Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
39. Membingungkan bikin sakit kepala


__ADS_3

"Saya akan katakan sekali lagi, tolong menjauh saja dari keluarga ini, karna anda tidak akan baik-baik saja. Anda akan selalu terluka." Eve mengatakan itu dengan mata yang tulus, mana Tea bisa berprasangka buruk padanya.


Apa sih maksud anak ini? Dia niatnya baik kan?


Tea hanya bisa berkata seperti itu dihatinya, dia tidak ingin melukai hati Eve dengan mengatakan itu secara terang-terangan.


"Aku gak ada niat buat cerai sih." Sahut Tea enteng, membuat Eve membatu seketika.


"Anda pasti akan menyesali keputusan anda saat ini."


Tea hanya menatap Eve dengan aneh, dia tidak ingin mengatakan langsung bahwa Eve aneh. Meski Tea kita ceplas ceplos, dia juga memikirkan perasaan orang lain loh.


"Hey Eve? Apa kau pernah melihat Asher meminta maaf pada orang lain?"


Eve diam, dia malah menatap Tea iba dan sedikit khawatir.


Apa yang dipikirkan anak ini sebenarnya?


Tea tidak ingin memusingkan, dirinya sendiri mengenai apa yang Eve pikirkan.


"Apa tuan muda Asher melakukan Kesalahan pada anda? Jika iya, biarkan saja atau tinggalkan saja dia. Kalau anda berharap dia meminta maaf, hentikan harapan itu."


"Apa? Kenapa? Tapi Asher kemarin meminta maaf padaku loh."


Tea tidak bohong kan? Asher memang meminta maaf padanya.


"Ada tiga hal mengerikan dan agak mustahil setahu saya, pertama, lautan jadi manis. Kedua, dari langit hujan batu. Ketiga, Tuan muda Asher minta maaf. Jadi, tolong berhenti berharap hal aneh begitu." Eve juga tak ingin kalah dari argumen dan keyakinan bahwa Asher psikopat yang tidak kenal kata maaf.


"Tapi dia beneran minta maaf loh, walau gak tau kesalahannya, itu menyebalkan sekali!" Mengingat itu membuat Tea kesal lagi namun ingatannya tidak berhenti disana, ingatan itu menampilkan dia dan Asher yang sempat memadu kasih walau tidak sampai puncaknya, tidak apa-apa, pemanasan di awal juga bagus.


"Anda bercan--"


Drett... Drrttt


Tea tau, sepertinya ponsel di tas Eve berbunyi, merengek minta diangkat.


"Ck...!" Eve berdecak kesal saat melihat nama si pemanggil, dia langsung berdiri. Tampak jelas sekali bahwa Eve sedang kesal saat ini. Tea tidak bertanya siapa itu, karna menurut Tea mereka tidak sedekat itu, kan?


"Maaf Nona Tea, sepertinya saya harus pergi. "

__ADS_1


Tea hanya tersenyum manis. "Wah iya, terima kasih buahnya."


Eve berjalan cepat ke arah pintu.


"Apaan sih, pergi tinggal pergi aja ribet amat." Protes Noel setelah yang dimaksud keluar dari kamar.


"Berterimakasih lah padanya, karna berkat dia stok buah mu bertambah, dan kerjaan mu lebih banyak."


"Non gak ada niatan sakit sebulan sekali gitu Non? Banyak loh ini makanan."


"Kau tau, Ghani dari rumah utama, katanya dia supir yang bagus dan juga bijaksana, kira-kira keren juga kalau dia jadi supir pribadi ku."


"Ya Tuhan ku, pencipta semesta, tolong sembuhkanlah Non Tea, angkat segala penyakitnya, Saya gak bisa bahagia jika Non Tea sakit, Aminn." Noel menengadahkan tangannya, seraya berdoa setulus mungkin.


Tea tidak bisa berkata-kata lagi.


-


-


-


Dokter itu, Albert namanya, Tea sudah kenal karna mereka sudah berkenalan. Albert memeriksa Tea seperti yang dia lakukan akhir-akhir ini.


"Kondisinya semakin baik kok, gak ada yang perlu dikhawatirkan." Albert membereskan alat-alat kesehatan yang sempat dia buka tadi.


Noel hanya berdiri diam, di dekat pintu.


