
Tea sedang menikmati berendam air hangat dengan busa yang menutupi seluruh permukaan bathtup. Tea tidak ingin berpikir soal Asher, sialnya dia malah terus kepikiran.
Dia memejamkan matanya, mencoba menikmati hangatnya air ini, setelah dia terguyur oleh dinginnya hujan dan takdir.
Cape banget, lemes banget.
Entah kenapa, Tea merasa ada yang menyentuh rambutnya, bukan, bahkan sepertinya menarik-narik lembut rambutnya. Sontak Tea membuka matanya, dia cukup takut, namun dia bisa lebih tenang karna pria yang ada di belakangnya saat ini adalah Asher.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Pekik Tea seketika. Ah, dia terkejut.
"Apa lagi yang bisa dilakukan di sini saat ini, kecuali melihat mu mandi." Sahut Asher enteng, yang kini sudah menyandarkan siku nya dipinggiran bathtup Tea.
"Ya itu masalahnya, buat apa kau melihat ku mandi?!"
"Aku penasaran."
"Sudah ku bilang kan, aku gak mau melihat mu hari ini, jadi keluar aja!"
"Tapi aku ingin melihat mu hari ini."
Wajah Asher yang seolah tanpa dosa itu, benar-benar menyebalkan, membuat Tea geram. Tea melemparkan beberapa busa ke wajah Asher.
"Astaga, bagaimana ini wajah mu jadi kotor, kau harus keluar dan membersihkannya, maaf ya aku tidak sengaja." Wajah Tea saat ini sudah sama menyebalkannya dengan Asher tadi.
"Putri rata memang payah, sejak kapan buih sabun bisa membuat orang kotor." Asher tidak marah, ataupun membalas Tea.
"Tapi sesuatu yang gak sesuai--"
"Maaf...,"
Suasana hening saat itu, setelah Asher mengucapkan satu kata yang terdiri dari empat huruf ifu. Satu kata yang paling sering Tea dengar kala lebaran tiba. Satu kata yang maknanya luar biasa.
"Hey Bandit payah, sepertinya telinga ku banyak kemasukan sabun deh, aku salah dengar." Tea membilas telinganya yang baik-baik saja.
Namun, Tea sadar bahwa dia tidak salah dengar saat menatap wajah Asher yang serius, pandangan matanya hanya menunduk kebawah.
"Kau minta maaf karna Kakek mencabut dua persen saham mu?" Hanya itu yang bisa Tea pikirkan sebagai alasan Asher mengatakan ini. Tidak mungkin pria angkuh dan arogan itu, minta maaf kan?
Mustahil.
"Apa dia bilang akan menarik dua persen saham ku? Aku baru tau, pantas saja dia berisik minta bertemu."
"Jadi bukan karna itu?" Tea mengernyitkan dahinya.
"Bahkan lima puluh persen yang ditawarkan Pak tua itu dengan syarat aku harus meminta maaf padanya, aku menolak. Jadi hanya dua persen saham? Kau bercanda?"
__ADS_1
Tea diam, dia masih agak sulit mengerti situasi saat ini. "Jika bukan karna itu, kenapa kau minta maaf pada ku sekarang? Apa karna kau merasa bersalah?"
"Aku bahkan gak tau kesalahan ku apa." Ya, ya, itu adalah jawaban singkat dari Asher.
"Keluar sana!" Tea mendorong Asher pergi. Siapa yang tidak emosi? Jika diperlakukan seperti itu.
"Tapi, menyebalkan sekali melihat mu yang marah-marah tidak jelas, pergi begitu saja, dan gak mau berbicara dengan ku. Itu menyebalkan."
Itu benar, aku tidak suka dia yang marah dan selalu menghindari ku, marah setiap aku mengajaknya berbicara, itu sangat menyebalkan hingga aku tidak tahan.
Asher hanya mengatakan itu didalam hatinya, ya cukup dihatinya saja.
"Kau minta maaf tanpa tau kesalahan mu?"
"Memangnya aku salah apa?"
"Kau itu menyebalkan! Aku kasih tau, kau bersalah karna kau berdansa dengan Eve lalu meninggalkan ku sendiri!"
"Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakannya pada mu?"
"Kalau sudah kau katakan? Aku harus maklumi itu, dan menjadi istri pengertian?"
"Kalau begitu, kau memaafkan ku?"
"Apa kau pernah minta maaf pada orang sebelum aku?"
Tea tersentak halus, dia tidak tau perasaan segar apa yang berdesir di hatinya. Namun yang jelas, dia menikmatinya.
