
Satu minggu sudah berlalu begitu saja, waktu terus maju tanpa kenal penyesalan. Dan selama ini, hampir setiap hari Eve datang untuk mengobrol bersama Tea. Kadang ada Noel yang ikut campur dan akhirnya mereka berdebat, kadang ada Viocha juga yang menjadi pawang nya Noel. Yah pokoknya hari-hari neraka berjalan dengan mulus. Kecuali satu hal...
Saat ini Tea sedang duduk membaca sebuah koran di sofa ruang tamu nya, semuanya aman tenang adem ayem tenteram sejahtera. Hanya ada masalah Elise saja yang terus berputar di kepala Tea. Sisanya istri orang kaya ini sama sekali tidak memiliki masalah. Ah ada satu lagi yang menjadi masalah Tea saat ini...
Drtt drttt
Ponsel di meja Tea berbunyi, ternyata itu pesan dari suami nya yang sibuk bekerja. Ah, jangan katakan betapa Tea sangat merindukan Asher.
Bagus ya, udah seminggu keluar kota dan baru nelpon sekarang, bagus! teruskan! Kau pikir akan ku angkat! Mimpi aja sana! Keluar kota gak bilang-bilang! Ngilang tiba-tiba! Sekarang saat nya pembalasan!
Tea mebiarkan kembali ponselnya bergetar di atas meja, dia sangat kesal dan marah sekarang.
Yah, ini adalah salah satu masalah yang Tea bilang. Bagaimana tidak masalah? Saat malam itu sang istri sudah menunggu Asher di kamar sampai tengah malam, padahal saat itu Tea ingin menceritakan kegelisahannya pada sang suami, dia ingin curhat dan berkeluh kesah. Dia ingin suaminya menjadi pendengar yang baik saat ini, tapi apa! Saat dia di perlukan dia malah menghilang dan tidak pulang.
Tea masih ingat satu minggu yang lalu di malam yang dingin dan keheningan kesepian malam, di tengah kegelisahan nya yang ingin mengeluarkan isi hatinya. Tapi Asher tidak ada, ke esokan paginya dia malah mendapat berita bahwa Asher pergi ke luar kota selama satu minggu.
"Lucu kah begitu? Menurut mu sopan meninggalkan ku tanpa kabar? Aku tidak mau berbicara dengan mu! Pokoknya gak mau! Bodoamat!"
Tea melipat tangannya, membuang pandangan dari ponsel yang kini berbunyi sembari bergetar di atas meja. Tapi, tak nampak tanda-tanda bahwa Tea akan mengangkat nya, tampaknya Tea akan membiarkan nya begitu saja.
"Lagipula itu salah mu kan? Siapa suruh pergi tiba-tiba tanpa kabar, tanpa izin? Ini tidak seru! Ini pelajaran untuk mu tau! Pokoknya kau lagi di hukum!"
Satu menit
Lima menit
Sepuluh menit
Tea membiarkannya, dia biarkan ponsel itu terus bergetar saat nama sang suami tercantum sebagai nama sang pemanggil. Tidak, Tea masih tidak akan mengangkat nya, meksi memang ada waktu dimana dia agak goyah. Tapi luar biasanya, Tea bisa menahan hasrat kangen dan rindu nya. Jika itu perempuan lain, mereka mungkin saja tidak akan kuat, kan?
Akhirnya setelah agak lama panggilan nya terhenti, Tea diam, dia mengambil ponsel nya. Terdapat 16 kali panggilan tidak terjawab dari sang suami.
Tea diam-diam tersenyum simpul. Apa sih maksud nya, apa seru nya menahan panggilan orang sampai sebanyak itu. Apa Tea tidak berpikir bahwa Asher juga di sana sedang berusaha menelponnya.
"Cuma enam belas panggilan dan gak ada pesan? Kelewatan!"
__ADS_1
pekik Tea, dia masih duduk anteng ayem di tempatnya saat ini, masih menatap ponsel nya yang diam tanpa getaran atau dering panggilan. Tidak ada panggilan dari Asher setelah yang enam belas tadi.
