
"Putuskan hubungan mu dengan Morgan! Dan kembalilah pada ku Eve!"
Tea kenal suara dari dalam ruangan yang pintunya tidak terkunci. Tapi suara Asher terdengar sangat dingin dan kasar. Tea tidak tau kenapa, dia penasraan, dia mengintip kedalam.
"Aku gak mau...," sedangkan Eve hanya diam menunduk dengan wajah penuh air mata. Tea bisa melihat dengan jelas ketakutan yang Eve rasakan. Eve benar-benar takut pada Asher, bahkan takut melihat wajahnya. Badan Eve gemetar. Keduanya persis terlihat seperti srigala dan kelinci.
"Yah, aku tidak peduli pendapat mu, karena cepat atau lambat kau akan jadi milikku."
"Aku gak mau..., bahkan sampai mati pun aku gak mau." Eve masih menunduk.
"Kau lebih memilih baj*ngan itu daripada aku? Kau...! Benar-benar meremehkan ku ya?!" Asher mencengkram dagu Eve kuat, kuat sekali sampai mata Eve tak bisa berkedip.
Tea yang melihatnya juga tak bisa berkedip. Dia ragu apakah itu Asher yang dia kenal selama ini, atau Asher kemasukan setan.
"Aku gak mau menikah...," Meski dalam kondisi seperti itu pun, tak membuat Eve merubah jawabannya, apalagi mengemis minta dilepaskan, Eve tampak pasrah dengan segala yang Asher lakukan. Tapi, dia tidak akan merubah jawabannya.
"Katakan, kau akan memilih ku dari si brengsek itu! Katakan itu Eve!" Suara Asher memekik, menggema di ruangan itu.
"Aku gak mau...," Tidak! Tampaknya sampai mati pun Eve tidak akan merubah jawabannya. Tidak peduli betapa sakitnya itu, dia akan menjawab dengan kata-kata yang sama, dan nada pasrah yang tak berubah.
Asher mengangkat tubuh mungil Eve dengan hanya cengkraman sebelah tangannya. Jika dilanjutkan begitu terus, Tea yakin Eve akan berakhir di rumah sakit.
Ah, aku memang suka keributan. Tapi bukan keributan yang pakai kekerasan apalagi akhirat adalah tujuannya!
Tea tidak peduli soal Asher yang akan marah nantinya karna dia ikut campur hubungannya dengan Eve. Tea hanya tidak suka jika melihat mayat bergelimpang di depannya.
"Asher cukup! Itu sakit, lepaskan dia!" Tea berlari, menggenggam tangan Asher. Berusaha untuk melepaskan cengkraman itu. Eve tampak terkejut melihat kedatangan Tea.
Mata Asher yang mulanya menatap Eve tajam, kini beralih menusuk Tea.
"Diam, dan jangan ikut campur. Keluar dari sini!" Suara Asher memekik. Untuk pertama kalinya Asher berbicara sekasar ini dengan Tea, sama seperti dia berbicara pada Eve barusan.
"Gak mau! Pokoknya lepasin dia dulu, kita kan bisa bicarain baik-baik, kita bisa memulai keributan tanpa kekerasan, jadi ayo lepas dia Asher."
Asher masih tidak ingin melepaskannya. Dia masih menatap tajam Eve.
__ADS_1
"Katakan apa yang aku inginkan Eve!"
"Asher, dia bisa mati nanti. Meskipun saat ini dia milik orang lain, tapi kau mencintainya kan? Kau tidak ingin dia sampai mati kan?"
"Lebih bagus mati daripada menjadi milik orang lain, lebih baik dia tidak ada, dan tidak milik siapa-siapa. Tidak buruk juga." Asher menekan cengkraman itu semakin kuat.
Deg!
Jantung Tea seolah berhenti berdetak, dia menatap pria di depannya ini dengan penuh keraguan, dan juga ketakutan. Bukan hanya Eve yang gemetar, Tea juga ikut gemetar dibuatnya.
Dia bukan Asher! Dia bukan bandit payah!
Tea mencekoki dirinya dengan kalimat itu, tapi Tea tidak bisa mengubah fakta bahwa dia adalah Asher yang sama, bandit payah yang selalu suka mengganggu putri rata.
Tea menggeleng!
Ini bukan saatnya diam aja! Ada satu nyawa yang harus aku selamatkan!
