Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
65. Loh?


__ADS_3

Noel menjauh seketika, dia trauma sama perkataan Asher yang mengandung ancaman dan jelasnya ancaman itu akan terlaksana.


"Aku sudah pikirkan, pestanya haruslah mewah. Buat siapa saja yang melihat dekorasinya  tidak akan melupakannya, tema pestanya adalah 'Lihat aku kaya!' bagaimana menurut mu Tea?"


Siapa yang bisa mengatakan ini dengan percaya diri jika bukan orang itu? Asher dengan santainya menceploskan ide itu begitu saja.


"Mohon maaf yah Tuan muda, anda mau ngadain pesta pernikahan apa pesta bisnis? Tolong lebih masuk akal bisa gak sih?"


Meski sudah dari jauh, Noel masih angkat bicara.


Bodo ah, lawan aja. Toh emang udah di pecat kan.


Logika Noel mulai berjalan, untuk apa dia menghormati dan menjaga mulutnya lagi kalau dia sudah resmi di pecat? Dan nampaknya tak ada ruang untuknya kembali.


"Apa? Apa itu aneh? Aku ingin menunjukkan aku kaya, hingga tak ada satu orang pun yang berani meremehkan ku, dan juga istri ku. Hei apa menurut mu ide ku aneh?" Asher menatap ahli dekorasi itu. Apa yang harus dia katakan?


Itu sangat aneh dan tidak masuk akal, itu namanya pamer, itu menyebalkan, itu jahat terhadap kaum lainnya, ini penindasan mental. Tema seperti itu belum ada sebelumnya.


Jika ahli dekorasi itu tidak sayang pekerjaannya,  dan rela menjelaskan semua yang tengah dia batinkan dan pikirkan tadi. Maka sudah jelas, sepersekian detik kemudian dia bakal nganggur.


"Ti-tidak! Konsep ini bagus sekali, jarang ada. Mewah ya?! Saya bisa rekomendasikan ide-ide lainnya, saya akan improvisasi hingga pesta ini menjadi paling mewah dan berkelas." Jawabnya dengan penuh kebohongan. Kepalanya sudah memutar mencari ide spesifik. Apa yang dia maksud pamer kekayaan? Menjajarkan emas di sekeliling meja?


"Itu menyebalkan untuk di lihat Ash, hotel ini saja sudah sangat mewah, kalau dekorasinya berkilau, itu buat sakit kepala, oke?" Tea mulai mengemukakan pendapatnya, kesal sekali mendengar ide tidak nyambung suaminya.


"Jadi kau mau apa? Jangan bilang kerajaan? Kau gak cocok jadi ratu." Enteng sekali mulut Pria ini mengatakannya.


"Bagus juga, coba buat tema kerajaan tapi sedikit di improv modern. Kalau bisa banyak memakai kain berwara putih dan biru, jangan ada merah muda. Di banding bunga, hiasannya lebih banyak tanaman hias dedaunan saja. Apakah bisa?" Tea mendadak mendapatkan ide.


Ahli dekorasi itu tersenyum sangat lega, dia cukup puas. Meski permintaan Tea agak sulit karna ini pertama kalinya, itu lebih baik daripada permintaan ambigu Asher yang buat sakit kepala.


"Aku menolak, aku mau yang pertama, tema nya 'Lihat saja, aku kaya, siapa yang berani?'"

__ADS_1


"Ash! Itu Tem yang sangat kekanak-kanakan tau!"


"Kau yang sekarang juga kekanak-kanakan."


Sungguh keras kepala sekali Asher sialan ini. Apa dia tidak bisa mengalah pada Tea?


"Setidaknya mengalah lah demi istri mu!"


Asher diam, saat dia diam semuanya juga hening, Tea juga diam.


"Oh? Baiklah, kita akan pakai tema sesuai keinginan istri ku."


"Kau serius kan?" Tea menatap Asher serius, jaga-jaga kalau dia hanya bercanda dan akan mengecewakan nantinya.


"Aku harus berperilaku baik terhadap istri ku. Dan kau, pergilah, aku masih ingin di sini." Asher melirik ke arah ahli dekorasinya.


