
"Maafkan saya, saya ingin bertemu Asher. Apakah saya mengganggu?" Morgan berbalik, dia menampakkan senyuman manis dan menawan ala dirinya. Harus di akui, dia tampan.
Icha diam, dia merasa tidak asing oleh suara ini. Ini seperti suara yang pernah di dengarnya. Icha diam, dia masih mengingat-ingat dimana dia mengenal suara ini.
Icha tau bahwa pria ini adalah Morgan, karna acara pesta kapan lalu. Tapi? Icha masih merasa ada yang mengganjal.
Pria yang sama artis Elise bukan? Ya gak sih? Iya kayaknya? Tapi bukan juga? Ah, aku benci diri ku yang plinplan begini.
Entah kenapa ingatan Icha mengacu pada pria yang tempo hari berbicara pada Elis. Memang mudah untuk melupakan suara orang lain. Tapi suara Morgan dan Elise sulit di lupakan. Karna memiliki ciri khas.
"Maaf, kamu adiknya Galatea kan? Apa kabar?" Dia mengulurkan tangannya, biasalah sksd dulu, sok kenal sok dekat.
"Ya, aku memang adiknya Kak Tea. Anda Tuan muda Morgan kan? Kakak ipar kedua Kak Tea? Salam, kabar saya baik. Kabar anda?" Basa basi dulu, seperti biasa.
"Kabar saya baik juga. Tapi, di luar dugaan anda mengingat saya ternyata, saya jadi merasa terharu."
Viocha tersenyum lebar. Benar, kalian tidak salah baca Viocha benar-benar tersenyum saat ini. "Bukan anda yang terharu, saya yang harusnya kagum karna orang hebat dan luar biasa seperti anda malah mengingat saya yang remahan rengginang ini." Wah, sejak kapan Icha jadi merendah?
"Mana mungkin saya bisa melupakan gadis secantik anda. Apalagi anda yang berdansa pertama, dansa dan penampilan anda luar biasa. Anda sangat cantik, kadang saya iri sama pasangan anda di sana."
"Haha, terima kasih atas pujiannya. Anda juga sangat tampan, saya sampai kagum. Sampai-sampai saya berpikir bagaimana ya jika punya tunanangan dan kekasih seperti anda, pasti membahagiakan sekali. Apalagi anda adalah orang yang ramah dan hangat." Icha semakin menampilkan senyumannnya. Tidak peduli senyuman jenis apakah itu, ataukah itu tulus. Yang jelas Viocha yang tersenyum sangat cantik.
Jika Noel tau Icha sudah tersenyum di hadapan pria lain, sebelum dirinya? Hmm? Ntahlah, mungkin saja Morgan akan hilamg dari dunia. Dan bisa saja tanpa jasad. Entalah~ tidak ada yang tau kan?
__ADS_1
Morgan tersentak halus, dia menatap Viocha dengan senyuman yang semakin lama di terbitkan semakin lebar. "Anda bisa saja, pasti yang memiliki anda lebih beruntung. Dan yang menjadi kekasih anda sangat luar biasa, jug-"
Morgan sudah mengangkat tangannya, bersiap mengelus kepala Viocha.
"Ah! Saya baru ingat, saya buru-buru, sepertinya kakak sudah menunggu saya, saya pergi dulu ya!" Icha mundur, dia memasang ekspresi wajah malu-malu tapi mau, dingin-dingin tapi ingin.
Morgan yang melihat itu langsung menerbitkan senyuman smirknya, dia merasa bangga atas apa yang dia lakukan. Tidak bisa di pungkiri, Morgan sudah percaya diri bahwa Icha sudah dalam genggamannya ICha sudah mabuk akan cintanya, sulit dipercaya.
Icha membalikkan badannya, meninggalkan Morgan dengan senyuman dan lambaian tangannya. Yang masih menatap punggung Viocha.
Yek~ mo muntah. Habis ini muntah dulu deh, belum makan tapi udah muntah aja. Aku gak tau ada apa, tapi ada yang mencurigakan.
