Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
59. Tidak!


__ADS_3

"Itu yang ku maksud, jika menggunakan cara ini kau akan berharap, dan jika itu gagal, kau akan terpukul. Aku tidak bisa melihat mu seperti itu lagi, aku tidak bisa Tea! Rasanya mau gila melihatmu menderita seperti itu, mengertilah!" Asher mengacak rambutnya frustasi.


"Tidak ada jaminan cara itu akan berhasil." Asher melembutkan suaranya, dia menggenggam bahu Tea hangat.


"Tapi masih ada kesempatan cara itu berhasil kan?"


Apa menurut Asher, setelah melihat ada secercah harapan, Tea akan mundur?


"Tidak. Kita tidak akan melalukan program itu." Asher juga masih kekeuh atas jawabannya. Memang sebesar apa penderitaannya saat dia melihat Tea terpuruk? Hingga dia tidak berani melihat Tea seperti itu lagi?


"Tapi Ash! Itu satu-satunya cara, itu yang dinamakan secercah harapan."


"Cukup Tea, keputusan ku adalah tidak, ini keputusan akhir. Tolong mengerti." Dia memijit kepalanya frustasi.


"Kalau begitu mengertilah akan diriku ... Aku menginginkannya Ash."


"Berapa lama kita sudah menikah?"


"Sekitar enam bulan."


"Itu dia, kita baru menikah sekitar enam bulan, masih terlalu cepat dan terlalu muda untuk menggunakan program itu. Tunggu sampai dua atau tiga tahun, tidak ada yang tau, mungkin kita bisa mendapatkan bayi secara normal selama dua atau tiga tahun ini kan?"


"Tapi, dokter bilang, di--"


"Jangan dengarkan mereka. Jangan--"


"Tapi aku punya telinga untuk mendengarkan mereka! Kenapa kau tidak mengerti?! Apa kau sungguh ingin punya anak dengan ku?! Jawab aku Asher!" Tea berdiri, suaranya meninggi, menggelegarkan satu aula.


Bagaimana bisa diam saja? Sudah ada secercah harapan tapi suaminya masih menolak? Katanya juga ingin punya anak, sekarang dia menolak? Dengan berbagai dalih? Harus bagaimana Tea menyikapinya? Mana yang dia percaya.

__ADS_1


Asher menarik napasnya dalam-dalam, dia juga ikut berdiri, mengusap air mata yang sudah jatuh dari wajah istrinya.


"Tujuh belas miliyar rupiah, sudah habis agar mulut para dokter itu tertutup rapat soal kondisi mu. Mereka juga adalah dokter yang aku kenal cukup baik. Jika kita melakukan program ini, tidak ada jaminan berita ini tidak akan keluar sampai media. Bukan masalah uangnya, tapi masalah kehormatan mu. Aku tidak ingin kau dicerca dan dimaki sebagai istri yang tidak sempurna. Untuk sekarang, masih banyak pesta yang harus kau datangi, kedepannya juga begitu. Di pesta itu, aku tidak ingin ada manusia yang berbisik soal kekurangan mu. Masalah ini, biar kita simpan sendiri sampai kita mati." Asher mencoba menjelaskannya selembut mungkin.


"Tunggu sampai aku menyingkirkan empat ular itu, kau tau siapa kan? Kalau aku sudah memegang kendali seluruh Anumertha, kita akan lakukan program itu. Bukan hanya itu, kita akan lakukan apapun yang kau mau, tapi tunggu ... Tunggu sampai aku punya kemampuan yang cukup untuk menutup mulut media. Tunggu sampai aku dihormati sampai tak ada satupun yang berani memaki dan mencela dirimu. Dimanapun kau berada." Lanjutnya mencoba memberikan pengertian sejelas-jelasnya.


"Kau, melakukan sejauh itu demi aku? Kau bahkan sudah memikirkan resikonya? Kenapa kau melakukan sebanyak ini, Ash?" Sepertinya akhir-akhir ini Tea lebih senasitif dan mudah menangis. Yah wajar, beban yang ditanggungnya begitu berat.


Tapi, bulir hangat yang jatuh kali ini bukan karna beban dan cobaan yang sedang menerpanya, tapi karna terharu akan suami yang kini melakukan banyak hal untuk mempertahankan kehormatannya.


"Kau bertanya kenapa? Saat status mu adalah istri ku?" Bukan menjawab, Asher malah balik bertanya.


