
"Kau mau kemana pagi-pagi sekali?" Asher sedikit mendongak, menatap sang istri yang sudah berdandan rapi di depan cermin.
"Aku mau menemui William, dia pulang hari ini. Katanya kondisinya sudah lebih baik. Dan dia juga minta aku datang untuk memilihkan sekolahnya." Sahut Tea sekenanya. Jangan tanya betapa dia bahagia, rasanya terbang melayang saat mendengar sang adik jauh membaik.
Asher diam sebentar, "Kau sudah ke dokter?"
Tea mengernyit heran. Padahal Asher tau Tea sudah sembuh, dan bahkan mereka sudah melakukan itu beberapa hari yang lalu. "Kenapa aku harus ke dokter, aku udah sembuh loh."
"Kau kan harus mengecek, apa sudah ada anak dalam perut mu. Kalau belum ada, kita kan harus membuatnya lagi?" Asher memasang wajah seolah tak tau apa-apa. Tapi dia sendiri kan tau, kalau janin tidak akan muncul semudah itu apalagi dalam waktu sedekat itu.
"Ini nih, kalau sekolah kerjanya lompat pagar, tujuan utama kantin, gak tau gimana proses terbentuknya janin kan?" Tea tidak habis pikir, dia tidak ingin menanggapin ocehan aneh itu karena dia buru-buru.
"Proses utama kan yang seperti waktu itu kita lakukan." Asher bahkan tidak memerah mengatakan itu, sedangkan Tea jangankan pipi, telinganya juga ikut memerah hanya dengan mengingatnya.
"Diamlah bandit payah!"
"Nanti malam aku ada makan malam bersama kolega, kau mau ikut?"
Tea menoleh lagi. "Enggak." Sahutnya enteng dan berjalan pergi.
Asher duduk, dia diam sebentar. "Aneh, Kenapa aku harus bertanya dan peduli pendapatnya? Aku kan bisa tinggal memerintahkannya saja seperti Eve yang akan selalu menuruti ku."
-
-
Tea turun dan sudah berhenti disebelah mobil hitam, tepat dimana supirnya sedang bercermin, memuji diri, seolah paling tampan sedunia.
"Noel, apa kau tidak mendengar itu?"
Kenapa Tea tega sekali, setidaknya biarkan Noel menikmati ketampanannya itu.
"Non habis sakit agak stress ya? Padahal sepi gini." Beneran deh supir kita ini, gak ada takut-takutnya.
"Kau gak dengar suara teriakan dari cermin itu? Dia menjerit kesakitan, karna dia harus memantulkan wajah mu yang menyebalkan itu."
__ADS_1
"Non gak dengar ada teriakan lain?"
Tea diam, dia mencoba menajamkan telinganya, tapi tidak terdengar apa-apa. "Gak ada suara apapun tuh."
"Ini suara teriakan saraf kewarasan saya yang menjerit perih waktu liat Non."
"Saraf kewarasan mu itu gak asik, dia baperan. Sudahlah, ayo pergi ke tempat Viocha."
"Non, kapan ya Viocha nerima saya?" Noel menghela napasnya, setelah menerima banyak sekali penolakan dari Viocha. Dia dengan gontai membukakan pintu untuk Nonanya.
"Entahlah, mungkin pas bulanĀ ketemu matahari dempet-dempetan?"
"Non, kata saraf kebahagiaan saya, dia ngajak musuhan. Katanya Non gak asik, nyiksa mental."
...***...
"Loh Kak? Icha gak ada kuliah hari ini."
Viocha memang menyambut kedatangan Tea dan Noel, hanya saja ada yang aneh.
"Okay, Icha ikut." Viocha memotong ucapan Kakaknya dengan cepat. "Bentar, Icha kunci pintu." lanjutnya lagi.
Tea masih diam membatu, dia terkejut senang bukan main memang Tea mengharapkan Viocha ikut. Tapi saat perjalanan Tea sudah mendoga Viocha akan menolaknya mentah-mentah, karna disana dia memiliki kenangan paling buruk.
"Mungkin dia mau ikut karena gak ada si brengsek disana?" Tea menggumam pelan. Tapi, itu adalah Noel, sang mata-mata tingkat atas. Mana mungkin dia tidak mendengarnya.
