Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
51. Deg!


__ADS_3

"Hey Noel? Apa aku benar-benar harus masuk ke sini?"


Tea sudah menanyakan pertanyaan itu berulang kali. Hari ini adalah hari dimana ada pesta kecil yang diadakan salah satu kolega kakek. Kakek tidak bisa hadir, jadi beliau meminta Tea untuk menggantikannya dan cukup hadir lalu beri hadiah.


"Masih nanya gitu padahal kita udah sampai di hotelnya?" Noel turun dari mobilnya, dia membukakan pintu untuk Tea.


Tea masih ragu untuk masuk, dia cukup punya banyak trauma soal pesta sejak menikah.


"Tapi kau kan tau aku gak suka pesta."


"Non tau kan? Ini pesta apa?"


"Pesta pernikahan, aku tau aku paham, makanya aku ke sini bawa hadiah."


"Tapi, apa Non tau gosipnya?"


Wah Noel sungguh luar biasa, sebenarnya dia ini intel atau pengoleksi gosip sih. Tea menatap asistennya datar.


"Sorry, aku gak mau jadi partner berbagi dosa mu untuk megulik koleksi dosa orang lain." Tea berjalan cepat meninggalkan Noel di belakangnya.


"Jangan duluan dong Non, udahlah sendiri, belagu, Non gak ada partner kecuali saya loh. Tetap di dekat saya, biar bisa saya jagain." Noel langsung mengambil langkah panjang, berdiri di sebelah Tea.


"Sebenarnya kau ini supir apa kakak ku sih? Kenapa rese banget."


"Calon menantu Non, ntar saya nikah sama putrinya Non. Non kan yang bilang, saya yang begini masih cocok sama Abg kinyis-kinyis." Anak mana yang Noel bicarakan? Anak yang bahkan tidak tau keberadaannya dimana.


"Aku bilang abg, bukan anak kecil. Sekarang aku tau kenapa kau gak nikah-nikah, selera mu itu menjijikan."


"Saya bakal tungguin anak Non sampai dewasa, tenang aja, cukup usia saya lamar."


"Sekali lagi ngomong, aku usir nih?"


Anak apanya?! Kami baru melakukannya sekali!


Tanpa Noel sadari wajah Tea agak memerah jika harus mengulik ingatan soal hari itu, hari dimana dia menerima nyeri pinggang dan sulit berjalan.


-


-


-


"Loh? Kakak ipar Tea? Kenapa sendiri? Ini pesta pernikahan loh? Semua datang membawa pasangan, dimana Kak Asher?"


Tea baru saja masuk ke aula pesta, tapi Yelen si gadis ular ini sudah menyambutnya dengan perkataan nyelekit.

__ADS_1


Tea mengedarkan pandangannya, kalau di liat-liat benar juga. Semua yang hadir di sini sepertinya berpasang-pasangan, tidak terkecuali Morgan dan Eve. Pastinya Eve nyaris mual berada di sebelah Morgan dan harus berakting romantis bersamanya.


Aku membenci mu Asher!! Aku lebih benci bocah kekanak-kanakan yang hobinya memprovokasi orang.


Tea ingin mengeluarkan unek-unek itu, namun dia masih menjaga mulutnya yang ceplos karna ini bukan kondisinya.


"Apa yang kau tanyakan Yele? Asher kita kan memang tidak pernah datang ke acara seperti ini semenjak putus dari Eve. Mana mungkin dia akan datang demi Tea."


Oh ayolah, memang kakak beradik ini menjijikan, sudah Yele di sambut Neila, umpan di sambut balasan.


Bagus, kau benar, mana mungkin si sialan Asher datang ke acara seperti ini hanya demi aku! Itu mustahil!


Aku marah sih, tapi gak bisa, yang dia bilang bener.


Tea melirik ke arah Noel, berharap pria yang bilang akan menjaganya turun tangan untuk membantunya. Tapi apa yang Tea lihat? Noel hanya diam saja stay enjoy menonton itu, jika dia bisa dia ingin makan pop corn juga disana.


Tapi saat Tea melirik Eve, jelas sekali Eve sedang marah, dia mengepalkan tangannya erat-erat, jika kukunya panjang sudah berdarah itu telapak tangan.


"Maaf Tea, bukannya maksud kami begitu, kami hanya ingin memperingatkan Yele, bahwa yang dia katakan itu salah. Kami adalah kakaknya, jadi kami harus menegurnya agar dia tidak membuat kesalahan berikutnya. Sebagai kakaknya kami bertanggung jawab, dia masih kecil maafkan dia ya?" Vallen beralih ke arah Tea, dia ingin menyentuh bahu Tea. Namun sudah ada seseorang yang menangkisnya.


