
Tea baru saja selesai membuat kue pai, berkat tutorial dari sebuah aplikasi yang mendunia. Terima kasih untuk siapapun yang menciptakan itu. Yah, meskipun sebelumnya dia berdebat dengan beberapa pelayan karna tidak mengizinkannya menginjakkan dapur. Sesukses apapun Tea, dia sadar, dia harus tetap punya keterampilan dasar seperti memasak, kan?
"Tolong bungkusin di tempat yang cantik, aku mau mandi dulu, sekalian bawain kotak p3k ke kamar ya." Tea mengelus-elus jari-jarinya yang memerah karna memegang loyang yang panas. Dia khilaf, memegang tanpa sarung tangan.
"Tapi Non, ayo kita kerumah sakit Non. Atau panggil dokter aja, biasanya Tuan muda juga manggil dokter. Di buku telepon rumah, ada kok nama dokter langganan Tuan muda, dan mereka juga berteman." Ujar salah satu pelayan di Mansion itu. Dia jelas tampak khawatir, dan Tea tau kekhawatirannya bukan untuk dirinya, melainkan takut kehilangan pekerjaan.
Itu wajar, mengingat upah pelayan dan tukang kebun disini yang setara-ah sudahlah, pokoknya sangat tinggi hingga mampu menghidupi keluarga.
"Luka apa yang Asher terima sampai memanggil dokter ke rumah?"
"Luka besar Non...! Parah! Misalnya, kejedut pintu, atau tangan berdarah kena kertas, atau kepala yang ketimpahan buku atau folder, ter--"
"Stop, iya kok, iya, iya aku paham, gak usah dilanjutin ujung-ujungnya cuma luka kecil." Sahut Tea, coba lihat wajah Tea saat ini. Benar-benar sulit dideskripsikan, dia tidak marah, tidak juga kesal, hanya...?
"Luka kecil apanya? Itu luka besar di tangan berharga Tuan Asher, dan itu juga luka besar di tangan Non Tea."
"Tolong jangan samakan standar rasa sakit ku dengan Asher, kami berbeda jauh."
"Non, rasa sakit akan semakin sakit kalau yang terluka itu orang seberharga Tuan dan Nona, kami yang liat juga merasa perih."
"Siapa nama mu?"
Pelayan itu diam, dia yang sedari tadi merunduk tanpa sadar mendongak menatap Tea.
"Ya? Seila Non."
"Nah Seila, bungkus pai itu dengan baik kalau kau masih ingin bekerja disini." Tea tersenyum mengerikan.
Seila langsung tersentak kaget. "Siap Non!" dia pergi dengan langkah panjang, takut kalau dia disana dia akan benar-benar dipecat.
Tea menghela napasnya, sembari berjalan ke tangga.
"Ternyata suamiku lebih lebay dari yang ku kira."
__ADS_1
...***...
"Wah Painya enak banget Nak, makasih Tea, kamu berbakat, istri yang sempurna. Kamu memang cucu kakek yang paling baik, andai aja yang cucu kandung itu kamu. Kakek stress dibuat empat cucu kurang ajar yang sedarah." Begitulah tanggapan Kakek yang berada di rumah utama setelah memakan pai buatan Tea.
Tea tersenyum dengan sa~ngat manis. "Makasih Kek, maafin Tea ya yang gak nyambut Kakek waktu itu."
Tea mengingat kembali perjalanan dia masuk ke Rumah Utama untuk pertama kali. Jangan ditanya! Megahnya luar biasa, barang berkilauan terpajang dimana-mana, Tea gak tau soal lukisan, tapi melihat gaya, corak, dan bentuknya, Tea yakin semua lukisan yang terpajang disana pasti edisi terbatas, dan jangan bayangkan harganya, itu di luar jangkauan fantasy kaum kita.
Tea benar-benar suka berada di rumah ini, tidak perduli betapa panas dan marahnya matahari di luar sana, dia merasa adem di dalam sini. Beda, entah kenapa beda dengan suhu rumah dan mansionnya.
Ya ampun Kakek, kenapa minta Tea tinggal di Mansion sana. Tea ikhlas lahir dan batin kalo diminta pindah kesini mah.