"Si brengsek itu siapa Non?" Noel penasaran, dia bertanya.
Tea terkejut, memang sampai sekarang Noel tidak tau kejadian buruk yang menimpa Viocha kapan lalu.
"Bukan apa-apa." jawab Tea dingin, Noel yakin ada sesuatu yang tidak beres disini.
"Ayo Kak, Icha siap."
Tea tersenyum menatap adik perempuannya, senyuman hangat yang khusus dia lemparkan untuk viocha, hangatnya bagai mentari yang terbit di musim dingin.
__ADS_1
Mungkin memang faktor waktu, atau Icha yang sudah berani bersosial, saat ini Viocha terlihat lebih baik, lebih ceria, lebih semangat dari sebelumnya.
...***...
Yah, Viocha baru saja tersenyum tadi. Tapi senyuman itu hilang, saat dia menatap si brengsek itu ada disana.
Tea bahkan sudah mengepalkan tangannya erat. Info dari Joselyn-ibu mereka, bahwa si brengsek itu tidak ada di rumah. Namun, apa yang terjadi saat ini?
"Oh ya ampun, dua putri tercinta ku kembali pulang. Ayah ini sangat merindukan kalian, apalagi Viocha ayah merindukan pelukan mu." Tanpa tau malu, Bambang-ayah tiri mereka merentangkan tangannya bersiap memeluk Viocha. Namun Tea sudah berdiri di depan sang adik menghalangi langkah pria itu.
Tea ingin sekali melontarkan kata-kata kasarnya. Namun tidak boleh, ada Noel-Pengawalnya disini. Tea tidak boleh ketahuan sebagai putri yang tak diinginkan, atau Asher akan lebih semena-mena pada dirinya.
"Kami datang ingin menjenguk Will, dimana dia?" Tea menahan amarahnya dalam-dalam. Dia mencoba bersikap senormal mungkin.
"Ya ampun kalian tidak ingin temu kangen dengan ayah dulu, astaga kedua putri ku sudah sangat de~wasa." Bambang melirik Viocha kotor apalagi dia menatap lurus ke arah dada sang gadis. Memang harus Tea akui, bahwa Viocha lebih cantik, dan tubuhnya lebih bagus. Walaupun begitu, itu tidak membuat Viocha layak menerima tatapan menjijikan begitu, kan?
"Kau...!" Tea menggeram kesal, dia sudah ingin menampar pria brengsek itu. Namun dihalangi oleh Viocha. Viocha tau, bahwa jika Tea ketahuan sebagai putri yang terbuang, entah kehidupan apa yang akan Tea jalani di rumah Anumertha.
Tea melirik ke arah Joselyn, lagi-lagi perempuan itu hanya diam dan membuang pandangannya. Seolah yang sedang diganggu bukan putri kandungnya.
"Dimana Will, kami ingin bertemu dengannya."
"Baiklah, ayah ini akan mengantar kalian." Pria brengsek itu sudah berjalan ke sebelah Viocha, ingin merangkul sang gadis manis. Tea sudah menyiapkan tangannya, dia tidak perduli apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Yang terpenting melindungi Viocha dan haraga dirinya. Tea sudah mengangkat tangan--
"Kak Viocha!!! Will kangen Kakak!!" William, sang penyelamat datang. Dia yang sudah cukup tinggi menggeser Bambang, dan langsung memeluk Viocha erat. Dia menarik Viocha, menjauh dari Bambang.
Tea menghela napasnya. Memang, walau Will masih kecil, dia benar-benar seorang pahlawan dimata Tea.
"Kak Vio datang." Will tersenyum bahagia, sangat bahagia. Dan Tea menyedarinya, Tea juga bahagia sangking bahagianya dia tidak sadar, bahwa panggilan 'Vio' yang Will lontarkan, sukses menggetarkan tubuh Viocha. Panggilan itu mengingatkan sang gadis atas kejadian menyedihkan yang menimpa ia dan harga dirinya.
...***...
Maafya, dua hari gak up author ke sebelah, nyelesaiin target. Kalau ada yang kepo sama karya author yang lain, ada di fiz*zo ya, nama pena SHY judul cerita "Suamiku (Tak) Setia!" disana udah 66 bab ya^^
Makasih^^
__ADS_1