Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
20. Tea ngesad kehilangan 10 persen saham


__ADS_3

Tea menelan salivanya payah, dia tau dia sangat disayangi oleh Kakek. Tapi mengorbankan 10 persen saham Anumertha Grub untuk kesejahteraan hidup Tea? Apa Kakek Bryan tidak merasa sayang?


"Kau bercanda kan Asher?"


"Awalnya aku pikir orang tua itu juga bercanda, saat dia bilang dia akan menikahkan ku dengan gadis pilihannya dan akan mendapat saham anumertha grub sebesar 10 persen. Tapi saat aku mendapatkan amplopnya, dia tidak berbohong, dan aku akan menepati janji ku tidak akan kasar padamu. Sepertinya Pria tua itu benar-benar menyayangi mu."


Tea masih diam, dia menatap Asher lekat-lekat. "Jadi, maksudmu kau yang kulihat tadi adalah yang sebenarnya? Dan kau yang sering berdebat dengan ku adalah yang palsu?"


"Entahlah, berfikir saja sesuka mu. Tapi yang jelas, aku tidak akan merubah sikap ku terhadap mu, akan lebih baik kau juga begitu. Kita jalani hari-hari seperti biasa."


Itu benar sih, lebih baik begitu. Aku gak tau apa sanggup bertahan kalau dia memperlakukan ku kayak dia memperlalukan Eve.


"Asher, apa kau memperlakukan Eve seperti 'itu' juga saat kalian masih pacaran?" Tidak! Tolong jangan katakan Iya Asher.


"Iya." Sahut Asher enteng.


Tea diam, Asher terlalu sulit di tebak hari ini. Dari raut mukanya, Asher benar-benar tidak berbohong.


"Kau ingin mendapatkannya kan? Bukan begitu caranya, apa kau pikir dia mau bersama mu kalau kau kasar dan sering menyakitinya?"


"Jadi maksud mu? Aku harus bersikap seperti baj*ngan Morgan itu?"


"Setidaknya dia lebih baik di pengelihatan ku. Kalau aku jadi Eve, aku juga akan memilihnya." Tentu saja, semua wanita juga begitu kan?


"Itu tidak akan terjadi! Sampai kiamat sekalipun, kau tidak akan menjadi miliknya!"


Atmosfernya mendadak berbeda. Tea tau bahwa Asher sangat membenci Morgan. Jadi gadis ceplos itu memilih diam untuk masalah Morgan.


"Kalau kau ingin mendapatkannya, bersikaplah lebih lembut, ja-" Tea benar kan? Siapa yang suka dikasarin begitu? Kalau ada, fetishnya aneh sekali.


"Kenapa kau ini berisik sekali sih? Sudah ku katakan jangan ikut campur, aku tidak menyukainya." Asher memotong dengan cepat, dia benar-benar tidak suka saat ini.


"Tapi A--"


"Aku bilang hentikan itu! Jangan pernah ikut campur! Sudahlah, sekarang tidur." Asher berjalan ke arah kasur, dia membaringkan badannya.


"Iya iya!" Tea berjalan ke kamar mandi, dia harus mengganti pakaian kan? Itu sangat tidak nyaman. Dia sudah ribet berdandan, tapi tak mendapatkan satu pujian selain dari Kakek.

__ADS_1


Tea sudah mengganti pakaiannya. Dan baru saja keluar dari kamar mandi.


"Cepat kesini putri rata, matikan lampu itu." Titah Asher lagi tak sabar.


"Kalau kau mau tidur? Tidur aja sih. Gak usah memperibet diri." Tea tidak memperdulikan Asher. Dia berjalan ke arah lemari kecil, membuka tutup segala laci yang dia temui.


"Apa yang kau cari?" Asher mendongak penasaran.


"Kewarasan mu."


Asher turun dari tempat tidurnya, dia menghampiri Tea. Ingin menggenggam tangannya, niatnya sih ingin memberi sedikit pelajaran untuk gadis ini, namun tanpa sengaja Asher menyentuh memar bekas cengkeraman tidak berhatinya.


"Aw! sakit payah!" Tea menjerit, wajar saja itu memang sakit. Tea langsung meniup pergelangan tangannya yang sudah dihiasi lebam biru.


"Apa itu karna yang tadi?"


"Berkat seseorang, aku hampir diamputasi. Hey, itu dia! Aku tau kau tidak menyukai ku tapi sampai menyakiti ku begitu, kau jahat sekali."


