Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
58. Aduh!


__ADS_3

"Aku menginginkan anak dari mu, tapi jika karena anak itu kau jadi seperti ini, hanya diam dan menangis, lebih baik aku tidak memiliki anak. Jadi, berhentilah menangis. Kau tidak akan tau, betapa sakitnya sesuatu yang di sebut hati ini ketika kau hidup tapi seperti tak hidup." Asher menarik satu tangan Tea menggenggamnya, menuntun tangan yang kian mengecil itu ke dadanya, di tempat hatinya berdetak.


Tea diam, tidak tau apa yang hatinya rasakan, namun dia jauh lebih tenang saat ini. Perkataan manis dan menghangatkan ini, berhasil menenangkan jiwanya yang bergetar. Dia bisa bernapas lebih lega, badannya lebih muda digerakkan, matanya lebih semangat untuk terbuka, bibirnya lebih berjiwa untuk berkata-kata.


"Kau tidak akan meninggalkan ku dan pergi bersama Eve?" Tea menatap lekat-lekat mata itu, melirik bibirnya yang baru saja berkata dan mengeluarkan janji manis.


"Kenapa aku harus meninggalkan mu dan pergi bersama wanita itu? Aku bahkan tidak lagi ingin melihat wajahnya." Asher mengusap wajah Tea, memperbaiki rambutnya yang sudah acak, sangat lembut dan hangat.


"Kenapa kau tidak ingin melihat wajahnya? Kau bilang kau bahkan akan memilikinya meski dia menjadi jasad."


"Kau bertanya padahal penyebab utamanya adalah karna mu?"


"Karna aku?! Kenapa jadi salah ku?!"


"Bukan salah mu, ini salah takdir yang mempertemukan kita terlalu lama, jika lebih cepat mungkin aku tidak perlu bertindak bodoh seperti dulu. Tapi, apapun itu, yang penting kita sudah dipertemukan. Semuanya akan menjadi hal baik mulai sekarang."


"Maksudnya?" Tea memang agak lola ya sekarang, kenapa dia tidak mengerti begitu saja. Dan Asher, kenapa tidak mengatakannya dengan jelas.


"Lupakan, sekarang yang terpenting berhentilah meratapi itu semua. Kita akan baik-baik saja, bahkan tanpa anak sekalipun. Sekarang yang terpenting yang harus kita pikirkan adalah, pesta pernikahan kita. Berkat seseorang, dua bulan sudah lewat begitu saja."


"Tanggal berapa sekarang?"


Terlalu lama meratapi banyak hal membuat wanita ceria ini lupa waktu.


"Tiga Juni."


Tea mengingat kembali, itu benar, harusnya bulan ini akan diadakan pesta pernikahan termegah tahun ini, di hotel Hyunan, hotel kelas atas yang bukan main ratenya.


"Kita melupakannya Asher!"


"Bukan kita, tapi kau."


"Terus bagaimana?"


"Bagaimana apanya? Kau gak berpikir untuk membatalkannya kan? Kita bisa adakan akhir bulan, makanya berhenti meratapi itu, kita harus mempersiapkan banyak hal."


"Mulai besok?"


"Mulai hari ini, kau jadi pemalas akhir-akhir ini. Pertama ayo mandi, kita akan pergi ke butik setelahnya."

__ADS_1


Asher membuka selimut Tea, tampak suasana sang istri membaik, walau hanya sedikit saja. Tampak cahaya kehidupan yang redup-redup bangkit. Memang benar, Mengapa Tea harus bersedih berlarut-larut? Jika partner sehidup sematinya mengatakan baik-baik saja, dengan dirinya yang tidak sempurna.


"Aku bisa mandi sendiri." Tea mencegah saat Asher ingin menggendong dirinya.


"Aku yang mau mandi berdua." Asher mengangkat tubuh Tea, bahkan saat sang istri meronta.


"Aku malu tau."


"Berikan pada ku, kebetulan rasa malu ku sudah habis."


"Aku lelah, aku gak ingin mandi, kita langsung pergi saja."


"Kau cukup diam saja, aku yang akan mandikan."


Tea pasrah, dia sudah kehabisan kata-kata. Wanita itu sudah memasrahkan diri bagaimana dia akan dimandikan oleh sang suami yang akhir-akhir ini berubah hangat dan manis.


-


-


-


Tea menghela napasnya, saat ini dia sedang makan berdua bersama Asher dimeja makan. Setelah selama tiga minggu lebih dia hanya makan di kamarnya, itupun dengan niat dan tidak niat. Ajaib memang perkataan Asher membangkitkan semangat wanita itu, walau hanya sedikit.


"Kau mau mandi lagi? Aku bosan dikamar mandi, kita bisa coba di sofa nanti. Aku akan memerintahkan Sheila mengusir seluruh pelayan untuk malam ini." Sahut Asher tanpa dosa.


Jangan tanyakan betapa dia sangat lega saat ini, suasana istrinya semakin membaik, apalagi setelah mereka melakukan penyatuan yang cukup lama dan menguras tenaga juga keringat.


Asher bisa merasa bernafas dan hidup lagi, saat sang sumber kebahagiaan mulai berisik.