"Ba-baik! Saya permisi sekarang. Terima kasih Nona muda! Saya pasti akan menampilkan yang terbaik, untuk beberapa desain khusus saya akan membicarakan lebih detail dengan anda nantinya, dimana kita bisa bertemu?" Dia langsung berdiri, bersiap untuk pergi.


"Istri ku badannya lemah, jadi kau datang saja ke mansion ku. Ingat! Jangan sampai istri ku bergerak banyak karna diri mu." Wajah Asher sudah agak menyeramkan.


"Bagus."


Suara keributan terjadi saat dia terburu-buru pergi.


Dasar asisten kurang ajar, tidak berguna, tidak becus. Hampir saja aku dalam masalah, untung lah aku bersikap sopan pada Nona muda itu. Jika tidak, aku pasti akan bersahabat baik dengan yang namanya ngggur. Siapa orang gila yang menyebarkan rumor bahwa Tuan muda Asher membenci istrinya?!


"Kak, aku butuh uang buat bayar uang praktik dan semacamnya, boleh minjam uang?"


Viocha mulai angkat bicara, ternyata lamunannya sedari tadi berkat informasi grub dari temannya bahwa ada praktik yang akan mereka lakukan, dan itu memakan biaya. Bukannya Viocha punya toko bunga? Apa itu tidak cukup.


"Uang? Icha butuh berapa?" Tea menyahutinya dengan lembut.

__ADS_1


"Banyak." Sungguh jawaban yang luar biasa.


"Aku bisa memberikannya, bahkan akan ku berikan cek kosong jika kau memanggil ku kakak ipar." Asher selalu saja bisa melihat kesempatan.


"Kau memaksa adik ku?"


"Kenapa harus uang dari anda. Ada saya di sisi, calon suami mapan, kaya, tampan yang bisa mengayomi, menjaga, dan menafkahinya. Butuh berapa Cha? Panggil sayang semuanya beres." Noel mengambil kesempatan ini untuk lebih mendekat pada Icha.


"Kakak ipar. Cek kosong nya?"


Bahkan Viocha tidak mengubah raut mukanya saat dia menatap dan mengulurkan tangan pada Asher yang kini sudah menyunggingkan senyuman puas.


"Aku akan meminta asisten ku memberikannya pada mu nanti."


"Ini takdir lagi kenapa sih sama saya? Perasaan seminggu ini apes mulu deh, ada salah apa sih saya?!"


Noel sudah lelah, kenapa kesialan mendatanginya secara beruntun. Itu menyebalkan sekali, dia tidak lagi menjadi supir Tea, kehilangan kesempatan menjadi pahlawan untuk Viocha.


-


-


Icha keluar dari hotel sebentar, untuk bertemu dengan salah satu temannya yang ingin mengantar flashdisk penting. Icha tengah menunggu di tepi jalan raya saat ini. Noel ingin menemaninya, namun dihalangi oleh Asher. Dia khawatir adik iparnya akan celaka jika di dekat orang ini.


Icha melirik ke arah kiri, tampak seorang pria ber jas rapi baru saja datang menghampiri mobil yang baru beberapa menit lalu berhenti tak jauh dari Icha berada.


Icha meliriknya sebentar, dia melihat perempuan yang baru saja keluar. Wajahnya tidak asing, pakaiannya serba hitam, dia memakai topi, dan masker, dan maskernya baru saja dibuka oeh sang pria yang kini memeluknya erat.


Oh? Dia? Si artis yang lagi naik daun ya? Bosen banget liatnya, kalau anak-anak kampus liat pasti heboh banget.


Icha tidak peduli, bukan urusannya, bukan urusannya juga bahwa Elise sang artis sedang berpelukan dengan pria itu, dengan bibir mereka yang saling bertautan panas.

__ADS_1


"Tunggu Morgan! Ayo kita lanjutkan di dalam mobil, aku takut media melihatnya."


Icha tidak ingin mendengarnya, dia tidak ingin terseret dengan skandal artis. Entah sebuah kesialan atau keberuntungan dia berdiri disana.


__ADS_2