"Katanya dokter terbaik, jenguk pasien cuma bawa napas." Sindir Noel, astaga Tea yang sakit kenapa dia sibuk soal barang yang dibawa pengunjung. Apa dia benar-benar ketagihan atas semua kemewahan kue, buah dan camilan? Padahal itu semua punya Tea loh.


"Kau gak liat aku bawa ilmu?" Sahut Albert yang agak kesal.


"Tentu saja saya bisa melihat pak dokter bawa ilmu, ilmu itu terlihat sang~at jelas." Apalagi? Dia sedang menyindir terang-terangan loh, berkat kenaikan pangkat yang kakek berikan dari hanya supir menjadi pengawal pribadi Nona Galatea, sepertinya menjadikannya angkuh, dasar.


Albert segera menghampiri Noel dipintu, gayanya seperti bakal baku hantam, tapi faktanya cuma adu mulut.


"Bagaimana kondisi mu?" Asher berjalan mendekat, dia menempelkan keningnya ke kening Tea.


"Jangan bilang ini kau penasaran sama jedutan ke empat?" Sepertinya suasana hati Tea sudah membaik, dia sudah tidak begitu marah pada Asher.

__ADS_1


"Diamlah, dan makan ini." Asher mengambil bubur yang memang sudah disiapkan Sheila dimeja kecil itu. Dia perlahan menyuapi Tea dengan telaten.


Kegiatan sederhana itu terus terjadi hingga isi mangkuk hanya tinggal setengah. "Udah ah, kenyang tau." Tea menjauhkan sendok yang menggantung di udara itu.


Asher tidak ingin memaksa, dia sudah cukup iba dengan kondisi istrinya saat ini.


Asher mengusap sisa-sisa bubur di sudut bibir Tea.


"Lha? Kok pakai tangan sih? Pakai mulut dong, disini penonton kecewa." Celetuk Noel enteng, mentang-mentang naik pangkat, anak ini jadi berani ngaco.


"Tau tuh, padahal majuin dikit lagi, seru kayaknya, udah boleh dikasih label dewasa." Sahut Albert disebelahnya yang tak mau kalah.


"Asher, berapa pesangon untuk supir pribadi keluarga Anumertha yang dipecat?" Tanya Tea, melirik tajam Noel, tentu sudah tau maksudnya apa.


"Oh astaga! Aku lupa belum mencuci mobil, ah ya ampun!" Noel segera berlari keluar dari ruangan menyesakkan itu, jelas jika lebih lama dia berada disana, itu akan menyusahkan dirinya.


"Entahlah, rasanya mood ku buruk hari ini, mungkin jika aku menutup sebuah rumah sakit, sepertinya suasana hati ku akan membaik." Asher tampak berpikir sebentar, dia tidak marah juga tidak tertawa. Dan Albert tau, ekspresi seperti inilah yang Asher keluarkan kalau sangat serius.


"Oh ya ampun! Sepertinya Sheila akan menerima lamaran ku. Aku harus kesana!" Albert dengan cepat berlari keluar, tentu saja dia takut jadi pengangguran.


"Kau juga, kembalilah tidur." Asher membaringkan badan mungil itu, dengan memakaikan selimutnya. "Kau masih berpikir kita harus punya anak?" Asher menatap mata Tea lekat.


Deg.


Hati Tea sakit, itu mendadak sesak. Tea tau bahwa dia sudah menyukai pria ini lebih dari yang dia pikirkan.


"Kau tidak mau punya anak?"


"Awalnya sih aku tidak tertarik memiliki anak. Tapi, kasihan juga kau nantinya. Baiklah, kita akan punya anak. Makanya, jaga kesehatan mu." Asher berjalan ingin mandi.


"Kau masih berpikir untuk mendapatkan Eve?"


Namun Asher berhenti sebentar saat mendengar pertanyaan itu.


"----" Asher menggumam tidak jelas.


Tea tau Asher menggumam, tapi entah apa yang dia gumamkan, dan Asher berjalan pergi begitu saja.


Tea menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Menahan air mata yang nyaris jatuh, karna perihnya rasa yang kini menyapa hatinya.

__ADS_1


"Apa lebih baik cerai sekarang? Gak usah punya anak sekalian? Sebenernya, aku harus apa?"


__ADS_2