"Berisik, urusi urusan mu."


Wah, hal yang paling tidak di duga satu aula adalah kedatangan Asher.


"Kau? Asher! Apa yang kau lakukan di sini?!" Tentu saja Vellen memekik, ini sangat di luar dugaannya, dan juga hadirin pesta.


Dengan kedatangan Asher saja sudah bisa menghebohkan satu aula, apalagi dia yang mengakui Tea sebagai istrinya dan hadir demi dirinya, ini sangat mustahil.


"Apa yang kau katakan?!"


"Diamlah, kau berisik sekali. Memalukan nama keluarga Anumertha saja." Asher mendekati Vallen, dia membisikkan sesuatu di telinga pria itu.


"Aku pastikan kau mengalami banyak kerugian dengan hancurnya cabang Anumertha yang kau pegang, beraninya kau dan istri jelek mu mempermalukan istri ku." Asher mundur beberapa langkah, setelah dia puas memberikan ancaman yang bukan main-main, biasanya kalau yang bilang itu Asher sih, pasti bakal dia lakuin serius.


"Ayo, di sini tidak seru, orang-orangnya bodoh." Asher merangkul pinggang Tea, mengajaknya keluar dari sana. Karna menurutnya aula itu sudah di penuh oleh orang-orang yang merendahkan istrinya.


"Kenapa kita keluar?"


"Emang Non mau berbagi oksigen dengan manusia-manusia itu? Saya sih ogah." Bukan Noel yang di tanya tapi malah dia yang menjawab.


Seriusan ini aku keluar? Aku belum kasih kado loh, dan belum ngucapin selamat atas nama kakek, buat mewakili kakek.


-


-

__ADS_1


-


Setelah mereka keluar dari aula itu dengan keren, Tea baru ingat satu hal.


"Hey Asher, apa yang kau bisikkan tadi pada pria itu?" Tentu saja Tea pemasaran, soalnya setelah Asher membisikkan suatu hal, wajah Vallen jadi tegang, dan dia terlihat shock ketakutan.


"Aku bilang istrinya jelek."


"Asher! Aku serius! Apa yang kau bilang padanya?!"


"Istrinya jelek."


"Ashe-"


"Jelek."


Tea sudah menyerah, dia tidak lagi tertarik untuk menanyakan lebih jauh.


"Apa kita boleh keluar begitu saja, kata Kakek beliau kolega penting, makanya banyak keluarga Anumertha yang datang. Asher, apa tidak apa-apa kita meninggalkannya?" Tea merasa tidak enak, ini adalah tanggung jawab yang kakek berikan padanya, setelah selama ini dia hanya menerima kasih sayang kakek.


"Kau hampir boleh melakukan apapun."


"Hampir? Jadi artinya ada beberapa hal yang tidak boleh aku lakukan?" Tea mendongak menatap suaminya yang tampak agak serius.


"Bukan beberapa, hanya satu saja."


"Satu? Satu hal yang gak boleh aku lakukan? Apa itu?"


"Meninggalkan ku." Asher mengeratkan pelukannya di pinggang Tea saat mengatakan itu, dia tampak serius.


"Apa maksud mu?"


"Jangan pernah meninggalkan ku. Aku akan mematahkan kaki mu jika itu terjadi."


Deg


Tea merasa merinding seketika, seluruh tubuhnya kaku.


"Kau ingin memperlakukan ku sama seperti Eve? Kau ingin menahan dan mengurung ku?! Ka-"


"Tuan muda memang datang tepat waktu menolong Nona Tea seperti seorang pahlawan." Barant memberanikan diri menerobos masuk pembicaraan kedua majikannya demi mengalihkan perhatian.


"Pahlawan apaan, pahlawan kebetulan?" Noel memang selalu sensi kalau Bara mencoba memenangkan hati Non kesayangannya.


"Setelah ku pikirkan lagi, aku harus memecat mu saat ini." Asher menatap tajam Noel, sudah lama dia benci supir itu dan ingin memecatnya sesegera mungkin, dengan dalih apapun.

__ADS_1


"Oh itu benar, Tuan muda Asher seperti seorang pangeran yang menyelamatkan putri, layaknya pahlawan dalam Negri dongeng." Kemampuan menjilat Noel naik sepuluh kali lipat jika sudah mendengar kata 'pecat', makanya jangan heran.


"Tapi Asher itu bandit loh."


__ADS_2