"Aku maafkan!"
Tea tidak percaya bahwa akan ada orang yang minta maaf tanpa tau kesalahannya, Asher hanya minta maaf karna dia tidak ingin hubungan mereka dipenuhi pertengkaran serius.
Asher tersenyum tipis, Tea yang marah sambil memaafkan benar-benar menggemaskan.
"Ah, ada seseorang yang mengatakan aku kotor karna buih, sepertinya aku harus mandi." Asher membuka kaosnya, menampilkan roti sobek enam bagian di perut.
Tea yang melihat itu, nyaris kehilangan kesadarannya, itu benar-benar menggoda, belum lagi otot lengan yang terlihat berkilau itu.
Arhh, aku gak tahan! Itu terlalu menggoda! Enyah sana!
"Kau kan sudah mandi, buat apa mandi lagi?!" Tea menutupi wajahnya dengan kesepuluh jarinya. Tapi, dia masih mencoba mencuri-curi pandang dari celah jari-jari itu. Tea tidak boleh kehilangan kesempatan langka memuaskan diri dengan ini!
"Kenapa? Aku kan bisa mandi dua kali, tapi bukannya kau menikmati ini?" Asher mencoba masuk ke dalam bathtup yang sama dengan Tea.
Tea dengan cepat menghentikannya. "Ini sempit tau! Gak cukup buat dua orang! Gantian!"
__ADS_1
"Kita belum mencobanya, jadi belum tau kan?" Asher memaksa masuk, namun Tea masih menghalanginya.
*Cup
Tanpa sengaja bibir keduanya bersentuhan, Tea masih diam, namun Asher yang mengambil inisiatif menjadikan sentuhan itu menjadi ciuman sesungguhnya. Tea tidak bisa menolak, dia juga penasaran dengan sesuatu yang disebut ciuman.
Asher terus memberikan Tea sesuatu yang belum pernah Tea rasakan, permainan menyenangkan antara kedua bibir itu terus terjadi di dalam sana.
"Bernapaslah, itu gak lucu kalau kau pingsan di ciuman pertama."
Tea tidak memperdulikan apa yang Asher katakan, dia menyentuh bibirnya sembari menarik napas.
"Manis...," Gumam Tea, dengan kedua pipi memerah dan ekspresi wajah yang menggemaskan.
Asher tersentak halus, matanya sedikit membulat, dia tersenyum smirk penuh maksud.
"Ck...! Sial...," Asher dengan cepat kembali menyosor bibir mungil Tea, melakukan beberapa trik yang memang dia kuasai.
Jahatnya dia, apa dia tidak tau Tea masih mencoba berpikir ciuman pertamanya yang diambil. Dan Asher sudah memberikan Tea lagi. Namun, Tea tidak bisa menolak, itu terlalu nikmat dan manis untuknya.
"Kau bilang kau ingin punya anak kan? Ayo kita buat sekarang." Bisik Asher, dengan sesekali mengggigit leher ataupun telinga Tea. Membuat gadis itu begidik geli.
"Se-sekarang?!"
"Iya sekarang, suasananya mendukung saat ini. Kita gak tau, kapan saat seperti ini akan tiba lagi."
Wajah Tea sudah merona panas, itu lebih merah dari yang terakhir kali Asher lihat.
"Tapi aku gak mau di sini, ini gak nyaman."
Asher tersenyum tipis. "Baiklah, kita akan melakukannya di kasur. Aku cukup baik memberikan pengalaman pertama mu di ranjang." Asher berniat mengangkat Tea dari bathtupnya.
"Aku bisa pergi sendiri! Kamu balik dulu, aku mau pakai handuk!"
"Buat apa, pada akhirnya kan aku lihat semuanya."
"Balik badan cepat! Tidak sopan untuk seorang bandit, melihat putri pakai handuk!"
"Emang apa yang bisa dilihat?"
Asher menghela napasnya, dia mengikuti perkataan Tea dan membalikkan badannya, dengan cepat Tea mengambil handuk putih lembut tak jauh darinya, melilitkannya asal-asalan asal bisa menempel dengan cepat.
"A-ayo...," wajah Tea memerah, itu sudah menggoda. Apalagi dengan dia yang hanya memakai handuk sepaha, membuat kaki jenjangnya terpampang mulus. Itu sempurna untuk melakukan malam pertama.
"Jangan minta berhenti di tengah-tengah." Asher mengangkat Tea, menciumnya sembari berjalan ke ranjang mereka.
__ADS_1