Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
43. Kenapa marah?


__ADS_3

Tea masih diam, dia melihat sekeliling, mencoba mengerti situasi sekarang.


"Katanya putri rumah kaca? Apa ini yang namanya keluarga bahagia?"


Wah Tea, kau ketahuan. Tea masih diam menatap Asher. Tentu saja kepalanya sedang berputar mencari dalih. Mana dia tau harus beralasan apa.


"Wah! Selamat, anda kena prank!" Tea mencoba memasang wajah yang manis penuh keceriaan. Sedangkan Asher masih menatap Tea dengan wajah datarnya.


"Non, gak lucu. Mending Non ngaku aja deh, sebelum makin ruweh." Bukan Asher, tapi malah Noel yang menyahutinya.


Dan yang membuat Tea tidak bisa berpaling dari Noel adalah, karna posisinya yang sedang duduk di atas tumpukan dua tubuh yang sudah pingsan.


"Itu benar Tuan Muda! Ini semua hanyalah permainan, kami sedang bermain drama, da--" Ucapan Bambang terpotong saat matanya bertemu dengan mata Asher yang sudah penuh akan kemarahan, seolah ada bara api yang menyala-nyala disana.


"Bawa dia, penjarakan, atas kasus pelecehan, penyekapan, dan penahanan gaji karyawan, pastikan dia mendapatkan pasal berlapis."


"Tidak, tunggu Tuan muda, anda tidak bisa melakukan ini pada saya! Saya se--!!"


Belum selesai Bambang berbicara, sudah ada Barant yang langsung menyeretnya. Kerja Barant itu sangat cepat, bagus, dan akurat. Makanya Asher mempekerjakannya sebagai Asisten.


"Kau, selesaikan yang berserakan. Bawa mereka juga, pastikan dipenjara selama mungkin." Asher mengalihkan pandangannya pada Noel.


"Baik~" Noel dan beberapa bawahan Asher juga keluar untuk membawa orang-orang yang terkapar dilantai tadi.


Asher kembali menatap Tea. "Apa menurut mu lucu sudah menipu suami mu? Apa ini defenisi keluarga bahagia?"


Tea diam, dia tidak ingin mengaku, bibirnya kelu.


"Tu--"


"Diam." Satu kata titah Asher, mampu membungkam mulut Joselyn yang hampir berbicara. Melihat Jose membuat Tea ingat atas perkataannya soal Viocha bukan anaknya.


Tea juga melihat ekspresi wajah Icha dan Will yang khawatir, menatap nanar Tea, sang kakak. Apalagi keduanya juga tampak agak bergetar saat melihat Asher.


"Sayang! Aku akan ceritakan nanti ada hal yang harus ku urus! Bisa tolong tunggu di mobil! Aku mohon~" Tea mengeluarkan binaran mata yang sangat imut.


Aku manggil sayang karna aku gak mau Icha atau Will khawatir. Ternyata aku menjalani kehidupan pernikahan yang penuh kesedihan dan penderitaan. Apalagi barusan Asher terlihat kasar sekali, mereka pasti khawatir.

__ADS_1


Asher diam, dia hanya menaikkan sebelah alisnya, dengan senyuman tipis yang ia terbitkan.


Itu senyum ngejek kan? Dasar Asher sialan!


Tea jinjit, mendekatkan bibirnya pada telinga Asher. "Aku manggil gitu cuma karna aku gak mau, kedua adik ku khawatir soal pernikahan ku." Bisik Tea sepelan mungkin, tapi Asher bisa mendengarnya. Tea hanya berbisik, namun itu terlihat seperti Tea mencium telinga suaminya.


Tea kembali berdiri dengan normal, setelah mengucapkan apa yang ingin dia katakan.


Tapi malah Asher yang menarik Tea ke dalam pelukannya. Bukannya kelihatannya saja, tapi Asher benar-benar menggigit telinga istrinya. "Ini namanya totalitas akting."


Asher sudah memberi jarak antara tubuhnya dan Tea yang tadi sangat menempel.


*cup


Dia membungkuk sedikit, mendaratkan satu kecupan tepat di bibir wanita itu. Hanya kecupan singkat dan hangat.


"Aku tunggu di mobil, jangan lama." Asher berjalan keluar. Sedangkan Tea masih diam mematung. Jantungnya berdebar menyenangkan, padahal baru beberapa hari lalu dia meyakinkan diri untuk menghentikan perasaannya pada Asher, dan memblokir pria itu dari hatinya. Tapi saat ini, hatinya malah berdebar kencang karna orang itu.


