Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
15. Lagi-lagi soal Eve


__ADS_3

"Kau yang belum pernah melihat dan menyentuhnya secara langsung, tau apa soal milik ku?" Tea tidak ingin kalah! Dia masih percaya bahwa miliknya standar oke?


"Apa? Mau kita lihat sekarang sebagai bukti?"


Tea diam membatu. Tu-tunggu dulu! Tea belum siap dengan keadaan mendadak ini. Dia hanya bercanda oke.


Wajah Tea merona panas, Asher yang menyadari hal itu tersenyum tipis, mana Tea sadar akan senyuman itu karna dia masih peduli dengan deguban jantungnya yang tidak baik-baik saja.


"Gak dulu, kau bau. Mandi sana, baunya nyengat sampai bisa buat lalat mati seketika." Tea mendorong tubuh Asher sekuat tenaga.


"Sudah kuduga, itu memang terlalu rata untuk diraba." Asher bangkit berdiri, dia berjalan santai tanpa dosa setelah meninggalkan kalimat menyebalkan itu.


Tea hanya menatap pria yang masuk ke kamar mandi itu dengan kesal. Namun, dia tidak ingin melanjutkan perdebatan. Meski dia memang ingin seorang anak, tapi tunggu, dia belum siap.


Tea menghela napas lega, keperawanannya baik-baik saja.


"Perempuan mana lagi yang sudah menikah berhari-hari tapi masih perawan seperti ku? Ah aku memang makhluk langka."


-


-


Tea masih memfokuskan diri kepada tulisan dalam buku yang sebelumnya Asher lemparkan begitu saja.


"Ini." Entah sejak kapan Asher segar yang baru mandi sudah berdiri dihadapan Tea. Dia memberikan sebuah credit card premium pada sang istri.


"Hampir dua minggu kita nikah, baru sekarang ngasih nafkah? Luar biasa? Mau apa? " Tea menatap Asher penuh selidik. Mustahilkan dia ngasih karna mencintai Tea dan tidak ingin Tea kekurangan apapun?


"Dua hari lagi kita akan makan malam di rumah utama." Asher memberikan sebuah handuk pada Tea. Dia duduk di depan gadis itu. "Keringkan."


"Apa kau gak kasihan pada tangan mu yang nganggur?" Meskipun kesal dan beberapa kali mendengus menyebalkan Tea tetap mengambil handuknya dan mengeringkan rambut Asher.


"Aku sudah pernah cerita soal Eve kan? Dia yang sudah memiliki kekasih baru?" Asher tidak perduli Tea yang kesal saat ini.

__ADS_1


Apa? Eve lagi? Ayolah, otakku lelah.


"Ya, dan kau yang berniat menghilangkan kekasihnya dari hadapannya."


"Ingatan mu cukup bagus juga ternyata, tidak disangka. Eve dan dia sudah bertunangan. Dan tunangan Eve adalah Kakak tiri kedua ku, Morgan."


Tea mendadak diam, tangannya berhenti bergerak secara tiba-tiba.


"Jadi, dia calon kakak ipar mu? Dan kau ingin merampasnya dari kakak mu?"


"Kurang lebih begitu. Makanya, dua hari lagi saat ada peretemuan keluarga di rumah utama, Morgan pasti akan membawa Eve."


"Bukannya kau gak pernah datang ya selama beberapa tahun terakhir? Terus mendadak datang buat apa? Kangen mantan?"


"Entahlah, bulan ini aku sedikit memiliki niat untuk datang. Aku juga sedikit penasaran bagaimana kabar Morgan dan Eve sekarang."


"Terus hubungannya dengan ku dan kartu kredit ini apa?"


"Iya iya!"


Dada ku sesak sampai rasanya aku mau muntah, tapi aku juga gak sabar, penasaran orang seperti apa Eve itu? Sampai Asher tergila-gila padanya?


Tea merasa harga dirinya terluka, dia harus bertemu mantan kekasih suaminya dengan suaminya yang masih memiliki perasaan padanya. Meskipun Tea yakin dia tidak menyukai Asher, dan tidak akan pernah menyukainya, tapi dia kesal saat ini.


