Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
54. Perdamaian berujung--


__ADS_3

Akhirnya Tea dan Asher kembali ke ruangan Asher, setelah sang suami membuat keributan besar. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian satu kantor lagi, itu melelahkan soalnya.


Dan Noel juga berakhir di tarik oleh Elise, entah kemana mereka dan apa yang mereka bicarakan, Tea tidak terlalu peduli, karna dia sedang memgkhawatirkan dirinya sendiri.


Dan saat ini, Tea sedang mendengarkan penjelasan dari gadis perawan itu, penjelasan yang super duper lengkap.


" ... Jadi gitu Mba, dia cuma sentuh saya sekilas, habis itu udah selesai." Ujar sang gadis perawan itu menutup cerita dan penjelasannya yang super lengkap.


"Cuma itu?" Tea menajamkan matanya.


"Iya, cuma itu Mba."


"Kalau cuma itu kenapa kamu bilang meminta pembayaran atas keperawanan kamu?" Tea tidak salah kan? Bocah itu yang bilang begitu.


"Kata Dokter itu, dia atau presdir ini belum makai saya. Nanti pas dokter itu senggang dia bakal tidur sama saya, jadi karna saya butuh uang saya minta sekarang."


Tea melirik ke arah Asher yang duduk di sebelahnya. "Terus yang mau tidur sama kamu kan Dokter Albert, kenapa minta uang sama suami aku?"


"Awalnya aku yang mau beli dia, tapi pas lihat dia gak seru dan gak asik, jadi aku kasih ke Albert. Dan yang bayar aku, udah jelas?" Asher menjawab dengan jujur kan?


"Kenapa kau mau manggil dia? Kau bayar dia karna kau mau tidur dengannya kan?!"


"Bukan untum tidur, cuma memastikan suatu hal."


"Hal apa?"


"Rahasia."


Tea semakin kesal, dia tidak ingin berbicara dengan pria itu lagi, entah sejak kapan dia berani mengungkapkan kecemburuannya.


"Jadi yang bayar kamu itu suami aku kan?" Kesimpulan yang Tea ambil dari kasus berbelit-belit ini adalah bahwa gadis itu milik suaminya.


"Kalau secara teknis sih iya." Gadis itu mengangguk.


Tea beralih menatap Asher.


"Aku bakal maafin kalau kau kasih dia ke aku, kasih gadis ini ke aku, bukan Dokter provokator itu!"


"Anda mau balas dendam pada saya?" Gadis itu memotong pembicaraan.


"Iya!" Tea bahkan tidak membantah atau memperhalus katanya. "Sekarang kamu keluar, mulai besok kamu datang ke Mansion. Barant, bawa dia keluar dan kasih tau alamatnya. Jangan tidur dengan Albert! Hak atas dirimu adalah milikku!"

__ADS_1


Barant masih diam, matanya berbinar menatap Tea, dia tidak percaya atas apa yang di dengarnya. "Anda! Anda benar-benar memberikan saya perintah?" Barant masih bertanya takut dia salah pendengaran.


"Iya ..., " Tea juga agak bingung sih sama asisten suaminya yang katanya berbakat. Tapi anehnya dia malah selalu begitu di depan Tea.


"Baik! Saya akan bawa dia keluar." Barant langsung menarik tangan gadis itu keluar dari sana.


Suasana hening, hanya ada Tea dengan jantungnya yang masih berdebar kencang, entah karna marah kecewa, kesal atau soal ciuman di bawah tadi.


"Kau cemburu?" Asher bertanya begitu padahal jawabannya sudah jelas.


"Enggak lah!" Tea tentu saja bohong, dan dia sadar bahwa dia berbohong. Dia tau bahwa kemarahannnya adalah bentuk kecemburuan yang memanas.


"Begitu, apa aku harus memanggilnya lagi?"


"Panggil saja! Aku gak akan tidur lagi dengan mu!" Tea semakin kesal di buat orang tampan ini, sialnya Tea tidak bisa menimpuk wajahnya karna dia tampan.


"Begitu? Jangan khawator." Asher menarik pinggang Tea, untuk duduk di pangkuannya.


"Bukannya kau bilang--?"


"Dan ya, ngomong-ngomong aku belum puas saat di bawah tadi. Sepertinya melanjutkannya akan seru."


Wajah Tea sudah memerah, jika yang dikatakan Asher adalah melanjutkan yang di bawah, pasti ciuman singkat itu kan?


"Ckckck istri mesum yang pura-pura gak mau, padahal ingin terus."


Asher menempelkan bibirnya pada bibir Tea. Kali ini Tea bisa menikmatinya karna tak ada yang melihat mereka.


"Robek ya?"


Tea masih sibuk mengambil udara.


"Enggak! Ini hadiah ulang tahun ku tahun lalu!" Tentu saja dia sayang, karna itu dress buatan Ely khusus untuknya demi hadiah saat ia menginjakkan usia 23 tahun.


"Dari pria?" Asher menajamkan matanya. Atmosfernya sudah tidak enak dan buat sesak.


"Dari wanita."


"Oh." Tekanan udara di sekitar kembali normal.


Tea menaikkan sebelah alisnya. "Kau cemburu ya?"

__ADS_1


Setelah Tea menanyakan itu, Tea baru sadar.


Mana mungkin dia cemburu. Itu sih mustahil.


"Iya, aku rasa aku cemburu, jantung ku panas. Mungkin aku akan mematahkan kaki siapa saja yang mendekati mu." Mata Asher terlihat serius, dia tidak akan main-main dengan ucapannya.


Tea nyaris tidak percaya Asher mengiyakan pertanyaannya, namun ada yang sedikit janggal dia rasa. "Apa?! Kau cemburu?! Kau ingin mengurungku seperti Eve?!"


"Kau tau? Katanya anak tidak akan datang jika cuma melakukan sekali saja, aku rasa itu benar. Kita harus berusaha lebih keras, ayo lakukan itu." Asher mengalihkan pertanyaan Tea.


"Kau ingin melakukannya? Di kantor? Asher kau pasti sudah gila."


"Kau takut ada yang masuk?"


Tea diam, soalnya tebakan Asher itu benar.


"Tidak akan ada yang masuk, kecuali mereka ingin menjadi penggangguran seumur hidup."


Tea masih berpikir sebentar, Itu sepertinya benar, melihat betapa takutnya mereka saat di bawah tadi.


Jantung Tea berdebar semakin kencang, jujur saja sepertinya dia juga menginginkannya, seiring tubuhnya yang semakin panas bergairah.


"Ayo pindah tempat, kita ke ruangan yang pernah aku pakai untuk tidur hari itu." Wajah Tea semakin memerah, dan di mata Asher dia semakin menggemaskan. Tea yang begitu, sangat imut dan layak diabadikan dengan foto.


"Tidak, kita tidak perlu pindah tempat. Kita akan melakukannya di sini."


Tea menatap suaminya tak percaya. "Maksud mu di sofa?"


"Iya, nah sekarang buka kancingnya." Asher membusungkan dadanya, intruksi untuk Tea melepas kemeja suaminya.


Meski agak ragu dan malu Tea perlahan membukanya, dan jangan tanyakan betapa Asher menikmati pemandangan itu.


"Padahal di awal menikah, kau bahkan mengajakku mandi bersama, apa yang terjadi sekarang?"


X X X X (^_^)



Nah, ini Visual Putri Rata dan Bandit payah versi Author ^^


...

__ADS_1


...


__ADS_2