"Kakak!" William langsung mendekati Tea. "Dia gak jahat sama Kakak kan? Gak pernah kasar kan?"


Tea menggeleng sambil menerbitkan senyum.


Tentu saja Tea harus menyimpan jawaban dalam hatinya hanya untuk dirinya sendiri.


"Kak ..., " Viocha menatap sendu sang Kakak. Ah, melihat Viocha, Tea ingat satu hal.


"Apa maksud Mama bilang Viocha bukan anak kandung Mama?! Apa Tea juga bukan? Apa cuma Will aja yang anak kandung Mama?!" Tea melirik ke arah Jose. Sedangkan yang dilirik berusaha mati-matian mengalihkan pandangannya.


"Jawab Kak Tea Ma!" Suara Will sudah meninggi. Namun Jose masih belum menjawabnya.


"Aku memang bukan putrinya, aku udah tau sejak dulu." Viocha membuka suara, hanya itu yang dia katakan.


"Ma! Bilang! Bilang kalau Kak Vio bohong, kan?!"


"Iya! Iya! Dia bukan anak kandung ku, dia juga bukan saudara kalian! Tea, kau benar putri ku, dan Will juga putra ku. Kalian berdua anak kandung yang kulahirkan dengan rahim ku sendiri." Akhirnya Jose mau membuka mulutnya. Hanya Will dan Tea yang terkejut, sedangkan Viocha hanya diam. Soalnya seperti yang dia katakan, dia sudah tau.


"Ma...!"

__ADS_1


"Dia anak selingkuhan ayah mu! Dia anak lacur jalanan!"


"Mama!!!" Tea dan Will sama-sama memekik.


Tea sudah sakit kepala, dia benar-benar tidak menyangka ada kebenaran menyedihkan yang akan menyapa telinganya hari ini. Fakta ini benar-benar mengguncangnya.


...***...


Hari sudah gelap, akhirnya Tea melangkahkan kakinya keluar dari pintu rumah itu, dia hanya sendiri. Karna Viocha sudah kembali lebih dulu, anak itu ingin sendiri dulu katanya.


"Udah malam ya?" Tea mengucek matanya, yang sudah sedikit membengkak, berkat tangis yang pecah dari tadi. Fakta mereka beda ibu, terlalu mengguncang Tea.


"Noel dimana?" Tea mengedarkan pandangannya, dia tidak menemukan mobilnya ataupun menangkap suara Noel yang berisik.


"Apa memang begitu sulit bagimu untuk mencari ku lebih dulu? Dibanding supir mu itu? Padahal, aku yang sudah menunggu mu."


Tea berbalik, ke arah suara familiar yang berasal dari belakangnya.


"As! Kau masih disini? Apa yang kau lakukan di sini?!"


Wah, sepertinya putri rata lupa bahwa bandit payah datang untuk menolongnya.


"Kau kan yang menyuruh ku menunggu, apa ka--kenapa dengan mata mu? Kau habis menangis sehebat apa? Siapa yang melakukannya?" Asher menyentuh pelipis istrinya, masih tersisa air mata yang belum kering disana.


Oh iya, kan aku yang suruh nunggu di mobil. Tapi, mana aku tau dia bakal nurut? Dia kan Asher Vinchete Anumertha, ngapain buang waktu nungguin orang pulang dari siang sampai malam.


"Ini gak nangis tau, ini tu--"


"Karna keluarga bahagia? Wah, ternyata putri rumah kaca yang banjir akan kasih sayang bisa menangis sehebat itu. Apa kalian sedang terharu karna lama tidak bertemu?"


"Kau mengejekku ya?"


"Mana mungkin, putri rumah kaca, dan keluarga bahagia!"


"Gak ada keluarga bahagia! Keluarga ku memang gak harmonis! Puas?!" Tea sudah kesal saat ini, dia sensitif sekarang, bisa tolong jangan menambah kekesalannya?


"Kenapa marah? Kita masih bisa membuat keluarga bahagia kita sendiri."

__ADS_1


Tea menatap Asher serius. "Apa yang kau bilang?" Tea harus menanyakan ulang, sebelum dia salah paham, dia harus benar-benar yakin apa yang didengarnya salah atau tidak.


"Tidak ada, ayo pulang."


__ADS_2