
"Ayo Cha kita masuk." Noel ingin merangkul Icha, namun Icha melangkah menjauh.
"Jaga jarak Om."
"Apa Cha? Coba tadi Icha bilang apa?" Noel menggoyangkan telinganya, meski dia yakin yang Cha panggil adalah sebutan yang tidak menggenakkan di telinga Noel. Tapi, kali ini Noel berharap Icha mengubah jawabannya.
"Jalan Om." Icha semakin menjauhkan diri dari Noel. Sudah ada jarak yang cukup di antara keduanya.
"Cha, kamu tau ini gak lucu kan? Istri mana yang bakal manggil suaminya Om, Cha yang benar aja." Noel masih tidak percaya, dia masih yakin wajahnya sangat tampan dan rupawan, mirip anak muda usia dua puluhan, dia selalu merasa dirinya lebih muda sepuluh tahu. Entah dari mana datangnya kepercayaan tidak berdasar dan berlandas itu.
Apa karna selama ini kemanapun Noel pergi, akan da banyak anak gadis dan remaja yang mengerubunginya, memperebutkannya dan memujinya habis-habisan. Tapi, itu semua tidak berlaku di depan Icha.
"Tidak sopan." Sahut Viocha enteng, dengan kakinya ia langkah kan menjauh dari Noel. Langkah demi langkah dapat di pastikan telah merentangkan jarak di antara keduanya. Noel yang sudah cukup bahagia karna bisa berjalan berdampingan, harus terpisah lagi karna ada Barant yang memblokir langkahnya. Semuanya adalah salah Barant, apapun yang terjadi semua adalah salahnya Barant. Dan Noel sudah menganut keyakinan salah Barant.
"Astaga, apa memang benar kau begini? Kau benar-benar serius ingin menikahi bocah SMA yang baru beranjak dewasa. Supir, apa kau gila? Apa kewarasan mu hilang sepenuhnya, karna kau bukan lagi supir Nona Tea? Kau ingin menikahi bocah?" Celetuk Barant yang sudah tidak habis pikir dengan Noel yang dia lihat selama ini.
Padahal Barant pikir Noel adalah supir yang memiliki harga diri dan selera yang tinggi, mengingat dia yang selalu bisa beradaptasi dengan biasa di segala pesta kalangan atas. Belum lagi ekspresi nya yang terlihat biasa saja saat menatap rentetan gadis cantik yang bukan main gayanya.
"Tutup mulut mu asisten kotor, kau tidak tau apa-apa, jadi diam dan enyahlah sana! Aku sangat membenci mu karna ini semua berawal dari mu! Kalau saja kau tidak menghalangi jalan ku, pembahasan dan perkataan yang sangat menyakitkan ini pasti tidak akan pernah keluar dari mulut suci dan mungil Viocha ku." Noel sudah kesal, Barant tolong jangan ganggu dia.
"Kau benar-benar kejam, bagaimana bisa kau meracuni pemikiran anak baru gede ini. Dik, ayo ke sini, jangan bersamanya. Masa depan mu cerah, jangan di gelapkan." Barant menggerakkan tangannya, mengode Viocha agar berdiri di depannya.
"Menjauhlah dari calon istri ku, setelah tuan mu merampas Non, kau juga ingin merampas istri ku?" Noel menajamkan matanya, jika ini tempat sepi, dia pasti sudah mencekik leher itu.
"Aku sedang menyelamatkan satu anak manusia."
__ADS_1
"Cha, gak usah dengerin dia ayo jalan, sayang?"
Icha berjalan ke arah Barant, "Apa anda tau dimana ruangan Kakak ipar dan Kak Tea berada? Ada sesuatu yang perlu saya laporkan."
Barant tersentak halus. "Apa kau adiknya Nona Tea?"
Icha mengangguk tanpa suara. "Jadilah istri ku!"
"Ga mau Om." Icha adalah gadis yang adil baik Noel dan Barant dia panggil dengan nama yang sama.