***


"Nah Noel, kau tunggu aku disini, jangan kemana-mana. Main yang benar, aku akan kembali lebih cepat karna kita akan ke butik nanti." Tea pindah dari kursi belakang ke tempat pengemudi. Tepat setelah Noel turun dengan sempurna. Kali ini tempat pemberhentiannya adalah taman kota.


"Empat kali di kafertaria, delapan kali di taman kota, anda majikan yang luar biasa...! Dalam menyiksa! Sebenarnya Non kemana sih? Ajak saya juga dong Non." Noel masih meronta ingin ikut. Wajahnya selalu tampak kesal saat ditinggal.


"Aku punya urusan penting. Kau kan tinggal main, lihatlah dimana kau bisa menemukan majikan sebaik aku? Ya kan?"


"Baik apanya? Non kalo ninggalin saya di kafe non tau kan anak remaja itu ngerubungi saya, kalo di taman kota ibu-ibu yang merapat sama saya sibuk mau ngenalin anaknya, dan itu s-a-n-g-a-t menyiksa asal Non tau aja."

__ADS_1


"Ya ampun, Noel sangat populer~ Kakak ini bangga pada mu, dadah Noel~" Tea dengan santainya menjalankan mobil berwarna abu-abu dengan model terkini. Tea sudah tidak sabar menantikan reaksi Ely nanti.


"Gimana bisa aku jadi supir orang itu?" Noel tersenyum manis menatap mobil yang kian menjauh.


"Apa aku ikutin aja ya? Ah, jangan, bisa-bisa kalau ketahuan dia bakal marah."


Noel yang sudah ahli dalam memata-matai ingin sekali menguntit Tea, namun berulang kali juga dia mengurungkan niatnya demi menghargai privasi Tea.


-


-


"Kakak mobil baru lagi ya? Sekaya apa sih suami pajangan kakak itu?" Tanya Viocha yang baru masuk ke mobil. Hari ini adalah hari pendaftaran Viocha masuk ke perguruan tinggi bergengsi dengan almet biru, sangat cocok dengan kepribadian Viocha yang tenang. Dan Tea dengan antusiasnya akan mengantar adik kecilnya pergi.


"Ya pokoknya kakak gak akan pernah mati kelaparan karna dia." Jawab Tea sekenanya sembari melajukan mobilnya.


"Kak, apa kakak bahagia sama pernikahan itu?"


Sudah nyaris dua minggu dia dan Asher menikah diatas kertas, bahkan tanpa pesta. Tea bilang bahwa suaminya tidak kasar, dan Viocha kelihatan tidak tertarik karna tampaknya Tea baik-baik saja. Tapi sekarang apa? Viocha mulai menanyakan pertanyaan mendalam itu?


"Kamu tau kan sejak awal Kakak sama dia, sama-sama gak niat nikah. Jadi, menurut kakak yang sekarang terjadi itu sudah cukup membahagiakan, dia nafkahin kakak, dia gak kasar, gak ngusir, dan gak ikut campur. Kakak masih bisa menikmati hidup kakak, dan Will masih bisa diobati."


"Kenapa kakak malah ngorbanin diri sendiri buat Will?"


"Bukan cuma buat Will, Kakak gak akan pernah ragu kalau kamu yang ada di posisi Will. Untuk kamu dan Will, Kakak bisa lakuin apa aja. Kakak bahagia kalau kalian bahagia."


"Aku juga bahagia kalau Kakak bahagia. Dan kenapa Kakak malah ngajuin diri buat nikah sama dia? Masih ada Viocha dengan masa depan suram Kak, Kakak bisa minta Icha aja yang nikah sama dia. Lebih baik Icha nikah sama dia, daripada Kakak yang nikah sama dia. Masa depan Kakak masih cerah." tanpa sadar, bulir hangat sudah membanjiri wajah Viocha.


Tea tersentak halus, dia sangat tersentuh dengan kata-kata adiknya. Tidak salah memang kalau Tea sangat mencintai kedua adiknya.


Tea mengulurkan satu tangannya mengusap air mata Viocha. "Duh, jangan lupa dong kamu kan mau ke Kampus, masa nangis dulu, aduh walau abis nangis pun kamu masih tetap cantik."


"Tapi Viocha, apa kamu mau berkorban demi Will?"

__ADS_1


__ADS_2