Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
67. Tidak boleh!


__ADS_3

"Salah ya? Padahal Icha gak mau sentuhan sampai dia jadi yang halal bagi Icha."


Noel membeku, apa maksud perkataan Icha barusan? Dia bahkan tidak pernah membayangkan bahwa Icha bisa mengatakan hal seperti itu. Bukan hanya Noel, Tea yang mengurus adiknya saja tidak yakin apa ucapan itu benar-benar keluar dari mulut Viocha.


"Cha? Kamu beneran mau nikah sama om-om tua ini?" Tea masih menatap adiknya tidak percaya.


"Non! Tolong jangan hasut dia buat mundur saat dia siap maju demi saya." Ptotes Noel. Dia tidak tau apa itu cinta, dan apakah dia benar-benar mencintai Viocha.


Tapi, aku suka waktu sama dia. Dan dia seru, jadi aku rasa lumayan kalau memang mau membangun rumah tangga sama Icha. Dua atau tiga anak cukup gak ya? Aku memang gak tau apa bener ini cinta, tapi dari semua kandidat, Viocha paling bagus. Da-


"Ga, Icha bercanda." Lanjut Icha enteng tanpa merubah ekspresi wajahnya. Siapa yang bisa bercanda dengan raut muka datar seperti itu.


"Icha...! Kamu tau gak? Kalau aku bisa loh langsung seret kamu ke KUA." Geram Noel yang sudah cukup kesal. Yah, hanya cukup tidak lebih. Dia yang bolak-balik di tipu Viocha, merusak harga dirinya sebagai penipu ulung.


"Bodo." Icha tidak peduli, dia dengan santainya berjalan duduk. Kali ini bukan di sebelah Tea, tapi di sebelah Asher. Dia tau bahwa jika dia duduk di sebelah Tea, dia pasti kena ceramah habis-habisan.


"Icha! Kamu kelewatan, minta maaf sama Noel. Sekarang Cha." Tea sudah menekan suaranya, dia memang menyayangi Icha, tapi ada yang salah dengan Icha semenjak dia bertemu Asher.


"Maaf." Dia mengatakannnya tanpa melihat ke arah Noel.


Bukh!


Noel memukul telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanan.


"Sudah saya putuskan Non! Saya bakal dapatin Viocha apapun yang terjadi." Rasanya semnagat di sekitar Noel manjadi meninggi.


Tea bingung, sebenarnya siapa yang akan dia pihak. Supirnya yang tidak pernah patah semangat, atau adiknya yang dinginnya kelewat. Kalau Asher sudah jelas memihak adik iparnya daripada supir menyebalkan itu.


"Nanti akan aku kenalkan pada kolega muda saat pesta pernikahan."


"Jangan katakan itu Tuan Asher! Viocha milik saya!"


-


-

__ADS_1


-


Sudah seminggu waktu berjalan, Tea sibuk mempersiapkan segalanya. Tapi, diantara itu dia sangat bosan menjalani hari-harinya, terasa ada yang kurang dan sangat kurang.


Saat ini dia sedang duduk di sofa ruang tamu ssndirian, dengan begitu banyak makanan di depannya, tapi tidak ada teman menghabiskannya. Padahal biasanya ada Noel yang makan dan mengoceh tidak jelas di depannya. Dan tidak ada manusia yang bisa dia ajak berbicara seperti Noel. Bicara dengan orang lain, rasanya tidak nyambung.


"Ini semua karna Noel dipecat, aku jadi bosan! Gak boleh gini ini gak boleh terjadi. Aku harus bawa kembali Noel apapun yang terjadi, sekarang minta Asher tarik kembali kata-katanya."


Tea sudah meyakinkan dirinya, mengumpulkan niat dengan sungguh-sungguh, jangan sampai nantinya dia mundur atau kalah. Tea sudah menyiapkan segala persiapan tempurnya.


Baru saja Tea ingin bangkit berdiri, sudah ada Asher yang datang dengan satu orang berpakaian aneh di sebelahnya.


"Kau mau kemana? Apa se-sulit itu untuk mu diam dan istirahat?" Asher segera menarik Tea, dia mengajak Tea untuk duduk di sofa sana.


