
Suasana hening antara Tea dan asisten Asher. Sejak asisten itu berkata soal Eve, dia tidak bicara lagi. Membuat Tea tidak bisa mengorek informasi lebih jauh. Setiap Tea bertanya soal hubungan Asher dan Eve dulu seperti apa, asisten itu langsung mengatupkan mulutnya rapat akurat.
Hanya ada suara dentingan dari sendok yang menyentuh gelas, itu semua karna Tea sibuk mengaduk cairan berwarna tidak jelas itu, untuk suaminya.
"Bawain sampai depan pintu ruangan Asher." Titah Tea, dia tau asisten itu merasa bersalah. Dan Tea tidak tertarik untuk menghiburnya.
Hanya ada suara bisik-bisik yang menemani langkah Tea kembali ke ruangan Asher. Tak ada satupun yang berani bertanya siapa Tea dan kenapa dia disini? Tidak ada! Tentu karna mereka melihat asisten Asher yang paling dipercaya ada disebelahnya.
"Kemari kan." Tea meminta kopi itu, tentu dia harus terlihat baik didepan Asher kan? Agar pria itu tetap tutup mulut didepan kakek.
Tapi anehnya, asisten Asher masih diam mematung. Dia hanya menatap Tea, entah apa maksudnya.
"Kemarikan, aku udah puas mengeksploitasi mu? Hey? Kau dengar gak sih?"
"Maaf...," dia merunduk sedih. "Maafkan saya nona, ini kesalahan saya. Saya harusnya tidak berkata seperti itu. Pasti anda tersinggung sekali dengan perkataan saya. Saya benar-benar minta maaf, dan meminta hukuman tanpa diringankan."
"Nama mu siapa?"
"Ya?" wajah Asisten itu sudah tampak gugup. Tea tau, pasti dia berpikir Tea akan menghukumnya dengan kejam. Hey, ayolah, dia Tea, gadis paling baik yang pernah ada, ya kan?
"Nama, aku bertanya nama mu?"
"Baran nona, Barant Shent."
"Oke Barant kita hidup di zaman modern. Jadi jangan mengatakan hal-hal aneh, dan berikan aja kopinya." Tea mengambil kopi itu, dan langsung masuk kedalam. Tatapannya langsung jatuh pada Asher yang tengah sibuk dengan dokumen-dokumen, aura disekitarnya terasa sangat dingin. Dia persis seperti pangeran dari utara yang dingin namun menawan.
Dan yang paling menyebalkan namun Tea menikmatinya adalah bagian Asher memakai kacamata dan itu tidak turun-turun, karna hidungnya menyanggah dengan sempurna! Tea kagum, sekaligus iri, rasanya dia ingin merampas hidung sempurna manusia itu.
Tea berjalan mendekat, berhenti tepat di depan meja Asher. Dia meletakkan kopinya di bagian yang kosong. Lalu tanpa sadar Tea kembali menatap pria keren itu.
"Apa? Kau menunggu aku memperbaiki kacamata ku? Tidak seperti seseorang yang hidungnya kedalam dan sulit memakai kacamata." Asher menatap mengejek ke arah Tea. Asher harus bersyukur dia punya mata yang menggoda, kalau tidak Tea akan benar-benar memukulnya hingga lebam.
"Bersyukurlah kau itu tampan. Kau tau betapa aku ingin merusak wajah mu itu? Namun aku mengurungkan niat itu agar tetap menikmati terapi mata setiap hari. Tapi aku juga gak akan ragu kalau kau kelewatan."
"Benar juga, kau harus cuci mata dengan wajah ku, tidak mungkin dengan wajah mu yang biasa aja. wajah ku memang membawa kebaikan. Tidak seperti wajah mu yang biasa aja dan pasti kau bosan melihatnya dicermin."
Mulut Asher ini benar-benar deh. siapa yang bilang dia orang dingin? Dia itu menyebalkan dan sangat nyinyir!
"Hey, aku penasaran, apa kau pernah ikut kelas ngerumpi dengan ibu-ibu kompleks depan? Kenapa rasanya kau handal sekali dalam meroasting orang." Tea mendengus kesal.
"Ayolah, tidak perlu keahlian khusus. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, mengatakan fak-tanya."
Tea tersenyum penuh maksud dengan umpatan versi lengkap didalam hatinya. Dia merutuki nasib sialnya yang harus menikah dengan orang ini.
Tanpa Tea sadari, sudah ada Bara yang menatapnya tanpa berkedip. Dimatanya terlihat kekaguman untuk Tea, namun juga kesedihan?
__ADS_1
Kenapa dia bersedih? Tidak mungkinkan dia iba terhadap ku?
Tea memang sangat peka sekali tapi kadang-kadang doang.
"Hey Asher, dimana Noel? Aku mau pulang."
