan membuka kancing piyama putih Tea. Tangannya tidak puas harus terhalang oleh kain sialan itu.


"Kenapa susah sekali, besok-besok bisa gak? Tidur gak usah pakai baju sekalian, ribet banget buka kancingnya. Atau robek aja sekalian?" Asher sudah berniat ingin merobek paksa piyama itu. Tea ingin menghalanginya, namun bisa saja terlambat, jadi Tea langsung menempelkan bibir nya di bibir suaminya. Tea sih cuma menempelkan saja, sisanya yang bermain dan mendominasi tentu saja Asher yang sudah seperti serigala kelaparan.


Dibanding Asher merobeknya, Tea memilih untuk membuka kancing baju itu sendiri, dan Asherlah yang melepas dan melemparkannya kemana saja, asal menjauh darinya.


"Hey, ini masih pagi, siapa orang yang akan melakukan ini pagi-pagi?" Tea sedikit gugup saat ini.


"Kita, kan kita sedang melakukannya." Sahut Asher enteng tanpa dosa, melanjutkan kegiatan menyenangkan untuk dirinya dan pasangannya.


"Kau gak pergi ke kantor?"


"Tenang saja, aku sudah cukup uang hingga tidak berlebihan kalau mengatakan aku tidak membutuhkannya lagi."


Tea tidak bisa berkata-kata, faktanya kan memang benar bahwa dia sudah terlalu kaya. Menyebalkan sih, tapi harus diakui kekayaan suaminya itu sangat di atas rata-rata.


"Aw!" Tea langsung berteriak, saat Asher melakukan hal-hal itu.


"Jangan khawatir, ini pasti menyenangkan."


Bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan entengnya.


"Tea ...," Asher mendesis tepat di telinga Tea, menyebutkan namanya dengan menggoda, suara rendahnya mampu menaikkan gairah Tea itu sendiri. Jantung Tea langsung berdebar kencang mendengarnya.


Tea sadar, ini adalah pertama kalinya Asher memanggil namanya, ini adalah pertama kalinya, dan bisa saja yang terakhir.


"Asher ...," Tea juga menerima pelukan dari Asher. Meskipun yang mendominasi adalah Asher, Tea juga banyak melakukan gerakan.


(Pokoknya mereka mantap-mantap sampai tuntas)


-


-


Dari pagi, hingga sore Tea baru membuka matanya. Itu bukan salah Tea oke?


"Mana aku tau kalau gitu-gitu bisa sampai setengah hari." Tea memegangi pinggangnya yang terasa nyeri, dan nyeri itu mengingatkannya pada kejadian beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


Badan Tea lemas, tapi dia ingin mencari udara segar. Jika dia masih disini, khawatir Asher akan nambah lagi. Tea melirik ke arah Asher yang masih tertidur dengan wajahnya penuh keringat yang sudah kering.


"Iya ini semua gara-gara dia, padahal udah dibilang sekali aja juga. Masih aja berisik." Tea mengembangkan pipinya, kenapa dia malah menyalahkan Asher padahal dia juga sangat menikmatinya.


"Bersyukurlah kita melakukannya pagi, kalau malam, mungkin kita akan melakukannya sampai matahari terbit di atas." Entah sejak kapan Asher juga ikut bangun. Dia masih menatap lekat Tea, tidak melepas pelukannya dari gadi--eh maksudnya wanita itu.


"Bukankah itu namanya penyiksaan?"


"Itu namanya kenikmatan."


Tea masih menatap lekat mata pria itu.


Dia kelihatan ahli banget, udah berapa perempuan yang tidur dengannya sampai dia semahir itu? Sentuhannya du--


Tea langsung menghentikan suara hatinya, karna saat dia mengatakan itu, otaknya langsung menampilkan kegiatan olahraga pagi tadi.


"Apa kau pernah melakukannya dengan Eve?" Tea penasaran, dia tidak ingin menelan rasa penasarannya mentah-mentah. Meskipun nantinya jawabannya akan menorehkan luka dihatinya, tidak apa-apa, Tea pasti bisa menanganinya.


"Tidak." Sahut Asher enteng, sembari memejamkan matanya lagi.


"Dengan wanita lainnya?" Tea lebih spesifik.


"Gak pernah, dan gak tertarik. Apa kau pikir aku akan melakukan itu dengan sembarang perempuan yang tidak jelas kesehatannya?" Asher kembali membuka matanya, menatap Tea tak habis pikir.


"Kau bohong kan? Terus kenapa kau begitu ahli? Kau sangat ahli seperti seorang yang sering berada di situasi itu." Tea masih yakin Asher itu berbohong.


"Aku menontonnya, dan mempelajarinya."


*Uhuk!


Tea sudah tersedak salivanya sendiri.


"Ada apa? Kau mau nonton bareng? Ka--" Tambah Asher lagi.


Tea sudah menarik bantal dan menutup mulut Asher seketika.


"Aku mau mandi! Menyucikan diri dan pikiran!" Tea bangkit dari tempat tidurnya, sebelum Asher mengatakan hal-hal yang memerahkan telinganya.

__ADS_1


...***...


...Maaf ya, kemarin gak up...


__ADS_2