"Apa kau akan memberikan kehormatan seperti ini untuk setiap perempuan yang menjadi istri mu? Bagaimana jika bukan aku, tapi orang lain, apa kau juga akan menjaga kehormatannya seperti ini?"


"Jika bukan kau yang menjadi istri ku, aku pasti sudah mengusirnya dari Mansion di pagi pertama setelah kita resmi menikah."


"Maka dari itu, tolong ikuti kata-kata ku. Aku pasti akan memberikan segala yang kau mau selama aku mampu." Asher menarik Tea kedalam pelukannya. Kemeja yang mulanya bersih wangi dan rapi, kini sudah basah dan lusuh berkat air mata Tea dan cengkraman kuat gadis itu.


"Jadi hubungan kalian sudah sejauh ini? Ternyata lebih cepat dari yang ku duga. Tapi baguslah, melihat kalian damai aku jadi ingin bersedekah saham." Kakek menyunggingkan senyuman smirknya. Jantungnya normal, dia sedang bahagia dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Bagus, aku butuh lima persen untuk mengurus sesuatu. Nanti malam, berikan suratnya padaku."


Mana mungkin Asher menolak, dia jadi lebih berhasrat untuk menguasai seluruh saham Anumertha, tanpa kurang satu persen pun.


-


-


Siang itu Tea dan Asher tidak jadi ke butik untuk memilih baju, karena Tea masih ingin mengobrol lebih lama dengan kakek. Keduanya mengobrol setidaknya satu jam, tanpa Asher karna sang suami itu sedang sibuk mempersiapkan banyak hal.

__ADS_1


Akhirnya Tea juga mengerti maksud dari Asher, bahwa itu semua demi kebaikan dirinya. Jadi dia juga setuju untuk menunda program itu. Dan mulai sedikit mempercayai rencana suaminya.


Saat ini Asher sedang berkutat di kantornya, bahkan saat sudah tengah malam. Dia sudah menitipkan Tea pada Sheila untuk malam ini. Karna banyak sekali pekerjaan yang ia tunda selama tiga minggu terakhir demi mengurus Tea.


"Kenapa kau memanggil ku?" Albert baru saja masuk, jujur saja dia merinding takut dihajar habis oleh sahabatnya. Pasalnya dia adalah dokter pertama yang memberi berita tidak mengenakkan pada Tea.


"Dimana?" Tanya Asher, entah apa maksudnya.


"Apanya yang dimana?"


"Ck." Asher menutup dokumen yang sedang dibacanya, dia membuka kacamatanya dengan gaya. "Dimana rumah sakit mu harus ku bangun?"


"A-apa?! Apa maksud mu?!"


"Menyebalkan, padahal dia yang mengemis. Aku pernah bilang kan, aku akan membangunkan mu rumah sakit termegah di kota ini, jika aku jatuh cinta terhadap satu insan indah ciptaan Tuhan."


Wah, bahasa kalimat terakhirnya bukan main.


Albert tidak percaya, bahwa yang baru mengeluarkan kata-kata itu adalah Asher-nya, Asher brengsek saham yang dia kenal.


"Oh iya benar! Rumah sakit baru! Tapi ngomong-ngomong, apa kau yakin itu cinta dan bukan obsesi semata?"


"Obsesi ya? Aku yakin ini bukan perasaan seperti itu. Ini jauh lebih baik, daripada yang kurasakan pada Eve. Aku sudah membandingkannya, aku tidak peduli apapun yang terjadi dengan Eve, asal dia menjadi milikku."


"Lalu? Apa bedanya dengan istri mu saat ini?" Tanya sang dokter yang lumayan penasaran.


" Saat melihatnya meratapi takdir, dia hidup seolah tak hidup. Aku ingin melakukan apa saja untuknya, asal dia bisa tersenyum. Rasanya tanah yang kupijak seolah runtuh saat melihat dia dipanggil tapi tidak menoleh. Aku tidak peduli dia akan bersama siapa nantinya, aku hanya ingin dia terus mengoceh berisik dan bahagia. Bahkan jika dia meminta ku melepaskannya demi kebahagiaannya, aku rasa aku juga akan melepaskannya. Dan mungkin hanya akan menatapnya dari jauh. Tidak masalah, asal dia tetap hidup dan bahagia. Aku bisa menghabiskan sisa umur ku hanya dengan menatapnya. Lalu, apakah cinta yang kau maksud begitu?"


###

__ADS_1


__ADS_2