"Asher lepas! Lepas atau--!!"
"Aw! Sakit! Asher ini sakit! Lepaskan aku!" Tea meronta sekuat tenaga. Tapi, dia kalah kekuatan dengan Asher. Tidak, Tea tidak bisa melepasnya, dan tampaknya tak ada tanda-tanda bahwa Asher akan melepasnya.
"Lepaskan dia Tuan muda!" Eve memekik, suaranya menjadi aneh, wajar saja. Rahangnya baru dicengkram sekuat itu, dan dia memaksa untuk berteriak. "La--"
Keributan itu membuat Asher mengeratkan cengkramannya.
"Aw! Ini sakit! Aku bersumpah ini sakit Asher!" Tea tidak bohong, telapak tangannya sudah pucat pasih karna tak ada darah yang mengalir kesana. "Bandit payah! Ini sakit!"
Asher tersentak halus, dia mendadak melepas cengkramannya pada Tea. "Sudah ku bilangkan, jangan ikut campur! Buat apa kau kesini?"
"Kau nyaris membunuh kekasih mu itu! Berterimakasih lah padaku, aku menyelamatkannya!" Tea mengambil nafasnya yang tidak baik-baik saja.
"Lebih baik dia mati, daripada dia dimiliki orang lain. Aku mengatakan itu dengan kesadaran penuh, tanpa pengaruh alkohol atau apapun." Jawab Asher enteng tanpa merasa bersalah, dia melirik ke arah Eve yang sedang duduk terkulai lemas.
"Apa?! Kau bilang apa? Asher tarik kembali kata-kata mu itu!"
__ADS_1
"Sudahlah, ayo pulang." Asher mengulurkan tangannya kepada Tea.
"Tunggu, aku menjatuhkan hadiah dari Kakek." Tea mengedarkan pandangannya ke lantai, dia ingat dia menjatuhkannya tidak jauh dari sana untuk menolong Eve.
"Hadiah dari Kakek? Maksud mu kotak kayu tua jelek itu?" Asher menunjuk sebuah kotak tak jauh dari Eve.
Tea juga melihatnya, dia segera memungutnya. "Asher tutup mulut mu! Ayo pulang, kau benar-benar tidak waras!"
Keduanya berbalik, menuju ke arah pintu, namun sebelum itu, Asher menghentikan langkahnya sejenak, dia melirik Eve dengan ekor matanya.
"Aku mau kau mengatakan itu saat kita bertemu lagi nanti."
Astaga! Sampai akhir pun kau masih ingin menyiksa anak orang?
Tea sudah benar-benar tidak habis pikir dengan cara pikir manusia satu ini.
...***...
Tea dan Asher sudah kembali ke Mansion mereka, keduanya baru saja memasuki kamar yang merupakan saksi bisu perdebatan mereka setiap hari. Setelah melihat Asher versi psikopat hari ini, mungkinkah perdebatan kecil yang mengisi hari-hari mereka masih akan tetap ada?
"Apa kau gak penasaran? Kenapa aku selalu kasar dengan orang lain, dan hanya sedikit kasar dengan mu?" Asher membuka jasnya, dia duduk di sofa mencoba memulai pembicaraan yang sedari tadi hening.
"Karena aku cantik dan menarik? Kakek aja bisa sangat menyayangi ku." Tea tidak salah, dia cantik loh. Dan tingkat kepercayaan dirinya itu tinggi. Tea melepas anting dan kalung yang ia kenakan.
"Itu karna orang tua dengan banyak kekuasaan itu. Kau ingat amplop coklat yang kau berikan di malam pertama?"
"Ah! Amplop ajaib?"
"Kau menganggapnya begitu? Kekanak-kanakan sekali. Tapi, kau mau tau apa isinya?"
Tea mengangguk. "Ya, aku selalu penasaran."
"Kakek tua itu memberikan ku saham Anumertha grub sebesar 10 persen, jika aku tidak kasar pada mu, dan memperlakukan mu dengan baik. Memenuhi segala kebutuhan mu."
Tea menelan salivanya payah, dia tau dia sangat disayangi oleh Kakek. Tapi mengorbankan 10 persen saham Anumertha Grub untuk kesejahteraan hidup Tea? Apa Kakek Bryan tidak merasa sayang?
__ADS_1
"Kau bercanda kan Asher?"