"Kau...! Gak mau! Jangan lakukan itu Asher! Jangan usir pelayan!"


Asher tersenyum, kali ini dia benar-benar yakin bahwa putri ratanya sedikit lebih baik.


Harusnya aku meyakinkan dirinya sejak awal, mungkin dia tidak akan selama itu menangis, kau payah Asher.


"Kau mengejek ku ya?" Tea menajamkan matanya.


"Menurut mu?" Asher menjawabnya dengan nada menyebalkan. Ah, inilah yang dia rindukan, ribut dengan putri ratanya.

__ADS_1


Tea menarik napasnya dalam-dalam, dia tidak ingin menghancurkan moodnya siang ini karna suami menyebalkannya.


"Tapi Ash, apa kakek masih mau mengadakan pesta pernikahan kita? Aku bukan menantu yang sempurna, pasti di--"


"Ck, kalau dia tidak ingin mengadakannya, aku yang akan adakan. Kenapa takut?" Asher memotongnya dengan cepat, dia benci sekali istrinya yang berpikiran negatif, dan kekurangan semangat seperti itu.


"Kenapa aku tidak akan mengadakannya? Aku bahkan akan mengadakannya besar-besaran." Luar biasa, Kakek mendadak sudah datang dan ikut berbicara. Beliau langsung mengambil posisi duduk disebelah Tea, Kakek mengambil sebuah apel dan dengan khusus mengupas dan memotongkannya demi Tea.


Siapa yang bisa mendapat kehormatan di perlakukan begini oleh Presdir hebat Bryan Kert Anumartha? Oh, hanya Tea dan orang yang ia cintai saat masih muda.


"Kakek?! Tapi, Tea bukan menantu yang sempurna, Tea memiliki banyak kekurangan, dan Te--"


"Berhentilah beromong kosong Nak, siapa yang bilang kau banyak kekuarangan? Akan ku pastikan dia akan merasakan apa itu kekurangan? Apa suami mu mengatakan itu pada mu?" Kakek melirik Asher dengan pandangan yang sangat tajam.


"Aku bahkan menghiburnya mati-matian." Asher tak ingin kalah, dia juga tak berkedip atau mengalihkan pandang saat Kakek dengan banyak pengalaman itu, mengintimidasinya dengan tekanan besar.


"Tapi Tea gak bisa melahirkan keturunan dari darah kakek," Memang ya Tea, kalau sudah gak percaya diri bawaannya selalu merendah. Yah, memang siapa yang bisa percaya diri mengatakan dia menantu yang baik, padahal kekurangannya sudah terpampang jelas?


"Kau mungkin saja bisa, ada satu cara, da--"


Brak!!


"Diam!" Asher langsung meninggikan suaranya, memotong penjelasan Kakek tua itu. Dia menatap tajam penuh kebencian pada sang Kakek, tidak peduli seberapa tinggi status orang tua ini, tapi Asher mau dia tetap tutup mulut.


"Apa? Ada caranya? Kakek jelaskan pada ku, da--"


"Tidak ada!"


Lagi-lagi Asher juga memotong ucapan Tea dengan cepat.


"Apa maksud mu Ash?! Jika ada caranya, kenapa tidak kita coba?! Kenapa kau memotong dan menghentikannya?! Apa kau benar-benar tidak ingin memiliki anak dengan ku?!" Tea juga sudah terbawa suasana, secercah harapan kecil sudah datang padanya, tapi harapan itu malah di tendang suaminya. Apa maksudnya? Padahal Asher sendiri yang bilang, jika bukan dengan Tea maka dia tidak tertarik memiliki anak, kan?


"Aku ingin memilikinya dengan mu, tapi jika karena itu kau hancur, aku tidak bisa Tea!"


"Yang Asher katakan itu benar Nak, memang sulit untuk kau hamil secara normal, tapi masih ada cara, yang ku maksud adalah bayi tabung. Tapi, kesuksesan cara ini tidak terjamin, ada yang sudah mencobanya dua, tiga, hingga berkali-kali tidak berhasil, tapi ada juga yang berhasil. Semuanya tergantung takdir, dokter sendiri bilang tidak bisa menjamin, hanya sang penentu takdir yang akan menentukan keputusan terakhir. Tapi tetap saja, ini sebuah cara dan harapan, kan?" Kakek juga ikut masuk, memberi penjelasan sebelum sepasang suami istri yang baru berdamai itu malah ribut lebih parah.


"Itu yang ku maksud, jika menggunakan cara ini kau akan berharap, dan jika itu gagal, kau akan terpukul. Aku tidak bisa melihat mu seperti itu lagi, aku tidak bisa Tea! Rasanya mau gila melihatmu menderita seperti itu, mengertilah!" Asher mengacak rambutnya frustasi.


"Tidak ada jaminan cara itu akan berhasil." Asher melembutkan suaranya, dia menggenggam bahu Tea hangat.

__ADS_1


"Tapi masih ada kesempatan cara itu berhasil kan?"


Apa menurut Asher, setelah melihat ada secercah harapan, Tea akan mundur?


__ADS_2