
Tea baru saja masuk ke kamarnya setelah dia mempersulit diri sedari tadi. Dan amarahnya semakin memuncak saat melihat wajah Asher yang tenang tanpa dosa. Padahal biasanya Tea ingin selalu melihat wajah tampan itu demi terapi mata. Tapi apa sekarang? Tentu saja perasaan berkecamuk itu muncul, harga dirinya nyaris terkoyak rabak di butik.
"Kau sudah pulang? Bagaimana? Sudah mendapat baju? Coba kenakan aku mau lihat."
"Diem deh, aku lelah, aku ingin tidur." Tea beranjak ke ranjang. Namun, coba tebak? Pemandangan apa yang Tea lihat. Seprei putih polosnya sudah berserakan, bantal tidak rapi dan selimut tercampak. Dan luar biasanya lagi, Tea mencium parfum Eve. Tentu Tea sadar karna tadi kan Eve sempat membisikkannya sesuatu.
"Hey Asher? Bukannya kau sudah lebih dari kelewatan? Ada lebih dari sepuluh kamar di Mansion ini. Bisa-bisanya kau bermain bersama mantan mu dikamar kita? Di tempat kita tidur? Baj*ngan saja tau tempat." Tea nyaris menangis, namun tidak! Dia tidak ingin terlihat lemah di mata Asher. Dia berusaha mati-matian menahan jatuhnya bulir hangat itu.
Asher berhenti menatap dokumen itu, dia beralih ke arah Tea. "Bermain?" Asher menaikkan sebelah alisnya.
"Apa? Jadi bau parfum ini, dan tempat yang berantakan ini adalah berkat badai topan?" Tea melirik ke arah ranjang yang sudah acak.
Asher tersenyum menyeringai, dia bangkit dari tempatnya duduk.
"Kau bahkan tersenyum disaat seperti ini? Kau ini benar-benar...! Sakit jiwa!"
Asher tidak perduli, dia terus berjalan mendekati Tea, dia menarik pinggang Tea erat. "Maksud mu bermain seperti ini?"
"Jangan bercanda Asher!"
"Atau bermain seperti ini?" Asher menghujani wajah Tea dengan banyak kecupan.
"Kau...! Sudah kelewatan!"
"Ah, atau yang seperti ini?" Asher mendorong Tea, dia mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepalanya. Asher sudah mendekatkan bibirnya ke bibir Tea. Hingga bahkan deruan nafas keduanya saling terdengar, rasa hangat menyapa bibir keduanya.
Tea sudah menutup matanya, dia pasrah, akan keadaan. Tapi bukannya bibirnya yang dikecup, Asher mengecup kening Tea singkat.
"Bermain dengan Eve? Apa maksud mu mencekiknya hingga nyaris mati itu bermain? Ah, jika kau menemuinya sekarang, aku yakin kau bisa menemukan bekasnya." Asher melepaskan kuncian tangannya pada Tea.
"Kau...?! Lagi-lagi kau ingin membunuhnya? Bukannya kau ingin menikahinya?! Apa kau gila?!" Tea sudah tidak habis pikir.
"Aku ingin memilikinya, tapi dia tidak ingin kumiliki. Lalu aku harus apa? Tentu mengirimnya ke surga kan? Di banding dia dimiliki orang lain, lebih baik dia pergi ke dunia lain. Putri rata, sudah ku bilang kan, aku tidak suka kekalahan. Dalam hal apapun, harta, takhta, dan wanita, aku mau segalanya!" Wajah Asher saat ini tampak mengerikan, dia mengeluarkan kata-kata yang membuat gemetar siapapun yang mendengarnya.
__ADS_1
"Kau sungguh harus ke rumah sakit jiwa!"
"Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar dengan mu. Kau tau, aku memperlakukan mu dengan baik karna orang tua itu. Jadi bersikap bersahabatlah putri rata. Jangan terlalu banyak ikut campur, ketahui batasan mu. Bukannya keinginan mu adalah anak dan uang? Aku akan memberikan keduanya."
"Kau...! Terkadang aku merasa sangat mengenal mu, tapi juga terkadang merasa kau itu sangat asing. Kau benar-benar menyebalkan! Kau teka-teki yang membingungkan."
