Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
22. Aduh! Aw!


__ADS_3

"Kenapa Eve ngomong kayak gitu ya?"


Tea membaringkan badannya, dia menatap langit-langit kamar berdominan putih dan bercorak emas di pinggirannya. Lampu indah menggantung di tengah-tengah.


Sepertinya ada yang salah dengan otak Tea, setelah sekian lama tidak perduli, akhirnya dia memikirkan kondisi saat ini.


Tea berjalan ke meja rias, dia berdiri menatap setengah pantulan dirinya.


"Dan muka Eve tadi? Dia liat aku kayak merasa iba? Kenapa dia lihat aku gitu? Emangnya di sudut muka ku mana yang layak dikasihani? Kalau dia tau aku dan Noel, pasti dia akan lebih iba pada Noel."


Tea mendekatkan wajahnya ke cermin. "Iya kok, gak salah, aku cantik."


"Menjauhlah dari cermin itu, kau gak dengar dia menangis meronta-ronta karna bergetar melihat wajah dan tubuh rata itu."


Tea melirik ke arah pintu, tepat saat pria yang baru berbicara itu masuk. Tidak apa-apa, Tea sudah terbiasa.


Tea melirik ke arah jam. "Masih belum larut, kau udah makan? Kita masih bisa makan malam sih."


"Gak usah, aku mau tidur. Kau juga, berhentilah menyiksa cermin itu dan kemari." Asher menarik tangan Tea, mengajaknya berbaring di ranjang.


"Hey, mandi dong. Virus itu gampang menyebar tau."


Asher diam saja, raut wajahnya tampak lelah. Sepertinya dia benar-benar tidak ada semangat untuk berdebat dengan Tea. Dia hanya langsung berbaring dengan Tea disebelahnya. Asher sudah memejamkan matanya.


Serius? Ini pertama kalinya dia secape ini.


Tea menghela napasnya, dia mencoba untuk turun. Namun Asher menarik dan memeluknya dengan erat.


"Diam putri rata, sudah ku bilang, ayo tidur." Asher masih memejamkan matanya.


"Iya, sebentar." Tea mendorong lengan Asher. Melepaskan pelukannya.


Tea tidak pergi, dia hanya ingin membuka sepatu Asher yang masih dikenakannya. Setelah selesai, Tea membuka jam Asher, dia juga melepas dasi yang kondisinya sudah buruk.


Tea tau Asher terbiasa tidur dengan telanjang dada, jadi dia memutuskan untuk membuka kemejanya.


"Kau sakit? Haruskah kita ke dokter?" Tea mengukur panas badan Asher dengan tangannya.


"Agak panas sih memang."


Asher diam, dia tidak menjawab. Tea kemudian berbaring di sebelah Asher, sepertinya dia memang benar-benar sakit.


Asher langsung memeluk Tea, dia menenggelamkan wajahnya dileher Tea, memeluk gadis itu dengan sangat erat.


"He-hey! Bandit payah!" Wajah Tea sudah merona panas, tidak dapat dibohongi dia berdebar sekarang.


Sabar Tea, dia kayak gini karna dia sakit. Kau harus sabar! Ayo tidur!


-

__ADS_1


-


Tea baru saja membuka matanya, dan tak ada posisi yang berubah dari saat kemarin malam mereka tidur. Tea memerika suhu badan Asher lagi.


Oh? Udah normal, berarti kemarin cuma sedikit demam?


Tea menghela napasnya lega, tapi dia bosan saat ini. Tanpa sengaja, Tea melirik kotak kayu tua hadiah pemberian kakek yang berada dimeja kecil belakang Asher. Dia belum membukanya, jadi dia penasaran.


Gerakan Tea yang memaksa mengambil itu, membuat wajah Asher menempel tanpa jarak dengan dada yang hanya terbalut piama tidur itu.


"Aduh! Aw!" Pekik Tea saat dia merasa sakit dibagian daging dekat dadanya seperti ada yang menggigit disana.


"Asher!"


Wajah Tea sudah merona, ini masih pagi oke? Dadanya yang digigit, tapi jantung Tea yang tidak baik-baik saja.


"Tidak ada yang berbeda, itu rata seperti yang diduga. Tapi tidak apa-apa, aku masih bisa menikmatinya. Ya, cukup bagus, sepertinya pas di tangan, da--"


"Diam!" Tea langsung menutup mulut Asher, dengan kotak hadiah kakek. Sebelum pria itu berbicara melantur dan kemana-mana.