Asher tidak memperdulikan ucapan Tea. Dia semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Tea, hingga tak ada jarak lagi di tubuh mereka.


"Menjauhlah sana! Ka--"


"Itu buat mengobati ku kan? Ada apa ini? Sekarang kau mulai merasa bersalah?" Tea menaikkan sebelah alisnya.


"Apa wajah ku kelihatan merasa berdosa?" Asher menatap Tea lekat, tampangnya memang kelihatan biasa aja, tidak merasa salah sama sekali.


Tea hanya menatap Asher datar. Dia tidak sanggup berkata-kata lagi.


"Kemari, biar aku obati." Asher menarik pinggang Tea, menuntunnya duduk di pinggiran kasur.


"Buat apa kau obati kalau kau gak merasa bersalah sama sekali?"


"Ck...! Kenapa kau ini berisik sekali sih, jangan bilang hatimu goyah karna ini? Akan aku beri tau, kau ingat aku berjanji pada Pak tua itu untuk tidak menyakiti mu kan? Aku mengobatinya sebelum dia menarik saham milikku, seperti yang dia lakukan pada Vallen. Aku gak percaya kau berhasil membuat dia kehilangan triliunan uang dalam semalam."


Ha? Tiga persen saham mengandung triliunan uang? Terus sepuluh persen berapa banyak?


"Berterimakasih lah pada ku, sudah membuat saingan mu menderita."

__ADS_1


"Ya ya, terima kasih." Asher mengecup bibir Tea singkat, lalu beralih ke pelipis Tea dan berakhir dikeningnya.


Tea terkejut, itu terlalu mendadak membuatnya tidak bereaksi. Otaknya sedang menerjemahkan maksud Asher.


"Apa yang kau lakukan?" Seperti ada bug di otak Tea, dia gagal menerjemahkannya.


"Bukannya pada akhirnya kita akan membuat anak? Terlalu mendadak kalau kita melakukannya sekaligus. Ini adalah pendekatan tubuh, secara perlahan. Agar tubuh mu tidak kaget nantinya saat melakukannya."


Tea diam, dia hanya menatap Asher, menatap tepat di retinanya. "Hey, ini modus kan?"


Asher menghela napasnya. "Berhenti berpikir, kepala mu sudah terbakar, liat ada asap di atas sana. Sudahlah, ayo tidur." Asher sudah selesai membalut tangan Tea. Sangat rapi.


...***...


"Noel!!"


Noel yang masih sibuk memadu kasih dengan mobilnya yang berwarna putih, harus mendengar panggilan ini. Mendengar suara perempuan itu seolah sebuah sirine sedang berbunyi, menandakan kekacauan tiba.


"Bertahanlah saraf kewarasan ku, kita juga pasti bisa melewati hari ini dengan letih." Noel mengepalkan tangannya memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Supir mana yang berpendapat seperti itu soal Nonanya. Ah lupakan itu, Noel kau tidak akan percaya kalau aku bilang aku merindukan mu semalam!"


Noel menatap Tea datar.


"Apa Non pikir saya akan percaya itu?" Noel membukakan pintu mobil untuk Tea.


"Tapi aku serius loh."


Noel begidik seketika. "Cukup saraf kewarasan saya aja yang bersembunyi waktu liat Non. Tolong jangan siksa saraf kebahagiaan saya juga." Noel langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Ya ampun, haruskah aku mengatakan hai pada saraf kebahagiaan mu? Kenalkan aku padanya Noel."


"Non hari ini saya di kafetaria aja deh."


"Apa? Kau punya gebetan baru disana? Maaf ya Noel, tapi hari ini kau punya tempat pemberhentian baru."


Mata Noel langsung membulat seketika. "Non, tolonglah. Saya aja sudah nyaris stress beradaptasi di dua tempat itu. Jangan kenalkan saya pada tempat baru!"

__ADS_1


"Astaga, kali ini kau pasti suka. Apa kau gak penasaran kemana aku pergi setiap hari meninggalkan mu? Hari ini aku akan mengajak mu kesana loh."


"Sepertinya Non dan saraf kebahagiaan saya bisa berteman baik deh." Noel melebarkan senyumnya, akhirnya dia bisa lega lepas dari cengkrama para wanita di hari selasa yang bahagia ini.


__ADS_2