Icha sudah kembali memasang ekspresi wajahnya yang super biada aja dan datar, dia melirik pria itu dengan ekor matanya. Entah apa lagi yang Icha rencanakan.
Mendapatkan adiknya sangat mudah, bahkab tanpa usaha dan rencana, hanya modal wajah saja. Pasti mendapatkan kakaknya juga tidak akan sesulit itu kan? Aku pasti akan menggunakan adiknya sebaik mungkin untuk mendapatkan kakaknya. Ini pasti sangat seru dan menyenangkan. Tunggu saja permainan yang akan aku tunjukkan. Dimana kalian akan menjadi boneka ku. Aku adalah pemain boneka paling handal loh.
Dengan senandung dan eskpresi bahagia Morgan keluar dari sana. Dia merasa bahagia, seolah mendapat tiket keberuntngN dadakan.
Ya ampun, sebenarnya siapa yang sedang mempermain kan siapa? Siapa yang terjebak di dalam jebakan siapa? Dan siapa yang akan tertawa di akhir nantinya?
-
-
__ADS_1
"Kamu udah balik Cha?" Tanya Tea yang sudah mempersiapkan makan siang istimewa untuk keduanya.
Tea cukup khawatir pada adiknya, adik kecilnya baru saja datang lima belas menit lalu, tapi sudah muntah sebanyak tiga kali.
"Belum lagi makan, udah muntah aja. Gimana sih? Kamu sakit? Mau ke rumah sakit?" Tea agak khawatir, dia berdiri menuntun adiknya untuk duduk di salah satu kursi yang sudah dia siapkan. Tea memegang kening Icha, mengukur suhu tubuh gadis muda ini.
"Kamu normal kok? Gak panas? Cuma hangat? Kamu sakit kenapa de?" Tea masih khawatir.
"Icha melihat sisi lain dalam diri Icha Kak, dan sisi lain itu buat muntah. Kakak kalau liat juga pasti bakal muntah." jawab Viocha sekenanya. Tapi dia tidak salah kan? Dia saja tidak menyangka bahwa dia Bis berbasa-basi yang sudah basi begitu apalagi harus bertingkah imut yang Menurutny itu sangat menggelikan.
"Maksudnya gimana sih Cha? Kakak gak paham?" Tea menaikkan sebelah alisnya, dia memang benar-benar tidak paham apa yang adiknya maksudkan barusan. kata-kata penjelasan yang Icha berikan, sama sekali tidak memberikan penjelasan pada Tea.
"Udah lah Kak, mending kita makan." Icha langsung mengambil makanan yang sudah tersaji di meja. Makanan menggungah selera karna ini semua adalah masakan favorit mereka.
"Cha? Will tahun depan masuk SMA kan? SMA mana?" Tea membuka pembicaraan soal Will duluan. Sejak kejadian dansa satu bulan lalu, Tea ingin menciptakan lagi kondisi dimana mereka akan saling peduli. Khususnya Viocha, Tea memberikan Viocha suasana untuk akrab dengan Will.
Usaha yang Tea lakukan ya seperti ini lah, mulai membahas opsi Will, masa depan Will, padahal sejujurnya itu hanya basa basi.
"Entah, gak tau. Tanya anak nya lah Kak, yang mau sekolah kan dia, ngapain nanya nya sama Icha." Sahut Viocha enteng. Benar juga, jawaban Icha juga tidak salah kan?
"Tapi Will pasti butuh saran kakak-kakaknya. Kalau Kakak sih saranin dia masuk sekolah Negri. SMA Negri 1 Merah Putih bagus juga. Gak wah banget enggak buruk banget. Standar lah. Fasilitasnya yang penting lengkap." Usul Tea saat dia sudah mencari tau sekolah - sekolah yang bagus sekitaran sini.
"Gak mau Swasta Harapan aja? Mewah tuh." Sahut Icha, mengusulkan mantan sekolah nya.
__ADS_1