"Semakin kau ingin mengerti, semakin kau tidak mengerti. Jalani saja, karna aku juga sedang menikmatinya."
Cup
Asher meninggalkan sebuah kecupan singkat di kening Tea. Dia bangkit berdiri lalu keluar dari kamar, namun sebelum dia benar-benar keluar.
"Ada apa dengan mu? Kenapa hari ini kau sensitif sekali? Tidak seperti biasanya? Aku harap, makan malam nanti kau sudah baik-baik saja."
Setelah pintu tertutup sempurna, Tea memejamkan matanya.
"Itu benar, kenapa hari ini aku sensitif sekali? Padahal biasanya aku tidak akan perduli jika dia bertemu dengan Eve. Dan Eve? Apa maksudnya? Dia menginginkan Eve, tapi memperlakukannya dengan keji? Aku sungguh tidak mengerti."
-
-
-
Tea baru saja bangun, dia bahkan belum membuka mata secara sempurna, tapi dia sudah ditanya dengan menyebalkan. Untuk pertama kalinya Asher bangun lebih dulu daripada Tea. Membuatnya tidak perlu merasa tersiksa di dalam penjara lengan itu pagi ini.
"Apa maksud mu? Aku membelinya kok." Tea sudah membuka matanya dengan sempurna. Tea ingat, kemarin malam dia langsung tertidur sebelum Asher pulang, bahkan tanpa makan malam. Akhirnya keduanya benar-benar tidak jadi berbicara.
"Bagaimana caramu masuk? Kau kan gak punya kartu akses?"
Tea langsung melirik tajam ke arah Asher, mengingat harga dirinya yang hampir di rampas terang-terangan. "Bercanda mu itu gak lucu, kau sengaja ya mengirim ku kesana tanpa kartu? Kau...!"
"Aku sudah mengirim Barant bersama kartunya, aku lupa mengatakannya. Jadi, apa kau di usir? Haruskah kita menutup butik itu? Dengan dua puluh persen saham aku masih punya hak sampai sana."
__ADS_1
"Wah, wajah mu menampakkan jelas ketulusan bahwa kau bersalah." Tea mengatakan itu, padahal wajah Asher berkebalikan dengan yang Tea bilang. Dia santai sekali.
"Jawab aku, apa ka--"
"Bagaimana bisa mereka mengusir pemilik butiknya? Kakek sudah memberikan butik itu pada ku, astaga jangan iri."
"Oh begitu,"
"Kau tidak kaget?"
"Kenapa? Dia bahkan memberi ku 10 persen saham demi kau, itu hanya butik, tidak masalah. Terkadang aku merasa heran, kenapa dia begitu menyayangi mu."
"Entahlah,"
Aku juga heran, haruskah aku bertanya pada Kakek nanti?
...***...
"Aku bahkan tidak tau kalau akhirnya akan sebanyak ini?" Tea sudah berdiri di ruang aula di rumah utama, dia menatap rentetan gaun di depannya saat ini. Itu banyak sekali, lebih dari dua puluh setidaknya.
"Cuma pengen bilang, harga satu baju berkisar belasan hingga puluhan juta, Biar Non tau aja. Cuma mau ngasih tau aja bajunya ga boleh dibalikin ke butik, dan untungnya Non pemiliknya jadi gratis."
"Mana aku tau asal tunjuk jadi begini, aku bahkan sudah pusing meletakkannya dimana."
"Padahal Non udah milih suami asal tunjuk dan hasilnya seperti itu, harusnya Non belajar untuk gak asal tunjuk di banyak hal."
Tea menatap Noel datar. "Bagaimana lagi aku takut jadi perawan tua~"
"Jadi baju ini mau di buat apa Non?"
"Jelas di pakailah, ya kali dijadiin kain lap."
"Non, tadi saya ada liat beberapa yang kayaknya cocok deh buat Viocha. Kasih ya Non?"
__ADS_1
"Nice, ayo pilih buat Viocha dan Ely, dia pasti sen-- eh bentar. Hey Noel, apa menurut mu seorang pemilik butik bahagia diberi pakaian dari butik lain yang lebih terkenal?"
Noel hanya menatap Tea, tanpa mengatakan apa-apa. "Otak saya gak sanggup mikir sampai sana Non."