
"Ya ampun gadis-gadis, maaf sekali, tapi aku harus membawa pulang adikku yang manis karna sudah hampir malam."
Tea sang pengacau telah tiba, begitulah pikiran gadis-gadis itu menatap Tea saat ini. Tea dengan bangganya menarik Noel dari kerumunan gadis-gadis Abg itu.
"Kakak ini, kakaknya abang tampan ini?" Tanya salah satu dari mereka.
"Yup, jadi karna udah malam. Kakak bawa dia pulang ya, dadah adik-adik manis." Tea menyeret Noel membawanya ketempat dia memarkirkan mobil. Menyisahkan anak-anak muda yang menatap dirinya tak suka.
Setelah sibuk berbincang antusias dengan Viocha dan Ely mengenai tempat kuliah Viocha, tanpa sadar hari sudah malam dan Tea nyaris lupa menjemput Noel.
"Non, Non lupa kan kalo ninggalin saya di sini?"
"Ya ampun mana mungkin aku lupa. Masa iya aku ninggalin supir yang manis ini, jangan bercanda deh Noel, itu sama sekali gak lucu." Tea membuka pintu mobilnya sendiri.
"Iya, tapi saya liat tadi Non udah lewat, pasti Non putar balik karna ingat saya pas hampir sampai gerbang."
Tea menampilkan cengiran manisnya, berharap supir pribadinya yang sekarang tidak menyimpan rasa dendam padanya karna hal ini.
"Wah! Kamu hebat Noel! Kamu gak mau ganti profesi jadi cenayang aja? Tebakan kamu luar biasa benar! Gak salah, saya pas liat gerbang utama ingat kamu!"
Noel hanya bisa menatap datar majikannya. Tidak ingin berkata kasar, atau lebih tepatnya tidak boleh berkata kasar?
"Nah sekarang, karna kita berdua cape, ayo pulang...!" Tea mendorong Noel agar masuk ke dalam mobil. Setelah keduanya berada di dalam, Noel langsung menjalankan mobilnya.
"Non kemana sih? Lain kali ajak saya juga dong. Non mah nyiksanya kelewatan, saya cape loh Non menjawab semua pertanyaan anak-anak tadi."
Tea tau Noel jujur, terlihat dari wajah Noel yang enggan dan kesal saat dikerubungi oleh gadis-gadis tadi. Padahal mereka semua cantik, mulus dan seksi.
"Ya ampun, kamu harusnya berterima kasih dong sama aku. Aku udah bantuin kamu nyari-nyari calon istri tau." Tak ada ekspresi bersalah pada wajah Tea padahal dia tau Noel kesal saat ini.
"Non mau saya dikira pedofil? Non, anak-anak itu separuhnya usia saya."
"Astaga~ aku pikir kau penyuka yang muda-muda dan kinyis-kinyis."
"Mana ada yang begitu, mereka bukan tipe saya...! Terus Non kan baru 23 tahun, darimana jalannya saya bisa jadi adiknya Non."
__ADS_1
"Kau gak tau? Dewasa bukan soal usia Noel,"
Noel hanya menatap aneh sang majikan dari kaca kecil yang ada diatasnya.
"Non, lain kali tolong ajak saya aja, saya diam jadi patung juga gak apa-apa. Yang penting jangan tinggalin saya kayak tadi. Non, itu namanya penyiksaan lahir dan batin."
"Apa? Mau ganti tempat pemberhentian?"
"Ajak saya aja Non...!"
"Oh, Taman kota yang di depan? Oke besok aku tinggalin kamu disana. Biasanya banyak yang bening-bening kok...! Dari tua, muda, kinyis-kinyis, lengkap semua."
"Non, tolong biar saya ikut Non aj-"
"Apa?! Kamu seneng banget, ya udah sih gak usah terharu sampai nangis gitu, saya tau saya memang majikan yang baik dan pengertian."
"Non...!"
"Iya iya, Fix, Taman kota depan."
Noel tidak sanggup berbicara lagi, untuk pertama kalinya dia mendapat majikan modelan begini. Dia hanya menghela napas berat, pasrah akan takdir menyebalkannya besok hari.
Akhirnya setelah perdebatan panjang yang menguras jiwa dan kewarasan Noel, akibat seluruh tingkah laku dan perkataan Tea, mereka sampai juga di parkiran mansion.