"Loh? Kok udahan? Serius nih dia gak nelpon lagi? Masa cuma segini?"
Tea menatap benda pipih persegi panjang itu, seolah tidak percaya perjuangan suaminya hanya sampai disana untuk memenangkan kembali hati istrinya yang sudah terluka.
"Jahat banget!"
Syukurlah tidak ada Noel di sekitar Tea, dan Tea hanya sendirian disana. Jika ada yang melihat Tea? Bukan kah mereka akan kesal? Sudah di telpon belasan kali tidak di angkat, giliran tidak di telpon malah di cariin habis itu nyalahin, oh astaga Tea.
"Nona, katanya ada yang mau ketemu Nona? Tamunya tuan muda Morgan."
Tea harus memperbaiki kembali ekspresi wajahnya yang sangat buruk tadi. Saat ini Sheila sudah masuk dengan Morgan di sebelah nya yang datang sebagai tamu.
Nah ini orang lagi, mau ngapain sih? Aku sedang kesal tau! Aku kalau kesal makan orang! Tidak ada yang tau kah!
"Hai Tea? Apa kabar, ba--"
Morgan mau berjalan mendekat dan duduk di hadapan Tea, namun langkah nya di blokir oleh Sheila.
Tea diam sebentar, akhir-akhir ini Tea merasa kagum dengan Sheila yang kerja nya super duper bisa di andalkan.
Yang deket harus ada izin? Sebenarnya aku malas sih ngomong sama Morgan, tapi kan aku harus ngomong sama dia biar aku tau reaksi dia mengenai Elise. Dia adalah salah satu tersangka. Aku harus bisa.
"Ya boleh, izinkan saja dia untuk duduk."
Akhirnya setelah mendapat izin Tea, Morgan di izinkan duduk dan mengobrol dengan Tea. Tapi, dengan Sheila yang ada di sebelah Tea.
"Oh ya, apa kabar?" Morgan membuka pembicaraan pertama kali, dia tersenyum menebarkan apa? Pesona? Oh ayolah, Asher lebih tampan. Kalau hanya sekadar Morgan, tidak akan mempan.
"Baik." Sahut Tea datar dan sekenanya saja.
"Ngomong-ngomong sebenarnya nama lengkap kamu sebelum menjadi Anumertha apa?"
"Galatea Floyena." Kali ini Tea menyahuti dengan datar.
__ADS_1
"Wah, nama yang sangat bagus. Sangat indah dan simpel."
"Ya." Tea tidak merubah ekspresi wajah nya.
"Berapa usia mu?"
"24."
Morgan masih tersenyum, kali ini senyuman kaku karna dia sudah agak malu.
"Apakah kamu udah makan? Mau makan bareng gak?"
"Udah makan."
"Apa warna kesukaan kamu?"
"Gak tau. Warna ya warna."
"Jangan kaku begitu adik ipar, aku adalah kakak ipar mu. Jangan begitu, kita seperti orang yang wawancara kerja. Ini tidak seru, lebih santai saja deh." Morgan mencoba mencairkan suasana.
"Ok."
Perempuan sialan ini! Beraninya dia mempermainkan aku?! Kau kira kau siapa! Kau hanya cukup beruntung, kau tau? Kau itu biasa aja! Tidak ada yang bagus dari tubuh mu!
Morgan masih memasang senyuman nya seperti biasa.
"Apa yang sangat kau sukai? Sesuatu yang kau sukai?"
"Elise! Saya menyukai Elise, dan saya berharap bisa bertemu dan mengoleksi perhiasan yang sama dengan nya. Soalnya Elise sangat cantik dan mempesona."
Ini namanya kesempatan kan? Dan dia sendiri yang datang, jadi ini namanya keberuntungan. Mari kita lihat, apakah Morgan memang ada hubungannya dengan Elise?
***
3 lagi kan ya...
__ADS_1