
Aku akan memberinya pelajaran, agar dia angkat kaki dari mansion ini. Dia tentunya sudah mendengar gosip panas antara hubungan ku dan Eve. Manfaatkan itu saja.
"Eve!" Aku memanggil nama itu, dengan hangat. Argh, lidah ku nyaris tergigit, itu sangat menggelikan. Aku bahkan tidak pernah memanggil Eve dengan nada seperti itu.
Dia marah, dan diluar dugaan, dia masih mengenakan pakaiannya secara lengkap. Aku cukup terkejut, kami berdebat sedikir, dari pertemuan pertama ini aku bisa menyimpulkan dia adalah gadis petakilan, biasa aja, tidak cantik, tubuh tidak menarik, dada rata, dan dia juga tidak anggun sama sekali. Dan jelas, dia itu ceroboh dan pasti tidak berbakat seperti Eve. Ya, keseluruhan soal dirinya adalah biasa aja. Tidak ada apapun yang bisa dibanggakan dari dirinya.
Aku semakin yakin untuk segera menceraikannya. Aku memaksanya keluar dengan kasar, tapi aku malah mendapatkan sebuah amplop. Aku mengeceknya, ini di luar dugaan. Aku benar-benar mendapatkan sepuluh persen saham hanya karna menikahinya.
Aku melihatnya lagi, wajahnya cantik, tapi tidak semenarik Eve. Melihatnya, kepala ku jadi penuh perbandingan antara dirinya dan Eve. Baiklah, aku biarkan saja untuk hari ini. Besok aku harus mengusirnya dari kamar ku, ah tida, bukan dari kamar, tapi dari Mansion sekalian.
Aku akan menerima dia sebagai istri ku dulu, setelah aku mendapatkan saham Anumertha seutuhnya, aku akan segera menceraikannya dan mencampakkannya. Yah, setidaknya aku akan memberika rumah mewah jika dia bersikap baik.
-
-
Aku enggan sekali membuka mata walaupun aku sudah bangun, tidak ada yang menyenangkan. Semuanya membosankan, terkadang pertengkaran, dan persaingan yang ku lakukan terasa membosankan, bahkan aku merasa merampas kembali Eve adalah sebuah permainan untuk melepaskan kebosanan.
"Woah! Liat otot yang keren ini---"
Awalnya terasa membosankan, sampai aku mendengar segala celotehan gadis aneh ini, soal tubuh ku yang sempurna. Sejujurnya aku membenci tubuh ku di sentuh, tapi cukup menyenangkan melihat ekspresinya yang polos, juga dia yang melongo takjub sembari menyentuh badan ku.
Sepertinya aku akan mengusirnya besok saja.
__ADS_1
Setiap hari berlalu begitu.
Tidak, aku akan mengusirnya besok!
Hari-hari terus berlalu.
Akan aku pastikan mengusirnya besok pagi!
Pagi kepagi terus berlalu, tapi dia masih berada di kamar ku, dan aku terus berpikir untuk mengsuirnya besok. Tapi besok yang dimaksud, adalah besok yang tidak kunjung datang. Jangankan mengusirnya dari rumah ini, dia bahkan belum angkat kaki dari kamar ini. Kamar pribadi ku yang bahkan pelayan tidak bisa berlama-lama disana untuk membersihkannya.
Aku akhirnya melupakan soal untuk mengusirnya. Karna aku cukup terhibur dengan dirinya yang berisik setiap pagi, bukan hanya pagi, tapi setiap kami bertemu.
Lagipula, kakek tua itu sepertinya cukup menyayangi wanita ini. Jadi aku akan memperlakukan dia dengan baik, Aku bahkan belum tau nama lengkapnya, aku hanya tau kakek tua itu dan para pelayan lainnya memanggilnya Tea.
Setelah ku perhatikan dia dari atas sampai bawah, aku menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
"Putri rata." Yah, panggilan itu lebih mudah keluar daripada harus sulit menyebutkan namanya.
Aku paling suka mengganggunya saat bercermin, melihat ekspresi kesalnya yang sungguh seru diliat, apalagi jawaban absurd dan aneh yang ceplos begitu saja dari mulutnya, itu sulit dilupakan.
