
"Karna ini aku akan membantu mu, katakan 'aku rata dan aku bangga' maka aku akan membereskan Yelena untuk mu."
"Buat apa mengakui seuatu hal yang gak benar? Aku tuh gak rata."
Keduanya terus melangkah maju, Tea sadar wanita yang mengenakan gaun mewah yang di sebut sebagai Yelena datang menghampiri mereka.
"Kak Asher~" Dia, Yelena berlari merentangkan tangan ingin memeluk Asher.
Asher dengan cepat menarik Tea dalam pelukannya, hingga gadis mungil itu kini terperangkap didalam dekapan sesak yang selalu diterimanya setiap pagi.
"Menjauhlah dari ku, virus bisa menyebar dalam jarak segini, menjauh sana, minimal satu meter." Asher melirik tajam ke arah Yelena.
"Ayo jalan." Asher melepaskan pelukannya, dia merangkul Tea dan mengajaknya berjalan.
"Kak Ash~ aku merindukan mu, apa kau tak merindukan ku? Aku selalu memikirkan mu sepanjang malam."
"..." Asher diam saja, dia hanya melanjutkan jalannya dengan membawa Tea.
"Bagaimana kabar kakak? Apa kakak makan dengan teratur? Aku sangat mengkhawatirkan kakak."
Asher diam saja, dia malah melirik ke arah Tea. Apa yang Asher harapkan? Tea masih menatap Asher. Keduanya saling tatap-tatapan tanpa tau sebenarnya apa yang dimaksud.
Apa yang Asher harapkan? Tea marah? Oh ayolah, dia gadis petakilan yang suka keributan.
"Kakak, hari ini kakak juga tampan sekali."
Asher masih tidak menggubrisnya.
"Aku dengar Kakak sudah menikah, apa dia istri Kakak?" Akhirnya Yelena menatap Tea setelah sedari tadi dia sibuk mengemis perhatian Asher.
Tea tersenyum. "Iya, Galatea." Sahut Tea entang.
"Masih lebih cantik Kak Eve, masih lebih manis Kak Eve, dan masih lebih ramah Kak Eve. Kak Eve jauh lebih sempurna."
Wah kurang ajar sekali mulut si cabe kecil ini. Syukurlah Tea sudah antisipasi keadaan ini akan terjadi, dimana dia yang bersanding dengan Asher akan terus dibandingkan dengan Eve sang mantan tercinta. Tea melirik ke arah Asher.
__ADS_1
Apa yang Tea harapkan? Asher membelanya? Oh ayolah Tea, jangan baper, bangun dari mimpi mu.
Jelas banget dia pasti bakal mihak mantannya itu.
Tea tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum. Hal terbaik yang bisa dia lakukan untuk menjaga hati dan mentalnya adalah....
Jangan pedulikan apapun.
Tea sudah menanamkan motto ini sejak dia memutuskan ikut makan malam ini.
"Kak Eve juga hari ini cantik banget, mereka udah di ruang makan, sama Kak Morgan. Mereka pakai baju couple, serasi sekali! Me--"
"Berisik, enyah sana!" Asher menatap tajam ke arah Yele. Membuat gadis yang masih diawal 20-an itu gagu gemetar. Dia dengan wajah ketakutannya, ingin segera merangkak pergi dari sana.
"Pffftt." Tea melirik ke arah Yelena, melihat wajah Yele yang sudah merona panas, karna malu, Tea senang melihatnya. Dia suka keributan yang tercipta barusan, Tea harap keributan itu ada lagi karna dia ingin menyaksikan lebih. Untuk memulai keributan selanjutnya, Tea harus meninggalkan bara api kan?
Yelena menatap benci pada Kakak iparnya yang baru bergabung dengan keluarga Anumertha selama dua minggu.
"Ka-kalau gitu aku pergi dulu, dadah Kak Asher! Ingatlah bahwa aku mencintai mu! Hanya aku yang tulus mencintai mu!" Yelena berjalan cepat mengambil lorong yang berbeda dengan Tea dan Asher.
Tea ingin segera menjauh darinya, jangankan menyentuhnya, rasanya ada di dekat Asher saja sudah seperti terbakar. Ini pertama kalinya, Asher terlihat semarah ini.
Dia marah karna mantannya datang dengan Kakaknya sebagai pasangan romantis dan saling mencintai? Oh ya ampun kasian banget kamu Nak.
Tea benar-benar ingin menjauh saat ini.