"Ash, ada yang ingin aku sampaikan, tapi sebelum itu. Siapa dia? Siapa orang gila dengan pakaian aneh dan riasan aneh itu!" Tea menunjuk ke arah orang yang di maksud.


Jangan deskripsikan penampilannya untuk menjaga harkat dan martabat Albert sebagai dokter terbaik di kota ini. Dia sudah menelan malu yang sangat besar saat ini. Berharap Sheila tidak melihatnya.


Sangking malunya dia, jangankan berbicara, bernafas saja rasanya susah.


Asher pasti sudah gila, dia membawa manusia sebagai mainan untuk istrinya karna istrinya bosan. Belum lagi fakta bahwa mainan itu bergelar dokter.


Tea tidak tertawa, tidak marah dan tidak kesal, tapi juga tidak datar. Raut mukanya aneh sekarang.


"Aku gak mau dia Ash, dia aneh! Suruh dia keluar! Aku gak suka liatnya!"


"Kau benar-benar gak mau bermain dengannya?"


"Apa kau mau aku bermimpi buruk setiap malam?"


Asher diam sebentar, dia melirik ke arah Albert yang masih belum Tea kenali karna penampilannya bukan main bedanya. Jika saja Tea tau itu Albert, kira-kira apa yang terjadi?


"Kau keluarlah, kau pulang sana. Istri ku bilang kau tidak seru."


Albert tidak mengatakan apa-apa, dia dan wajahnya yang sudah terlalu putih karna bedak hanya mengangguk dan berjalan keluar. Bukan dia di bungkam untuk tidak berbicara, dia hanya berusaha untuk melindungi harga dirinya yang tersisa.

__ADS_1


Dia bernapas sangat lega saat berhasil melewati pintu itu, dia setidaknya bisa melindungi kebanggaannya yang tersisa.


"Asher sialan! bisa-bisanya dia setega itu pada sahabatnya sendiri. Harga diri ku!"


--


"Jadi putri rata? Apa yang ingin kau katakan? Kalau yang kau maksud adalah mendatangkan lagi supir mu, aku menolak."


Luar biasa, Asher bisa langsung menebaknya bahkan sebelum Tea membahasnya satu kata pun.


"Tapi Ash! Dia bukan hanya sekadar supir, dia asyik! Dia seru dan dia penghilang kebosanan. Rasanya ada yang kurang kalau dia tidak menjadi supir ku."


Tea masih berusaha keras untuk membelas Noelnya apapun yang terjadi. Kali ini dia harus berhasil membawa Noel kembali sebagai supirnya.


"Karna itu aku memecatnya."


"Kenapa kau memecatnya? Karna dia asik? Karna dia teman ku? Kau ingin menyiksa ku dengan tidak membuat orang yang ku suka di sisi ku?"


"Orang yang apa? Kau suka? Berpikirlah sebelum bicara, bagaimana bisa kau mengatakan itu di depan suami mu?"


Asher sudah kesal, jelas terlihat dari wajahnya.


"Apa aku harus mengatakannya di belakang suami ku?"


"Jangan pernah berkata seperti itu, dan jangan pernah berpikir untuk menyukai orang lain selain aku." Asher menarik Tea ke pangkuannya, dia mengusap rambutnya lembut.


"Kau menyukai ku?" Tea nyaris tidak percaya dia menanyakannya.


"Ya, makanya jangan katakan seperti itu lagi."


Dan jawaban yang keluar dari mulut Asher lebih tidak bisa dipercaya.


"Kau menyukai ku sama seperti kau menyukai Eve dulu?"


Asher mendecak kesal, dia memegang kedua pipi Tea lembut. "Apa aku pernah melakukan ini padanya? Apa aku pernah selembut ini padanya? Apa menurut mu aku pernah meminta maaf padanya. Semua ini terjadi hanya pada mu. Aku melakukan ini hanya untuk mu. Apa kau masih tidak mengerti?"

__ADS_1


Asher menatap lekat mata itu, mata jernih yang penuh ketulusan yang murni. Mata yang selama ini menyegarkan tubuhnya hanya dengan menatapnya saja.


__ADS_2