"Hei asisten, bukankah sudah kelewatan untuk merebut calon pengantin orang?"
-
-
-
Viocha segera kembali, dan dia di tuntun oleh Barant dan Noel yang ada di sebelah kanan dan kirinya, seperti pengawal.
Sedangkan Asher dan Tea seperti yang di duga tengah berbaring tanpa sehelai benang pun. Ah Tea dengan cepat menarik selimutnya. Dia mengambil napasnya setelah Asher membuatnya kesulitan bernapas. Keduanya sama-sama beristirahat karna sepertinya mereka sudah usai beberapa menit yang lalu.
"Tidurlah cepat." Asher menutup wajah Tea dengan tangannya, dia menariknya untuk lebih dekat padanya.
"Kau tidak tau? Viocha akan datang, aku harus menyambubtnya." Tea ingin sekali bangkit dan merealisasikan kegiatan yang baru saja di bilangnya. Tapi dia malas, dia enggan bergerak, soalnya tubuhnya lelah. Terutama di bagian inti dan pinggang. Asher memang tanpa ampun, tidak pengertian pada istrinya yang nantinya akan memakai baju super ribet.
__ADS_1
"Kita akan menemuinya besok pagi, saat ini istirahat saja dulu. Kau lelah kan? Aku juga, jadi ayo tidur putri rata."
"Putri rata, putri rata, lagi-lagi putri rata! Kau tau aku punya nama kan?" Tea kesal, padahal rasanya hubungan mereka jauh membaik tapi kenapa nama panggilan itu selalu saja terucap.
"Putri rata." Kata Asher lagi. "Aku tidak akan mengubahnya, kau adalah putri rata milikku."
"Ash!!!"
"Tidur atau kita akan melakukannya lagi, jika itu terjadi aku tidak akan berhenti, dan mungkin kita akan melakukannya sampai pagi. Kau mau itu terjadi?"
Tea diam, dia dengan cepat menutup matanya. Jika sampai yang Asher katakan terjadi, maka selesai sudah Tea. Angan untuk bertemu Viocha besok pagi akan tertunda pastinya. Karna Asher kalau sudah turun tidak mau setengah-setengah.
...***...
Pagi ini Tea dan Asher juga beserta Viocha sarapan di restaurant. Mereka sudah melakukan kegiatan pagi ini sejak setengah jam yang lalu. Dan makanan di depan juga sudah habis semuanya. Tidak ada Noel, hanya ada Barant sebagai pengawal yang menerbitkan senyuman paling manis yang ia punya, untuk Viocha.
Namun, suasana damai bagi Barant itu mendadak hilang saat Noel datang, melangkah dengan cepat dan segera mendekat. Dia ingin langsung menyeretnya pergi saja, menganggu pemandangan soalnya.
"Non, gaun dan segela set nya udah sampai, mau di letak dimana?" Noel melaporkan itu pada Non kesayangannya. Akhirnya setelah sekian lama dia bisa berbicara lagi dengan majikan super mennyebalkan tapi sangat dia sayang.
"Udah sampai? Aku mau lihat, Ash ayo kesana." Tea langsung berdiri antusias. Dia tidak sabar untuk memakai gaun yang begitu cantik dan sesuai seleranya.
"Icha juga penasaran, ayo liat Kak." Icha juga ikut bangkit berdiri.
"Kau pergilah bersama Barant, aku masih ada urusan di kantor. Dan kau, mantan supir. Ikutlah dengan ku, ada hal penting yang harus kau lakukan." Asher juga bangkit berdiri. Namun, arah jalannya akan berbeda dengan Tea.
__ADS_1
"Baik Tuan muda." Senyuman mengambang terbit di wajah Barant.
"Baiklah." Terbalik dengan Barant wajah Asher sudah sangat kesal. Dia padahal ingin ribut lagi dengan Nonnya, dan jika ada kesempatan ingin mengeluarkan rayuan untuk Viocha. Tapi karna Asher rencana itu terhalang dan tertunda.