-
-
-
Sudah cukup lama mereka berjalan, dan hanya ada keheningan diantara keduanya. Hingga akhirnya keheningan itu membawa mereka pada ruang makan, tempat dimana acara makan malam berlangsung. Aneh memang, melihat ada Tea ada keheningan.
"Selamat datang Asher! Dan selamat datang Galatea! Akhirnya setelah sekian lama, kami bisa melihat Asher ada di ruangan ini lagi." Ujar perempuan bergaun merah tua, sangat cetar dan rasanya dia memiliki aura kuat dan kepercayaan diri yang tinggi. Dia menggenggam segerompol mawar merah segar ditangannya.
__ADS_1
Entah ide siapa penyambutan sialan ini, Tea tidak suka, karna oknum sang penyambut adalah....
Pandangan Asher jatuh pada gadis bergaun merah muda, dengan rambut yang ditata rapi. Gaun merah muda selutut, dengan atasan hiasan yang sederhana namun indah. Bibir tipis dengan riasan sederhana, wajahnya memang dasarnya cantik, bahkan sangat cantik. Apalagi ekspresi lugu dan kalem yang dia tampilkan bisa menarik banyak pria, gadis itu terlihat seperti boneka. Dia adalah bukti gadis elegan sesungguhnya. Curang sekali memang, sudah menerima berkat wajah secantik itu, dia juga menerima anugrah tubuh yang ideal, tubuh incaran semua wanita, dada yang besar, pokoknya mantep deh.
"Nah Eve, kau juga sambutlah Asher dengan istri barunya. Berikan ini pada istrinya." Perempuan bergaun merah terang tadi memberikan bunga merah itu pada gadis bergaun merah muda, yang dipanggil Eve.
Eve masih diam dengan wajah lugunya menatap wajah Tea.
Ah! Ini ketidakadilan untuk Tea! Kenapa dia terseret masuk ke dalam sini. Hatinya perih, harga dirinya dilucuti! Belum genap satu menit dia sudah mendapatkan perlakuan seperti ini. Apa menurut mereka lucu membuat Eve sang mantan tercinta menyambut Tea sang istri yang tak diterima?
Ah, aku butuh kain putih. Ayo kibarkan bendera putih, aku menyerah, dia dewi apa manusia? Apa perlu aku merobek gorden itu ya? Aku akan kibarkan di atap rumah ini.
Tea sudah melantur, kewarasnanya sudah berkurang. Dia menatap gorden berwarna putih itu.
"Apa yang kau lakukan sayang? Tolong beri bunga padanya, meski kita belum menikah, kau kan tetap tunangan ku, kau sudah menjadi bagian keluarga ini lebih lama dari dia. Jadi, ayo sambut anggota baru keluarga kita." Entah datang darimana pria itu, suaranya hangat dan ramah, dia merangkul Eve dengan manis. Tatapannya menatap Eve seolah penuh cinta yang indah. Wah, sudah jelas kan, dia kakak tiri kedua Asher, Morgan?
"I-ini, selamat datang di keluarga Anumertha." Eve memberikan bunga itu pada Tea.
Asher masih diam, fokusnya masih menatap wajah Eve.
Ck...! Sialan! Aku serius menyesal datang kesini. Lebih baik mengganggu Noel yang direbutkan ibu-ibu! Aku merindukan mu Noel!
"Ah, terima kasih." Tea menerima bunganya dengan senyuman palsu yang baru dia buat.
Mereka semua kembali duduk, ada yang aneh, ada dua bagian yang terpisah, di ujung sana hanya ada kakek sendiri meski dalam satu meja, duduk seperti sang penguasa. Wajah Kakek sangat kesal saat ini, dia murka.
"Ah, Jangan khawatir Kakek memang tidak suka duduk di dekat kita, tidak satupun dari kita." Jelas perempuan bergaun merah, Tea sudah bisa menerka namanya.
Dia itu Neila kan? Istri dari anak pertama Vallen?
Tea baru saja ingin duduk di dekat Neila, karena disebelah Asher sudah ada Yelena dan Eve. Ah kesal sekali rasanya, harga dirinya terkoyak rabak, namun...
"Tea, Nak, kemarilah, duduk disamping Kakek." Suara itu, Tea kenal, suara hangat Kakek.
Semua orang disana membatu, apa mereka tidak salah dengar? Itu Kakek loh? Kakek Bryan Kert Anumertha memanggil seseorang dengan sehangat itu?
__ADS_1