Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
84. Kayak kenal


__ADS_3

"Tidur lah putri rata." Asher menarik selimut menutup tubuh putri ratanya. Dan diikuti oleh dirinya yang juga terbaring.


Pestanya sudah usai sejak satu jam lalu, dan apakah mereka tidur malam? Tidak, mereka tidur subuh, karna ini sudah pukul empat pagi. Tapi, yang namanya ngantuk ya tidur ya kan?


"Baik~" Tea menerbitkan senyuman manisnya, bukan sekali dua kali, tapi sudaj sejak tadi, hingga harus membuat suami yang disebelahnya bertanya, karna tidak tahan dengan rasa penasaran nya.


"Ada apa? Apa kau memang sesenang itu dengan pesta? Haruskah kita mengadakan pesta sebulan sekali? Agar kau bisa selalu tersenyum seperti itu setiap saat?"


Orang kaya memang beda, mengatakan pesta berskala besar seolah akan mengadakan acara makan-makan antara keluarga. Luar biasa kaya dan sangat menyebalkan.


"Itu belebihan, selain itu pemborosan." Tea menggeleng,  pesta bukan prioritas utama kebahagiaan nya saat ini.


"Jadi katakan pada ku, apa yang membuat mu terus tersenyum begitu?"


"Itu karna William dan Icha kembali berdamai. Kau tidak liat betapa akurnya mereka sedari tadi."


Ah ternyata itu adalah alasan utama kebahagiaan +Tea saat ini, meskipun banyak hal yang terjadi, dan banyak hal yang tidak dia lakukan, tapi pesta ini berjalan sangat baik, Tea suka ini menyenangkan.


Tarian damai antara Viocha dan William terus saja membayangi kepala Tea saat ini, dia suka pemandangan itu, dia harap bisa melihat Viocha dan Will bercanda tawa bersama, apa harapannya berlebihan? Tidak kan? Dia hanya berharap Segalanya kembali berdamai.


Asher tersentak halus. Dia memegang pipi Tea lembut.


Aku pikir ini akan jadi pesta yang buruk untuk mu karna banyak kekacauan saat sebelumnya, ada kecelakaan, dan kau tidak bisa menikmati pesta ini sepenuhnya. Tampak nya tidak begitu, aku suka. Aku menyukai mu yang tersenyum begini. Semakin aku mengakui aku mencintai mu, semakin aku mencintai mu.


Batin Asher, sepertinya kali ini dia sulit untuk mendesjrepsikan perasaan nya, menjabarkan setiap momen bahagia bersama putri ratanya terlalu panjang.

__ADS_1


"Apa ada saat-saat khusus kau bahagia? Apa hanya dengan melihat kedua adik mu berdamai kau bahagia?"


"Aku sangat bahagia saat ini Ash! Hingga sulit untuk ku menjabarkan nya satu per satu!"


Tampak jelas Tea bahagia, dan Asher berhasrat ingin mengganggunya, tapi sepertinya dia harus menahan niatnya karna saat ini senyuman Tea sangat cantik, dia tidak ingin merusak senyuman itu untuk hari ini.


Asher pikir mungkin saja dia akan memimpikan banyak hal indah, jika sebelum tidur dia bisa melihat senyuman semanis ini.


"Kalau kau sendiri? Ash, apa yang membuat mu bahagia? Momen seperti apa yang membuat mu sangat bahagia?"


Asher tampak berpikir sebentar. "Entahlah, aku tidak tau rasanya sedih saat kau bersama ku. Aku tidak tau rasanya bahagia sampai kau hadir dalam hidup ku."


Deg


Aduh, sepertinya Tea harus sering-sering mempersiapkan jantungnya untuk menerima serangan mendadak begini. Hatinya melemah untuk menerima damage sepertti ini.


"Dan, kalau kau bertanya momen mana yang membuat ku bahagia? Mungkin setiap momen bersama mu." Asher menggeser tangan Tea, dia mencium telapak tangan yang sebelum nya mampir untuk memblokir penglihatan nya.