Saat berhenti Noel menghela napasnya, dan tangannya terangkat seperti berdoa...?
"Noel, kau baru doa apa?" Tea penasaran loh, anaknya kan emang kepo-an.
"Berterima kasih pada Tuhan karna mempertahankan kewarasan saya selama perjalanan hingga kita bisa pulang dengan selamat, dan aman, tapi gak ada nyaman."
"Pfttt, Haha! Tidak nyaman tapi ini perjalanan yang menyenangkan loh."
"Menyenangkan buat Nona, siksa batin buat saya."
Tea hanya tertawa kecil dan turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Non, lain kali biar saya aja yang tugas buka tutup pintu."
"Berisik ah, parkirin aja yang bener."
Tea melanjutkan jalannya. Namun, setelah masuk kedalam mansion, dia harus berdiri terdiam, menatap meja makan yang sudah terisi oleh dua pria hebat dalam bisnis.
"Oh, cucu kesayangan Kakek, Tea udah pulang Nak? Darimana aja, ayo makan." Sang Kakek yang bersikap ramah dan hangat pada Tea, sangat tidak sinkron dengan wajahnya yang dingin dan berkharisma.
"Kakek? Apa ada jadwal yang Tea lewatkan?" Tea menatap pelayan yang selalu menyampaikan jadwal keluarga. Tea sama sekali tidak menerima kabar bahwa Sang penguasa utama akan datang. Pelayan itu hanya diam saja, dia melirik Asher. Pelayan lainnya juga hanya menunduk takut. Tea mengerti siapa dalang dibalik ketidaktahuannya.
"Apa? Kakek sudah bilang tadi pagi bahwa Kakek akan makan malam disini, Nak."
"Bagaimana bisa Kakek malah memberikan ku istri yang tidak tau tugasnya, dia gak ada di rumah untuk menyambut ku saat aku pulang? Dia juga sangat lalai pada tugasnya, ya ampun istri seperti ini harusnya kan segera diceraikan."
Tea menatap asal suara, siapa lagi yang bisa mengatakan kalimat menohok dengan ekspresi yang begitu dingin kecuali pria ini. Asher menyunggingkan senyuman kemenangan. Dia menatap Tea penuh kebanggaan.
Dasar Asher sialan! Dia yang buat para pelayan gak kasih tau apa-apa sama aku! Dan Kakek, matilah aku kalau sampai Kakek benci aku karna hal ini...!
"Maaf Kek, tapi Tea gak dikasih kabar apa-apa. Gak ada yang bilang sama Tea kalau Kakek bakal datang."
Kakek melirik Asher dengan tajam. Sepersekian detik kemudian, aura di sekitar Kakek Bryan Kert Anumertha sudah menjadi berat. Untuk pertama kalinya, Tea merasakan hawa tertekan seperti ini.
Mati aku! Fix, Kakek marah! Celakalah kau Tea, hidup gak tenang, aku datang~
"Asher...!" Geram Kakek, kakek benar-benar tidak main-main kali ini. Dia benar-benar murka. "Aku gak akan mengampuni mu kalau ada kesalahan seperti ini lagi. Aku tidak mau mendengarnya untuk yang kedua kalinya. Dan sudah kubilang, perlalukan istri mu dengan baik...! Atau, kau mau aku menghapus nama mu dari daftar ahli waris?"
Tampak wajah Asher mendadak sangat kesal, dia menggenggam sendok itu, menekannya kuat hingga bengkok.
"Tea sayang, Nak, kamu dikasarin apa sama dia selama ini? Kalau dia ganggu kamu, gak sopan sama kamu, kamu bisa datang ke rumah utama dan lapor sama Kakek. Kakek pasti bakal hukum dia...!"
"Te-Tea boleh datang ke Rumah Utama Kek?"
"Apa yang kau katakan Nak? Pintu Rumah Utama selalu terbuka lebar untuk mu, malah Kakek sedih setelah kau menikah, kau gak pernah mengunjungi Kakek. Padahal Kakek menikmati waktu mengobrol dengan mu tempo hari."
Tu-tunggu?! Ini maksudnya Kakek gak marah sama ku kan?
__ADS_1