"Oh, ini hadiah dari orang tua itu. Coba buka, aku penasaran." Asher mengambil kotak itu dan dengan gampang membukanya.


"Hey, itu hadiah ku! Biar aku yang membukanya!"


Terlambat Tea, Asher sudah lebih dulu membukanya.


Tea berbinar menatap kalung perak dengan hiasan mungil berwarna biru, sepertinya itu safir yang langka?


"Woah keren!" Tea sudah lupa akan rasa sakit didadanya berkat kalung ini.


Tanpa Tea sadari, ada senyuman entah jenis apa yang Asher tampilkan.


...***...


"Arghh bosen banget, ngapain ya?"


Gadis petakilan yang kini statusnya sudah menjadi istri orang lebih dari sebulan itu, hanya berdiri manis ditepi balkon, menyandar pada penyanggah yang hanya lebih sedikit dari pinggangnya. Dia memainkan jari-jarinya bosan.


Bagaimanalagi, dia tidak punya pekerjaan. Dia istri orang kaya, Kakek menanjakannya dan suaminya memberi nafkah luar biasa.


"Hidup itu terkadang membosankan."


Tea menghela napasnya, suatu keberuntungan mendatangi Tea karna matanya menangkap Noel disana. Noel yang sedang duduk di halaman samping, sendirian merenungi nasib mungkin.


Tea menyunggingkan senyuman manis penuh maksud tersembunyi.


"Noel!!!" Tea sudah berteriak bahkan saat jarak mereka masih lebih dari dua puluh meter.


"Non, bisa gak sih sehari aja biarin saya. Saya lagi serius mikirin hidup ini." Noel menatap Tea datar.

__ADS_1


"Astaga! Aku pikir kau sedang kesambet tau! Makanya jangan melamun di bawah pohon." Sahut Tea enteng tanpa dosa.


"Non mana tau derita sadboy." Noel menghela napasnya sangat berat. Seolah dia sedang menanggung beban dunia.


Tea mengernyitkan dahinya. "Tolong jangan perhalus kata dari 'lajang tua' menjadi sadboy."


"Non, Non pernah dengar gak? Ada kasus supir kesel dan akhirnya menganiaya Nonanya? Gimana kalau kita buat berita itu trending topik Non?" Noel dengan segala kesabarannya menatap Tea dengan senyuman menyeramkan penuh maksud.


Tea tampak berpikir sebentar. "Benar juga, itu menarik untuk diulik. Tapi bagaimana kalau kita balik, Nona yang iseng menganiaya supirnya dengan kejam dan licik."


"Non lagi iseng mau menganiaya saya?" Noel menatap lekat retina Tea.


"Iya!" Tea mengangguk mantap tanpa keraguan.


"Bukannya udah tiap hari ya Non? Non kan tiap hari menganiaya saya mental dan batin, bahkan saraf-saraf saya sampai menjerit."


"Oh benar juga, aku kan memang sudah menganiaya mu tiap hari." Tea mengangguk setuju atas argumen supir pribadinya.


Noel tidak sanggup berkata-kata lagi, dia takut gila beneran jika dilanjutkan. "Non, minta nomornya Viocha dong." Astaga! Dasar pria tua ini! Bisa-bisanya dia merayu abg kinyis-kinyis.


"Minta aja sama anaknya sendiri."


"Dikasih Non?"


"Iya." Tea mengangguk.


"Nomornya kan Non?" Tanya Noel memastikan, soalnya Nonanya bukan nona biasa.


Tea menggeleng. "Dikasih tatapan menusuk."


"Arghh!!" Noel menggaruk kepalanya frustasi. Apa Tea merasa bersalah? Oh tentu tidak, dia menikmatinya.


"Kayaknya setengah jam lagi Viocha pulang dari kampus deh, mending kau jemput dia Noel."


Noel tersentak, dia menatap Tea tak percaya. "Serius Non?"


"Iya! Buruan deh."


Noel tersenyum manis. "Non gak bakal percaya kalau saya bilang saya sayang sama Non."


"Apa menurut mu aku percaya? Rasanya aku lebih percaya kalau kau bilang ingin menganiaya ku." Tea memegangi lehernya yang merinding.


"Sudah saya duga, saraf kebahagiaan saya memang bisa berteman baik dengan Non."


"Ah, kalau gitu aku juga ingin menjalin hubungan baik dengan saraf kewarasan mu."


Noel menatap Tea datar. "Itu sih mustahil."


Jangan lupa like, komen, dan votenya ya kakak^^ biar author semangat nulisnya^^ happy reading~

__ADS_1


__ADS_2