
Akhirnya Noel menuntun Viocha ke ruangan Tea. Mereka sudah memasuki pintu utama butik beberapa menit yang lalu.
Noel mengingat saat pertama kali dia melihat dan bertemu Viocha. Dia yakin saat itu Tea menyayangi adiknya, dan ada rahasia yang Tea simpan soal Viocha yang tinggal berbeda rumah dengan keluarga lainnya.
Noel mengakui bahwa Viocha sangat cantik dan, memiliki sesuatu yang menarik. Tapi Noel sudah lebih tertarik pada Tea, dia tertagih untuk selalu adu mulut dengan Tea karena menurutnya itu seru.
Karena itu aku muji Viocha waktu pertama kali lihat, biar ada bahan keributan sama Non Tea. Dan hasilnya sesuai dugaan, dia jutek. Bahkan sampai sekarang juga dingin, beda banget kalau ada Non Tea.
Noel melirik ke arah Viocha yang berjalan di sebelahnya, kejutekan Viocha terbukti dari jawabannya yang singkat, atau hanya anggukan bahkan diam saja saat Noel bertanya dan berbicara padanya.
Karna penasaran sama keluarganya Non Tea, aku jadi penasaran dan cari tau banyak hal. Bahkan sampan nanya-nanya pelayan yang dulu pernah kerja di rumah mereka. Akhirnya aku tau kasus yang menimpa Viocha dan Non Tea. Dan aku tau, kalau Viocha jarang sosialisasi, dan Non Tea yang kadang melamun waktu liat Viocha juga pasti khawatir. Yah, awal dari semuanya adalah biar Non Tea gak murung dan tetap berisik.
Dan aku juga tau rahasia Non kalau selama ini dia dan Icha udah tinggal beda rumah. Yah, berkat itu aku bisa langsung antisipasi hubungin Tuan muda Asher saat berkunjung ke rumah Non Tea.
Tapi ada yang aneh. Padahal aku profesional, gimana bisa Icha tau aku pura-pura? Kemampuan ku yang kurang, apa anak ini yang berbakat. Padahal dulu aku pikir dia sama sekali gak menarik, karna sifatnya yang diam dan tidak berisik. Tapi, sekarang mengganggunya juga lumayan menarik.
Noel tersenyum diam-diam, ah tidak perlu diam-diam juga Viocha tidak akan menyadarinya, karena dia tidak tertarik dengan supir energik ini.
"Icha kamu tau gak sih? Kamu itu menarik, dan aku jadi serius tertarik. Kamu gak ada niatan membangun hubungan yang baik?"
"Gak."
Apa yang Noel harapkan? Icha terharu dan mengatakan iya sambil semangat tersenyum memeluknya. Bangunlah dari mimpi mu Noel, dia Viocha, mengirit kata adalah moto hidupnya.
"Kejam banget. Nah, kita udah sampai." Noel dan Viocha sudah berdiri di depan pintu itu. Tapi Noel tidak berani masuk, jangankan masuk, untuk mengetuk pun dia menolak.
"Aku baru ribut sama Tuan muda Asher, jadi mending kamu aja yang manggil." Noel mempersilahkan Viocha untuk mengetuknya.
Viocha mengetuk pintu itu. "Kak Tea, ini Icha!
Untuk sementara waktu, semuanya hening.
Noel dan Icha saling melirik karna tidak ada jawaban dari dalam.
"Anda yakin? Kak Tea ada di dalam?" Viocha mulai agak ragu.
"Yakin, seperti keyakinan saya untuk meminang kamu akhir tahun nanti." Entah ngelantur, atau serius dari relung hati, tidak ada yang bisa memastikan perasaan Noel barusan.
Viocha mengetuknya lagi. Namun, tidak ada jawaban.
"Kak! Ini Icha!" Viocha memanggilnya lagi.
__ADS_1
"Iya Cha! Kakak bukain!"
Akhirnya suara dari dalam terdengar, meski agak sayup-sayup.
Brukh!!
Ada suara jatuh dari dalam, membuat Icha khawatir. Tanpa peduli apapun lagi dia masuk ke dalam.
Namun, langkahnya harus berhenti saat dia sudah masuk lebih satu meter dari pintu.
Dia tidak bisa jalan lagi karna dihadapkannya sudah ada dua manusia yang tergeletak di lantai, dengan Asher di bawah dan Tea yang menimpanya dari atas. Apalagi penampakan bibir yang saling menempel itu membut Viocha terdiam.
"Astaghfirullah!"
Noel menarik Viocha kedalam pelukannya, menutupi wajah gadis itu dengan dadanya.
