
Asher Vinchete Anumertha adalah nama ku, aku sudah tinggal di rumah mewah, keluarga kaya namun tidak hangat. Tidak perlu dibahas, itu menyebalkan.
Ayah ku hanya memiliki satu istri sah, dia adalah Ivonna Vennekia, dari perusahaan Vennekia yang cukup tinggi namanya. Tapi, dia bukan ibu kandung ku, karna aku hanyalah anak dari perempuan miskin yang dinodai pria sialan itu. Padahal waktu itu usia ibuku-Vinchete (Vine nama panggilannya), masih belia, dia masih delapan belas tahun, harus bersedia menerima takdir mengandung ku disaat dia baru lulus sekolah menengah atas. Dan hebatnya dia, dia tidak melenyapkan ku.
Usia yang masih muda, juga ketakutan dan stress yang dialaminya, membuatnya tiada saat dia melahirkan ku. Dan aku diurus oleh pelayan, sejak kecil aku sudah tinggal di Mansion, disaat keluarga lain tinggal di rumah utama.
Aku tumbuh dengan seperti itu, tanpa kasih sayang, dan seluruh hak ku di rampas oleh kedua saudara sialan itu. Sejak kecil, baik Vallen maupun Morgan selalu mengambil apa yang menjadi milikku, tidak jarang mereka juga mencuri barang-barang peninggalan ibu ku.
Aku sungguh membenci mereka, tahun demi tahun berlalu, dan saat ini merekalah yang berada dibawah ku. Kekutan bisa mengendalikan bukanlah omong kosong, yang kuat yang menang adalah kebenaran, dan yang lemah adalah yang kalah adalah fakta.
Dan ya, aku tidak tau kapan, tapi pasangan suami istri Anumertha meninggal dalam kecelakaan, mungkin saat aku remaja?
Aku menikmati kesuksesan jerih payah ku, aku hanya perlu lebih baik untuk mewarisi tujuh puluh persen saham yang masih dipegang kakek tua itu. Karna diantara kami, sudah dibagikan sepuluh persen saham secara adil, itu untuk pertama kalinya aku merasakan keadilan di keluarga itu.
Di saat aku mulai membesarkan perusahaan yang ku bangun sendiri, tanpa campur tangan Anumerha. Perempuan itu muncul, perempuan cantik, dengan segala bakat yang dia punya. Aku akui, dia sangat cantik dan berbakat. Namanya adalah Evelina, wajahnya cantik, sedikit mirip dengan ibu ku, terutama bagian matanya. Tatapannya yang tanpa semangat dan ingin hancur sesegera mungkin, itu sangat menarik karna tatapan itu, sama persis dengan tatapan ibu ku di foto yang dia tinggalkan saat mengandung. Benar, saat itu aku tau, dia punya masa lalu menyedihkan.
Sejak bergabungnya dia dalam perusahaan ku, tidak dipungkiri perusahaan ku maju lebih pesat, dia lebih unggul dari pegawai biasanya. Aku sampai mengangkatnya menjadi sektretasris ku, bukan hanya soal pekerjaan, penampilannya sempurna dan tidak memalukan. Apalagi, aku bisa melihat tatapan iri Morgan dan Vallen disana. Banyak orang yang memuji ku, karna memilikinya di sisi ku.
"Saya menyukai anda! Tolong berpacaran dengan saya!"
Semuanya semakin sempurna saat dia menyatakan perasaannya pada ku, ternyata dia mencintai ku. Baguslah, aku menerimanya, hingga aku tidak perlu repot-repot untuk menahannya.
__ADS_1
"Ya! Kau akan menjadi milikku." Sejak saat itu, sudah ku putuskan bahwa dia, hati, maupun raganya sudah menjadi milikku.
Aku tidak tau problema apa yang dia alami, setelah dua tahun, dia malah minta putus dengan ku, tentu saja aku menolaknya! Sejak awal dia adalah milikku!
Dan yang lebih menyebalkan lagi, dia ternyata memilih Morgan si sialan itu! Dia meninggalkan aku, demi si payah itu. Aku mencoba merampasnya kembali, tapi kakek tua sialan itu malah ikut campur, dia mengumumkan pertunangan resmi Morgan dan Eve.
