Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
24. Dilempar dokumen sakit juga yak


__ADS_3

"Tolong kedepannya jangan ikut campur soal ini, anggap saja anda tidak pernah melihat kejadian ini, dan tutup mata seolah anda tidak tau apa-apa. Jika mengerti, tolong lakukan itu saja. Jika anda iba, tolong tetap diam selamanya."


Tea masih mengingat kejadian hari ini dengan sangat jelas. Dia melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, Eve yang menjadi pelayan dengan wajah dingin seolah tak memiliki hati lagi. Juga Morgan sang brengsek yang bermain wanita di depan tunanganya.


Dan kalimat peringatan yang Eve ucapkan masih terngiang sangat jelas dikepala Tea. Setelah dia mendapatkan dokumen itu dari Morgan, belum sempat Tea menanyakan apa yang terjadi. Eve sudah memperingatkannya dengan jelas. Membuat Tea tak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa merenungi apa yang baru terjadi.


Tea langsung angkat kaki, dia tidak ingin kehilangan harga diri, karna memaksa masuk kedalam urusan orang lain.


Tapi kenapa Eve gitu? Kenapa dia mau jadi pelayan? Dan kenapa dia lebih milih Morgan yang brengsek daripada Asher? Harusnya kan dia milih Asher, Asher gak akan sekasa--


Tea tampak diam, dia berpikir sejenak.


Gak ada bedanya sih soal kekasaran. Tapi kan, kalo itu Asher, seenggaknya dia bisa menerima perlakuan layak, gak mungkin jadi pelayan kan? Kenapa Eve lebih milih Morgan? Kalo dia milih Asher, dia dapat uang, kekayaaan, kekuasaan, dan lain-lain.


"Ha~" Ini sudah lebih dari lima kali Noel menghela napas, seolah menanggung beban dunia lima kali lipat hari ini.


"Jangan bilang helaan napas mu itu karna derita lajang tua." Sahut Tea sekenanya. Dia sudah lelah, otaknya yang berkapasitas terbatas, tidak sanggup untuk berpikir lagi. Mungkin kalau ada waktu senggang dia bakal pikirkan itu nanti.


"Berapa kali saya bilang, tolong jangan sebut saya lajang tua, Non kan bisa pakai sadboy."


"Terkadang sadar diri dan sadar usia itu penting sih."


Mobil mereka sudah terparkir di kantor Asher. Noel membukakan pintu untuk Tea sebelum sindiran menyebalkan keluar.


"Non mikirin apa sih dari tadi? Habis ngambil dokumen Non banyak bengongnya, apa akhirnya otak yang jadi pajangan kini dipergunakan?"


Tea berhenti sebentar, dia melirik ke arah Noel. "Kau tau Noel, kalau nanti malam kau muntah paku, ingat itu ulah ku."


"Kalau besok pagi Non liat paku di wastafel, ingat Non, itu tahajud saya berhasil."


"Surga menunggu mu Noel, tetap halal kawan." Tea mengacungi jempol pada Noel. Noel juga membalasnya dengan senyuman kebanggaannya.


-


-


Brakk!!!


Astaga! Tea baru masuk ke ruangan Asher, tapi dia sudah dilemparin dokumen? Bahkan tepat diwajahnya, Kesialan apa yang terjadi hari ini.

__ADS_1


"Aw! Aduh! Sakittt!! Baru juga masuk, orang gila mana yang lempar ini?!" Tea memijit jidatnya yang sudah sedikit memerah.


"Paku belum dikirim, tapi karma sudah terkirim. Ini lah dia, kalau Non suka menganiaya supir jalur putih seperti saya." Bisik Noel tanpa rasa bersalah, ataupun memasang wajah khawatir untuk nonanya.


"Terkadang formalitas itu penting, menangislah karna Nona mu tersakiti." Tea melirik ke arah sang pelempar. Pria berkemeja hitam, yang masih duduk santai bersandar di kursi kehormatannya. Menatap Tea dengan senyuman mengejek.


"Hey, aku tau aku lama! Tapi apa harus sampai melempar dokumen segala?! Ini sakit tau!" Tea mengusap keningnya yang memerah.


"Itu semua salah mu, kau datang di waktu yang salah." Sahut Asher enteng tanpa dosa.


"Coba katakan itu sekali lagi?" Tea sudah bersiap ingin melepas sepatunya.