Dengan sifat dan kepribadiannya yang seperti itu, aku rasa aku tidak keberatan untuk memperlakukannya dengan baik, ya ini semua juga demi saham sepuluh persen, hanya demi saham sialan itu.
Ada hari dimana dia mengunjungi kantor ku pertama kali, aku kesal dengan siapapun yang mengganggu rapat. Ada bawahan bodoh yang mengacaukannya, aku mengusirnya, tapi saat itu aku malah melihat putri rata ada diluar. Dia lagi-lagi membawa dokumen penting antara aku dan kakek tua itu, ya dengan pai buatannya di tangan kanan.
__ADS_1
Aku sudah bisa menduga isi dokumen itu adalah ketentuan dan hukuman yang berlaku jika aku menyakiti putri rata secara fisik. Ini adalah syarat yang dibuat kakek tua itu. Sungguh! Ini sangat diluar dugaan, dia yang dingin tanpa darah dan air mata, bisa mengerahkan banyak hal demi kenyamanan gadis biasa aja ini.
Apa mungkin dia bukan cuma gadis biasa? Sebenarnya dia sangat berbakat dalam bisnis? Aku akan mengetesnya.
Aku akhirnya meminta dia untuk ikut dalam rapat itu, dia menurutinya, dia mendengarkannya dengan sesksama, dibanding seorang ahli yang paham akan bisnis, dia tampak gadis polos yang berusaha belajar soal bisnis. Kesimpulannya, untuk saat ini, dia dan Eve soal bisnis berbanding jauh.
Eve jauh lebih hebat dalam hal ini, yah pemikiran itu kembali membuat ku ingin merampas Eve yang sempurna.
Tapi, ada satu hal yang dia bisa dan Eve tidak bisa, menyadari bahwa aku sedang bosan di tengah-tengah itu. Benar! Aku sangat bosan! Presentasi yang mereka tampilkan biasa aja. Tidak ada yang tau apa yang aku pikirkan sebelumnya, tapi dia tau? Dia cukup peka juga. Dan jadi sedikit menarik.
Eve memang sempurna, dan dia selalu menuruti kata-kata ku, tapi putri rata ini? Dia benar-benar pembangkang. Eve yang elegan selalu mematuhi ku, tapi gadis ini selalu membantah ku, anehnya aku suka saat dia mengeluarkan celotehan dan alasannya saat membantah. Aneka kata yang dia keluarkan terasa menyenngkan di telinga, berpadu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, benar-benar layak untuk diganggu.
Kami cukup sering berdebat, dan akur. Hari-hari ku yang terasa membosankan sepertinya sudah sirna, aku bahkan nyaris melupakan Eve jika tidak bertemu di acara makan malam itu.
Pada makan malan itu, lagi-lagi Eve terlihat sangat cantik dan sempurna, namun dia mengganti tema dirinya? Dari gadis anggun dan elegan yang biasa disebelah ku? Menjadi boneka polos dan bodoh yang dikendalikan Morgan? Terkadang aku bingung dengan cara pandang gadis ini.
Makan malam yang sudah tidak kuhadiri selama beberapa tahun, aku datangi karna aku ingin putri rata mengenal siapa saja musuh ku saat ini. Dan siapa saja yang harus dia waspadai, bagaimanapun juga kami ada di pihak yang sama.
Satu hal yang tidak biasa terjadi, yaitu kakek tua yang kejam dan dingin itu, mendadak memperlakukan seseorang dengan baik, itu adalah putri rata. Aku memang agak terkejut, tapi tidak sekaget mereka yang ada disana.
Aku yakin, dia melakukan itu hanya demi memperingatkan aku, bahwa dia berpihak pada putri rata, makanya aku tidak boleh menyakitinya.
Menyakiti putri rata? Aku bahkan akan mematahkan tangan siapa saja yang melukainya, tidak seru jika dia terluka, aku tidak bisa berdebat dengannya nanti.
__ADS_1
Aku tau betapa terkejutnya mereka, dan aku tidak peduli. Aku kembali menatap Eve, apa sih yang dia pikirkan sampai dia menempel dengan Morgan dan menjadi bodoh begitu? Karna itu cinta? Cinta itu omong kosng. Aku bahkan sangat geli dan jijik melihat mereka yang suap-suapan, apa gunanya Tuhan menciptakan tangan, gunakan itu!