Asher mendadak berhenti membolak-balikkan dokumen itu, dia membuka kacamatanya menatap langsung ke retina hitam gadis itu.
"Kenapa kau pulang?"
"Kenapa aku harus disini?"
Asher tampak berpikir sebentar.
"Benar juga, buat apa kau disini? Sudahlah, kembali sana. Barant, antarkan dia sampai rumah."
"Gak perlu, lagian dia pasti punya pekerjaan yang sama menumpuknya dengan mu. Aku pergi dengan Noel, jadi aku akan kembali dengannya."
"Tunggu putri rata!"
Tea sudah berbalik ingin kembali, namun panggilan Asher menghentikannya. Tea tidak percaya, dia juga mendengar panggilan itu di kantor.
"Ada apa lagi sih bandit payah?"
"Seingatku supir yang aku pekerjakan di mansion bukan dia, apa kau mengganti supir? Mengingat kau memangil dia dengan nama, Apa dia teman mu yang kau beri pekerjaan?"
"Ck...! Orang tua itu terlalu banyak ikut campur!"
"Apa? Kenapa?"
"Tidak ada, pulanglah. Dan kalau bisa jangan terlalu dekat dengannya."
"Apaansih, gajelas banget. Udah ah, dimana Noel?"
"Dia di parkiran. Barant, ikut dengannya dan antarkan dia sampai ke mansion ku, baru kembali kesini."
"Buat apa dia ikut? Buat merampas oksigen didalam mobil?"
"Ada berkas yang harus dia ambil. Aku sudah menghubungi pelayan rumah, mereka sudah tau berkas mana yang dibutuhkan. Kau gak berpikir kalau aku menyuruhnya ikut dengan mu demi menjaga mu, kan?"
"Sejujurnya sih iya." jawab Tea dengan polosnya.
"Ya ampun, sayang sekali aku menghancurkan harapan mu."
"Terima kasih karna sudah menghancurkan harapan ku, ya ampun aku sedih sekali nyaris menangis." Sahut Tea dengan nada ceria. "Sampai jumpa, dah payah." Tea melambai berjalan pergi. Tea pikir Asher di kantor sangat berbeda, ternyata tidak juga.
__ADS_1
Dia dingin banget karna rapatnya membosankan, kan?
Saat Tea sudah keluar dari pintu, untuk pertama kalinya selama Asher ingat, dia baru tersenyum selebar itu, meskipun dalam mata orang normal itu adalah senyum tipis-tipis.
Tuan Asher tersenyum! Beneran? Ternyata nona Tea gak bohong. Apa ini bukan Tuan Asher?
Asher tiba-tiba melirik tajam ke arah Bara. Mata dan aura dingin itu kembali lagi ke tubuh Asher. Hanya dari tatapan saja Bara mengerti bahwa dia di suruh cepat pergi.
Benar kok, itu Tuan Asher yang dingin dan menyeramkan!
Bara segera mengambil langkah panjang mengejar Tea yang semakin jauh.
Tapi bentar, berkas apa yang dimaksud?
-
-
"Non? Non gak percaya keselamatan Non terjamin kalau cuma pergi sama saya? Kenapa malah bawa orang lain?" Noel menatap Barant dari ujung kaki hingga ujung kepala. Barant juga tak mau kalah, dia membalas tatapan Noel dengan tajam. Terjadi perang dingin diantara keduanya. Entah karna apa mendadak mereka seperti berbeda kubu.
"Dia mau ngambil berkas ke rumah."
"Non tau Tuan muda Asher kaya, kan dia punya mobil sendiri. Kenapa harus merampas oksigen kita?"
"Itu yang kumaksud. Udahlah, masuk aja, aku cape mau tiduran."
Tea ingin membuka pintu mobil, namun Noel dengan cepat membukakannya.
"Tolong jangan buat saya seperti penjahat yang makan gaji buta Non."
"Ah, kau punya prinsip ternyata?"
"Jadi Non selama ini anggap saya apa?"
"Maaf Noel, selama ini aku hanya menganggap mu sebagai teman, kalau kau punya perasaan padaku, tolong lupakan, dan ikhlaskan lah aku yang berstatus istri orang ini."
Noel menatap Tea datar.
"Maaf Non, saya anti sama istri orang. Jangankan status anda istri orang, status anda single aja saya akan mundur teratur. Saya gak sanggup kalau harus kehilangan kewarasan di usia muda."
"Noel, kau dipecat."
"Astaga! Siapa gadis paling cantik, baik, kalem dan juga elegan selain Nona Galatea Floyena? Non Tea yang tercantik! Bahkan cermin ajaib ibu tiri putri salju pun tau akan hal itu."
"Noel, kau diterima kerja kembali."
__ADS_1
Noel tersenyum sangat manis, dia mengelus dadanya. "Terima kasih nona."