Aku harus mendapatkannya kembali apapun yang terjadi, selain karna dia milikku, aku ragu aku bisa mendapatkan perempuan berbakat, cantik, dengan tubuh sempurna seperti itu lagi. Dimana aku bisa menemukannya? Wanita sepertinya yang tidak memalukan dan bisa aku banggakan.
Sial! Aku tidak bisa bertindak secara leluasa. Hingga akhirnya aku memakai cara lain, aku menculiknya namun lagi-lagi kakek tua sialan itu menggagalkannya. Entah kenapa si tua itu bisa begitu hebat dan teliti. Dia benar-benar hebat dalam banyak hal. Kakek tua dingin yang tidak pernah menyayangi siapapun termasuk anak kandungnya sendiri. Cih, menyebalkan.
Aku sudah kehabisan ide untuk merampas lagi Eve, hingga Albert si dokter payah datang dan mengatakan aku harus bersikap lembut padanya.
"Dia menyukai Morgan, karna dia sangat lembut, romantis, dan perhatian, harusnya kau meniru setengah sifat Morgan, maka Eve tidak akan berpaling dari mu."
"Lebih baik aku mati daripada melakukan itu, itu menggelikan, menjijikan, dan menyebalkan. Cinta hanyalah omong kosong." Membayangkan bahwa aku akan memberikan perhatian hangat pada seseorang, itu adalah hal yang mustahil.
"Jadi kau akan bilang bahwa kau gak akan pernah jatuh cinta? Atau melakukan hal romantis dengan perempuan?"
Apa yang si dokter sialan ini katakan? Itu adalah kemustahilan.
"Aku akan membangunkan rumah sakit terbesar di kota ini kalau sampai itu terjadi."
__ADS_1
Aku percaya diri mengatakan itu, karna aku yakin tidak akan ada nama spesial dihatiku, aku bahkan tidak tertarik untuk memulai hubungan yang tidak menguntungkan.
"Baiklah! Aku akan membantu mu mendapatkan Eve! Karena sepertinya hanya Eve yang bisa membuat mu jatuh cinta! Jika dia sudah kembali, bersikap hangat lah!"
Terserah.
Beberapa hari berlalu, aku mendapatkan panggilan dari kakek tua itu, dia memaksa ku untuk menikahi seorang gadis dari perusahaan yang nyaris bangkrut.
"Kau meminta ku menikahinya? Agar aku tidak bisa mendapatkan sisa saham? Agar aku tidak mendapat keluarga dukungan?"
Yah walau tanpa keluarga hebat yang mendukungku melalui pernikahan, aku sudah punya banyak kolega yang berada di bawah kendali ku. Aku tidak butuh pernikahan politik macam itu.
"Sepuluh persen saham akan ku berikan saat kau menerima, menjaga, dan tidak menyakitinya ketika dia menjadi istri mu."
Aku pikir itu hanyalah omong kosong belaka. Mana mungkin si tua pelit ini mau memberikan sepuluh persen saham, hanya karna aku menikah.
Aku kembali ke Mansion larut malam, aku cukup terkejut saat ada seorang wanita di dalam kamar tidur ku. Ah setelah di ingat-ingat, tadi siang kakek tua itu meminta ku untuk pulang karna ada tamu penting, yaitu calon istri ku dan keluarganya. Aku sengaja tidak datang.
Aku tau, wanita yang berstatus istri sah ku di depan hukum, sedang berbaring di ranjang ku saat ini. Mungkin saja dia sudah berbaring tanpa pakaian untuk menggoda ku, bukan satu atau dua wanita yang aku temui begitu. Aku bahkan tidak tertarik.
"Asher?" Dia memanggil ku, dengan nama secara langsung?
__ADS_1
Aku akan memberinya pelajaran, agar dia angkat kaki dari mansion ini. Dia tentunya sudah mendengar gosip panas antara hubungan ku dan Eve. Manfaatkan itu saja.
"Eve!" Aku memanggil nama itu, dengan hangat. Argh, lidah ku nyaris tergigit, itu sangat menggelikan. Aku bahkan tidak pernah memanggil Eve dengan nada seperti itu.