"Tunggu Cha! Ini gak seperti yang kamu pikirin! Kakak gak gitu, dan--"
"Kenapa? Emang apa yang akan adik mu pikirkan? Yang kita lakukan tidak salah, kita sudah menikah."
Tea ingin menjelaskan situasi yang sebenarnya, dimana saat dia ingin membuka pintu untuk Viocha cepat-cepat, dia malah terjatuh, dan Asher mencoba menangkapnya tapi tidak bisa. Jadi Asher memilih mengorbankan diri dan menjadikan punggungnya tameng, agar sang istri tidak jatuh dan tersakiti.
"Ash! Apa yang kau katakan? Apa kau tidak tau malu?!" Suara Tea meninggi, antara kesal dan salah tingkah, dan malu sudah memenuhi hatinya.
"Bukannya aku sudah bilang ya, aku kehabisan rasa malu." Sahut Asher enteng, tanpa merasa salah, apalagi berniat minta maaf.
"Kau...!" Tea menggeram kesal, akhirnya dia bisa bediri dengan tegak, diikuti Asher yang juga bangkit dengan senyuman simpul yang dia terbitkan. Jarang sekali Tuan muda kita tersenyum sejelas ini.
"Dan kau Noel?! Apa yang kau lakukan terhadap adik ku?! Beraninya kau sentuh dia!" Tea dengan cepat langsung menarik Viocha kesisinya, menjauh sejauh-jauhnya dari Noel.
"Apanya yang apa? Saya lagi menyelamatkan Viocha dan kesucian mata calon istri saya akhir tahun nanti!" Noel tentu saja berdalih.
"Apanya yang menyelamatkan? Kau jelas-jelas modus kan?!"
"Kalau Non tau modus kenapa dipisahkan, gak pekaan banget sih. Kasih kesempatakan kek sekali-sekali."
"Kau tau kan kalau itu gak sopan?"
"Apa kabar perilaku Non dan Suami Non barusan? Mesra-mesraan boleh, tapi ya di tempat sepi dan tertutup dong."
"Udah sepi dan tertutup, kalian saja yang datang dan mengacaukannya dengan tidak sopan." Timpal Asher enteng. Dia tidak salah kan? Mereka sudah menikah sah, dan bermesraan di tempat tertutup tidak ada orang. Jadi, salahnya dimana?
__ADS_1
"Yang barusan tidak sengaja tau!" Tea masih berharap Viocha percaya kata-katanya.
Akhirnya setelah beberapa keributan dan Tea yang memaksa menjelaskan situasi sebenarnya antara dia dan Asher selesai sudah. Dan tanggapan Viocha hanya.
"Oh? Begitu?"
Saat ini mereka sudah duduk, dengan Asher di depan sendirian dan Tea serta Viocha duduk bersebelahan. Dan Noel? Tentu saja dia berdiri, tidak di usir saja dia harus bersyukur. Dan berkat trauma dipecat, Noel berusaha sekalem dan sediam mungkin, dia menutup mulutnya padahal lidahnya sudah gatal ingin bergerak.
Demi mendapatkan kembali pekerjaan kesukaannya, Noel harus menutup rapat akurat bibir itu, dan mengeluarkan kemampuan silat lidah ala penjilat handal yang dia punya.
"Jadi kamu adik perempuannya isrtri ku? Coba panggil aku kakak ipar, aku penasaran rasanya di panggil begitu."
Sepertinya Asher serius meminta Viocha mengatakan itu.
Viocha menoleh ke arah Tea. "Apa Kakak pernah memanggil dia dengan panggilan 'suami ku'?"
Tea berpikir sebentar. "Entahlah, mungkin enggak pernah."
Viocha beralih ke arah Asher.
"Kalau begitu, buat apa saya memanggil anda kakak ipar?"
Wajah Asher sudah kesal, jelas terasa dari tekanan udara yang semakin sesak.
Jangan tanyakan betapa susahnya Noel menahan tawanya mati-matian. Jika dia belum dipecat, dia pasti sudah tertawa terang-terangan.
Asher sadar bahwa Noel ingin tertawa, dan dia semakin kesal.
"Berapa usia mu?"
"19 tahun, tahun ini." Jawab Viocha saat Asher bertanya cukup serius.
Asher melirik ke arah Noel.
"Kau? Berapa usia mu?"
"32 tahun ini Tuan muda."
"Tea katakan pada adik mu, aku punya banyak kenalan pengusaha muda kaya raya yang tampan. Apa dia harus bersama om-om yang tua seperti itu?"
__ADS_1