"Tea sering-sering main ke sini ya Nak."
"Iya Kek,"
Ini namanya keberuntungan beruntun kan?
"Oh ya Tea, Asher gimana, pernah kasarin kamu gak?"
"Gak kok Kek, berkat amplop ajaib yang Kakek kasih dulu."
"Baguslah, Kakek cape banget, udah tua mau istirahat aja, apa kamu bisa anterin berkas ini ke kantor Asher? Ini berkas paling penting dalam sebulan ini. Tolong ya Nak, alamatnya supir kamu yang baru udah tau kok."
...***...
Berkat perkataan orang tua itu, akhirnya Tea berada disini, di depan sebuah gerbang perusahaan yang luar biasa megah. Tea bahkan malas mendongak untuk menerka berapa lantai gedung itu. Dari luar saja udah banyak orang wara wiri secara tergesah-gesah. Sudah jelas didalamnya lebih sulit dari yang terlihat.
Noel membukakan pintu untuk Tea.
"Aku punya tangan, bisa buka sendiri loh." Oceh Tea yang turun dari mobil.
"Saya punya tugas, bukain pintu loh Non." sahut Noel tak mau kalah.
__ADS_1
"Takut banget ya dipecat?"
Keduanya mulai berjalan masuk, berkat Noel, Tea tidak perlu repot-repot mengadakan sesi tanya jawab dengan scurity depan atau resepsionis yang siaga. Noel sudah mengurusnya dan menuntun Tea ke ruangan Asher.
"Non gak tau aja betapa mahal saya dibayar buat jadi supir pribadinya Non."
"Aku gak lihat ketulusan sedikitpun dimatamu."
"Nona kurang lebar dalam membuka mata."
Noel yang sekarang sudah berani mulai menjawab semua perkataan Tea, menjadi lebih akrab layaknya teman. Tidak terasa, mereka sudah sampai di depan pintu ruang kerja Asher.
Tea baru ingin mengetuk, namun pintu itu sudah terbuka duluan, dan ada seorang perempuan yang tidak sengaja menabrak Tea, membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya, nyaris jatuh. Syukurlah ada Noel yang siap tangkap.
"Hey Noel, ini bagian dari pekerjaan mu kan? Setelah digaji dengan mahal? Kau gak akan minta balas budi atas kejadian ini kan?" Perkataan Tea barusan menyadarkan Noel. Noel dengan cepat melepaskan Tea untuk berdiri sendiri.
"Ma-maafkan saya!" Suara itu dari perempuan yang menabrak Tea.
Fokus Tea teralih pada perempuan yang sepertinya sudah berkeluarga, namun tampaknya dia gemetar ketakutan?
Noel mengambil kesempatan itu untuk tertawa sedikit di belakang Tea, setelah dia bersusah payah menahan ekspresinya di depan Tea, mendengar perkataan ceplos gadis itu.
"Ada apa? Kenapa berisik sekali? Apa susahnya tinggal angkat kaki selagi kau punya kaki?"
"Ma-maaf Pak! Saya akan pergi!" Perempuan tadi berlari dengan cepat bersamaan dengan berkas yang digenggam erat.
Tea agak familiar dengan suara itu, namun Tea juga agak ragu. Pasalnya, nada dan atmosfer dari suara itu asing, dan dingin penuh tekanan.
Tea masuk beberapa langkah lebih jauh, tampak sepertinya Asher sedang melakukan rapat dengan bawahannya. Celakalah Tea! Dia sudah berani-berani mengganggu rapat penting itu. Tea sudah pasrah akan nasibnya selanjutnya.
Semoga amplop kali ini juga ajaib!
"Kau? Mau apa kau kesini?"
__ADS_1
Tea menampilkan cengiran manisnya, berharap suaminya tidak akan memperpanjang masalah ini.
"Kakek minta suruh antar dokumen ini, yang katanya dokumen paling penting bulan ini, dan pai ini, kue terenak minggu ini." Tea mengangkat tangan kanan dan kirinya yang memegang kedua benda yang baru disebutkan tadi.