
Makan malam sudah usasi, aku bahkan tidak berselera karna melihat mereka berdua, tingkahnya terlalu menggelikan.
Aku masih ingin mencari tempat istirahat, aku masih harus menunggu putri rata yang dipanggil ke ruangan kakek tua itu.
Dan kebetulan aku malah berpapasab dengan Eve, aku menarik tangannya dan membawanya ke sebuah ruangan terdekat. Aku memaksanya untuk kembali pada ku, dan dia juga menolaknya dengan kasar. Aku masih terus memaksanya, dan jawabannya tidak berubah.
Aku kesal, aku akhirnya menekan rahangnya kuat, ya ini bukan pertama kali aku main tangan dengannya, aku tau itu sakit, karna itu sakit, dia harus merubah jawabannya agar aku melepaskannya. Tapi, dia tidak juga merubah jawabannya, aku semakin kesal.
"Asher!"
Aku tau, aku sadar sudah ada Putri rata disebelah ku, dia memegangi tangan ku, mencoba melepaskan itu. Aku tidak peduli, yang aku inginkan hanya Eve kembali pada ku.
"Lepas! Aw! Ini sakit bandit payah!" Entah apa yang terjadi, aku malah mencengkram pergelangan tangan Putri Rata sampai itu memerah. Ck! Sial! Bagaimana bisa aku tidak mengendalikan diri ku.
Tsk! Itu pasti sakit sekali! Aku harap mulutnya masih bisa terbuka walau tangannya terluka.
"Tunggu! Hadiah dari Kakek jatuh."
Sebuah kotak kayu dengan ukiran disekitarnya? Aku tau isinya adalah kalung, bukannya itu harta berharga yang dia punya? Aku ingat dia mengusir menantunya-Ivonna (Ibu tiri Asher) karna berani mencoba mencuri kalung itu. Kakek tua itu sangat menyayangi kalungnya, tapi kenapa diberikan pada Putri rata?
Sepertinya dia menyayanyi putri rata lebih dari yang aku bayangkan. Makanya malam itu aku menceritakan soal kesepakatan sepuluh persen saham. Dan ya, wajahnya tadi sangat ketakutan saat aku menyakiti Eve. Padahal aku tidak akan melakukan itu pada Putri rata. Iya, aku tidak melakukannya karna sepuluh persen saham.
Hanya demi sepuluh persen saham.
Aku manjaganya juga demi sepuluh persen saham.
Aku membiarkannya tinggal juga, hanya demi sepuluh persen saham.
Semua toleransi ku hanya demi sejumlah saham.
-
-
__ADS_1
Hari itu kantor sibuk sekali, dan semua bawahan tidak ada kerjanya yang becus, dan sepertinya aku tidak enak badan. Aku pulang, dan saat aku bangun, kemeja ku sudah terbuka, dan sepatu ku lepas. Yang aku ingat terakhir kali hanya putri rata yang ku tarik, karna aku sudah terbiasa tidur bersamanya. Rasanya sulit tidur jika tidak ada dia di dalam pelukan ku.
Pasti kemarin malam dia yang melepas semuanya. Aku sudah bangun lebih dulu, menatapnya yang masih tertidur.
Aku cukup bingung, bersamanya memang seru dan menyenangkan. Apa yang harus ku perbuat padanya, jika Eve sudah kembali pada ku nanti.
Apa aku ceraikan saja dia?
Saat awal-awal pernikahan aku yakin sekali bisa menceraikannya dengan mudah, tapi menyebalkannya aku tidak bisa tidur jika tidak ada dia. Tapi, jika dia pergi aku masih punya Eve. Mungkin saja aku masih bisa tidur jika Eve yang sempurna ada di sebelah ku.
Dia sepertinya akan bangun, aku kembali menutup mata ku, mendengarkan segala keluh kesah dan ocehan paginya. Tapi, tiba-tiba, dua gumpalan daging itu menempel di wajah ku. Jujur saja, dari luar itu terlihat rata, tapi saat di sentuh itu benar-benar terasa.
Aku menggigitnya, sesuai dugaan itu sangat lembut, aku ingin meneruskannya jika dia tidak berteriak. Yah, dari sana pertengkaran rutinan kami kembali di mulai, hingga aku lagi lagi melupakan keputusan cerai yang ku buat.