"Nona muda, maafkan saya. Ini semua salah kami yang membuat Tuan Muda Asher marah." Kali ini Barant yang menjawabnya.


"Ini salah saya Nona, harusnya saya yang menerima lemparan itu. Ini salah saya yang menghindar akhirnya mengenai Nona." Sahut satu dari tiga pria dewasa yang berseragam rapi. Tepatnya pria berkemeja putih.


Ah, Tea mulai mengerti situasi saat ini. Dia bisa menebaknya dari dokumen yang berserakan, dan wajah parah bawahan yang ketakutan.


"Hey Asher, jangan katakan bahwa yang terjadi sekarang adalah mereka membuat kesalahan dan kau melempar wajah mereka dengan dokumen?" Tea menatap Asher tajam.


"Benar." Sahutnya enteng tanpa ragu.


Tea menghargai orang yang bekerja keras, Tea tidak suka jika kerja keras seseorang dianggap remeh, bahkan jika dia jenius sekalipun dia tetap harus menghargai yang namanya kerja keras.


"Kalau mereka tidak suka dilempar, mereka bisa keluar." Tidak ada penyesalan diwajah Asher! Tidak ada!


Tea tau Asher itu sombong soal wajahnya, tapi dia tidak tau bahwa pria ini memiliki kesombongan dan keangkuhan yang haqiqi seperti ini.


"Asher!!" Mata Tea tak berkedip menatap langsung retina itu.


"Baiklah, aku tidak akan melemparkan dokumen seperti itu lagi, karna 10 persen saham, jauh lebih berharga." Asher tersenyum tipis.


Tea diam, dia masih menatap Asher dengan tajam.


"Kalau kau berfikir 10 persen saham mampu membuat ku meminta maaf, kau salah besar. Jadi, jangan katakan itu putri ra-- jangan katakan itu! Dan kalian bertiga, keluar sekarang, perbaiki seperti yang ku perintahkan!"


Ketiga pria dewasa itu segera pergi keluar, namun pria berkemeja putih itu melihat Tea sekilas.


Tunggu? Dia tadi cancel panggilan rata itu kan? Astaga~ apa sekarang dia mulai memperhatikan harga diri ku?

__ADS_1


"Kau supir, keluar." Asher melirik tajam ke arah Noel.


"Tunggu, kenapa Noel harus keluar?"


"Karna aku menyuruhnya keluar. Apa kau ingin membantah perintah ku, supir?" Asher masih menatap Noel.


"Tidak tuan muda, saya akan pergi."


-


-


"Aduh! Pelan dong!" Teriak Tea saat Asher mengoleskan salep luar biasa nan mahal miliknya.


"Diamlah putri rata, ini bahkan tidak lebih sakit dari jedutan kita hari itu." Asher sesekali meniup tempat yang terlihat merah itu.


"Udahlah, aku mau pulang. Aku ngantuk, pokoknya ini dokumennya udah aku antar dengan aman!"


"Kau kan bisa tidur disini, aku punya ruangan tidur disana, untuk apa pulang?" Asher menunjukkan ruangan kecil yang berisi sebuah kasur, sofa kecil, dan beberapa meja tanpa jendela.


"Benar juga, aku kan bisa tidur disini. Nyalakan Ac nya Asher, kau gak tau matahari ribut makanya dia panas sekali hari ini." Tea melemparkan dirinya di atas kasur itu, menikmati lembut dan dinginnya ruangan itu.


Asher bangkit, dia memgambil sebuah selimut, menutupi tubuh Tea.


"Apa memiliki banyak saham membuat mu jadi gila? Aku kan sudah bilang panas, buat apa selimut? Ingin membakar ku?"


"Diamlah, kau gak akan mengerti. Pakai itu cepat."


"Asher, minta asisten mu membelikan makanan untuk ku, karna perintah seseorang aku belum makan. Ah jangan lupa, Noel juga."


"Hey putri rata, apa kau berteman dengannya?"


"Maksud mu Noel? Aku gak berteman dengannya tuh, tapi aku berteman dengan saraf kebahagiaannya."


Asher mengernyit heran. "Apa maksud mu?"


"Sudahlah, orang luar seperti mu tidak akan mengerti."


"Apa kau bilang? Coba katakan sekali lagi?"

__ADS_1


__ADS_2