Asher menggunakan mata nya yang tajam dan menggoda untuk menatap Tea. Tatapan penuh makna yang tersimpan banyak cinta memaksa Tea untuk bertekuk lutut pada cintanya orang ini. Itu terlalu besar, hingga membuat Tea menutup matanya sendiri. Memang Asher terlalu keren.


"Hentikan itu Ash! Kau tau kau sangat tampan! Kau curang karna memakai ketampanan mu itu tau! Kalau tampan itu salah! Makanya kau orang paling bersalah di dunia ini!"


Tea bahkan tak kuasa untuk menatap wajah suaminya lagi.


"Jika mencintai istrinya seperti orang gila adalah hal yang bodoh, tidak apa-apa, tidak masalah jika aku di nobatkan menjadi orang paling bodoh sedunia." Asher agak turun dari posisi tidurnya. Dia yang sebelumnya sejajar dengan wajah Tea, kini sejajar dengan dadanya. Asher memeluk sang istri, menenggelamkan wajahnya di antara dada dan lehernya disana. Sangat nyaman, kenyamanan ini tidak akan bisa Asher temukan dimanapun.

__ADS_1


"Lebih baik kau tidur semakin kau membuka mata, semakin banyak kata-kata tidak jelas yang akan kau ucapkan."


Meski Tea berkata begitu, tapi jantung nya lah yang berdebar paling keras, dan Asher sadar akan hal itu. Membuat senyuman terlukis di wajahnya. Entah sudah berapa kali Asher tersenyum hari ini.


Tea juga mengusap rambut Asher lembut. Keduanya tidur dengan saling berpelukan, menghangatkam tubuh satu sama lain. Padahal niat Asher di malam hari setelah pesta dia mau buka-bukaan dan mencoba nya dengan gaya baru. Tapi apa mau dikata? Jika bukan izin takdir, mau sudah atau belum halal juga pasti sulit kan?


...***...


Satu bulan sudah berlalu sejak Yelena di penjara, dan pesta telah usai. Semuanya baik-baik saja, dan ada informasi tambahan bahwa Noel sudah kembali menjadi supir Tea.


Dan saat ini Viocha dalam perjalanan menuju Mansion Kakak nya, setelah mereka membuat janji untuk makan siang bersama. Saat Icha berjalan mendekat, Icha bisa melihat ada seseorang di balik bunga-bunga tengah memantau situasi Mansion.


Viocha ingin menegurnya, dan jika memungkin ingin meninggalkan jejak lebam di wajahnya. Tapi, dia harus mengurungkan niatnya, saat pria itu berdiri. Ah, mungkin dia baru saja jatuh terduduk dan bukan memantau kediaman kakak iparnya.


"Maaf, anda siapa ya?" Icha akhirnya menghampiri orang itu.


Saat pria itu berbalik, Icha bisa mengenali pria itu. Dan raut wajah Icha sudah tidak suka, saat dia melihat saudara kakak iparnya ada di sini. Dia adalah Morgan. Entah apa yang Morgan lakukan di sini.


Pikiran positif yang tadi sempat mampir di kepala Viocha, mendadak dia tendang. Nyaris mustahil jika Morgan ke sini dengan niat baik kan? Bukannya Icha mau berprasangka buruk, hanya saja yang Icha sudah tau back story keluarga kakak iparnya. Jadi sulit untuk berbaik sangka pada orang di hadapannya ini.


"Maafkan saya, saya ingin bertemu Asher. Apakah saya mengganggu?"


Icha diam, dia merasa tidak asing oleh suara ini. Ini seperti suara yang pernah di dengarnya.


Pria yang sama artis Elise bukan?

__ADS_1


Entah kenapa ingatan Icha mengacu pada pria yany tempo hari berbicara pada Elis. Memang mudah untuk melupakan suara orang lain. Tapi suara Morgan dan Elise sulit di lupakan. Karna memiliki ciri khas.


__ADS_2