-
-
Tidak berapa lama, akan ada pesta perayaan Anumertha Grub yang diadakan, Putri rata harus memakai baju yang cantik, dan memesan gaun senada dengan ku. Aku memintanya untuk pergi ke butik, sebelum itu, aku juga bercerita tentang kegiatan rutin ku saat pesta itu datang, yaitu dansa bersama dengan Eve. Itu adalah kesepakatan yang ku buat dengan Eve. Jika aku berdansa dengannya pada dansa pertama, aku akan memberikan sejumlah uang pada Eve. Bodoh sekali, padahal dia butuh uang ku, kenapa dia malah bertahan demi cinta si bodoh itu.
Setelah dia pergi, aku baru sadar aku lupa memberinya akses ke butik. Aku memanggil Barant, dan tidak lama setelah Putri rata pergi, Eve masuk.
Ada yang aneh, aku sama sekali tidak senang melihatnya, kehadirannya seolah menganggu ku. Apa karna aku terlalu menginginkannya? Jadi saat dia tidak menjadi milikku, aku kesal dan tidak ingin melihatnya.
"Apa kau sudah putus dengan Morgan?"
Percuma, jawabannya tidak berubah, lagi-lagi dia menolakku mentah-mentah, anehnya aku tidak sekesal biasanya.
"Kau! Ceraikan Nona Galatea! Kasihani dia! Kau ingin menghancurkan hidupnya sama seperti kalian menghancurkan hidup ku?! Kau harus melepaskan Nona Tea!! Jadilah manusia sekali saja!"
Kesal! Aku tidak tau, yang jelas aku marah. Berani-beraninya dia meminta ku untuk melepaskan putri rata.
"Kau...!" Aku mencekiknya sangat kuat, hingga dia beberapa kali berteriak. Aku baru melepasnya saat mendengar ketukan pintu di luar. Dia jatuh di kasur itu.
__ADS_1
Barant masuk, dan Eve baru keluar. Aku meminta Barant untuk mengantarkan kartu akses putri rata.
"Kenapa aku kesal? Rasanya benci sekali membayangkan bahwa putri rata akan pergi dari ku. Tapi, apa yang Eve katakan benar. Jika aku menginginkan Eve, aku harus melepaskan Putri rata."
Tcih menyebalkan. Aku masih memilih mempertahankan hubungan ku dengan Putri rata, karna belum ada tanda-tanda kembalinya Eve.
Ada yang aneh saat dia kembali dari butik, wajahnya tampak marah, suaranya kasar, dia bukan putri rata yang ku kenal.
Ada apa? Apa mungkin satu butik ada yang menghinanya? Bahkan staff butik? Berani sekali mereka, harus aku cari tau, dan akan aku pastikan mereka semua bangkrut. Beraninya mengganggu putri rata milikku.
"Ada apa? Kau diganggu? Haruskah kita tutup butiknya?"
Persetan dengan berapa keuntungan yang Anumertha dapat dari butik itu. Aku harus menutupnya jika karna butik sialan itu, suasana hatinya memburuk, itu tidak seru.
"Hey Asher? Apa menurut mu lucu membawa mantan mu untuk tidur di kasur kita?! Bermain bersamanya di sini?"
Ah, ternyata bukan karna butik, melainkan seprei yang berserakan. Dia tau aku dan Eve ada disini tadi. Entah kenapa aku jadi senang, dia marah karna hal itu dan aku jadi ingin mengganggunya.
"Bermain? Maksud mu seperti ini?" Aku menarik pinggangnya, lihat wajahnya, dia sangat imut saat pipinya memerah.
Dia meronta minta lepas, tapi aku tidak mau, aku mendorongnya ke ranjang, mengunci kedua tangannya di atas kepala.
Saat itu, aku bisa melihat dengan jelas, dada kecil itu tidak sepenuhnya rata, ada yang tumbuh disana. Aku rasanya ingin melahap keduanya, aku ingin menenggelamkan wajah ku disana. Aku ingin menggigitnya langsung dikulitnya.
"Lepas!"
Rontahannya mengalihkan pandangan ku ke wajahnya, sejak kapan dia jadi se imut ini? Padahal saat aku pertama kali melihat wajahnya, dia biasa aja. Kenapa jadi cantik dan menggemaskan! Sejak kapan bibir mungilnya juga menjadi sangat menggoda, ya kalau di ingat-ingat kami belum pernah berciuman, aku ingin langsung menempelkannya saja.
"Asher lepas!"
Sepertinya dia sudah cukup marah, aku memilih melepasnya saja dan memendam segala pikiran ku, dibanding dia harus lebih marah.
"Apa yang kau maksud bermain itu, mencekik lehernya nyaris mati?"
__ADS_1
Lebih baik aku mengatakan sejujurnya, daripada dia nanti marah.