
"Bukannya kau sudah kelewatan ya? Kau harusnya bersikap lebih baik pada perempuan yang kau cintai."
"Kalau itu kau sih, segini saja cukup."
"Bajumu sangat jelek!"
"Bahkan jika aku pakai pakaian gembel sekalipun, aku masih terlihat tampan." Asher mengatakannya tanpa rasa bersalah. Hem? Memang apa salahnya berkata kebenaran kan?
"Kau itu menyebalkan! Tapi lebih menyebalkan karna yang kau katakan itu benar!" Tea sudah cemberut. Baik Asher sudah mencintainya atau belum, tidak ada yang berubah soal fisik. Lagipula, siapa yang bisa merubah Asher jadi jelek?
"Pfftt, kau ingin ku bilang cantik?"
Tea menghentikan langkahnya, dia menatap Asher berbinar. "Katakan aku cantik Ash." Tea sudah memastikan telinganya tidak bermasalah, dan terpasang dengan aman.
"Hemm, sebentar, biar aku lihat dulu." Asher mundur satu langkah, dia menatap Tea dari atas sampai bawah. "Tidak ditemukan."
"Kejelekan dari aku? Tentu saja, hari ini aku adalah ratunya, mana mungkin ratu jelek." Tea sudah tersenyum sombong.
"Kecantikan yang menempel pada mu, aku benar-benar tidak bisa melihatnya." Asher menggelengkan kepalanya pelan, dia sudah berusaha setengah mati menahan bibirnya yang ingin tersenyum.
"Kau yang tidak bisa melihat kecantikan ku tau! Kecantikan ku ada pada hati ku yang tulus dan murni. Hanya orang baik dan beriman yang bisa melihat kecantikan sejati ku."
"Iya memang sih, aku kan pendosa." Sahut Asher enteng. "Tapi kau benar-benar biasa aja, kalau kau tidak percaya, coba tanyakan pada dua manusia dan dua orc di belakang kita."
Barant dan Noel tau, bahwa yang dimaksud orc itu adalah mereka. Tapi, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa kan? Mau marah bagaimana? Bisa-bisa nantinya mereka menjadi penggangguran selamanya.
"Aku hari ini terlihat berbeda kan? Aku sangat cantik, benar kan?" Noel menatap keempatnya secara bergantian.
"Entahlah, Non sama aja kok sama yang kemarin-kemarin." Sahut Noel enteng.
Ya, anda masih sama. Dulu anda lucu dan baik, hari ini anda juga lucu bahkan dengan luka di tubuh Non.
"Noel, kau dipecat!" Pekik Tea yang sudah kesal.
"Lha? Saya kan memang sudah dipecat." Sahut Noel tanpa dosa.
"Kau...!"
"Tapi Galea, yang dia katakan benar. Kau biasa aja, sungguh." Timpal Ely dengan tawa yang sudah keluar dari mulutnya.
"Icha?" Tea melirik ke arah Icha. Tapi Viocha malah diam, dia hanya melirik ke arah guci yang terpajang indah di sebelahnya.
"Cha?"
__ADS_1
"..."Icha masih diam, tanpa melirik Tea. Tidak bisa Tea percaya, bisa-bisanya adiknya yang paling menurut kini tidak membela dan mendengarkannya, dan sampai mengabaikannya.
"Luar biasa, adik ipar ku saat ini luar bisa. Tidak sia-sia aku mengajarinya banyak hal."
"Apa yang kau ajarkan pada adik ku yang suci dan polos!"
Tea beralih ke arah Barant. Barant adalah pria yang biasanya merengek meminta menjadi bawahannya, kan? Mana mungkin dia akan berkata buruk pada Tea.
"Barant, apa ak--"
"Oh, tali sepatu ku lepas." Barant langsung menunduk menyentuh sepatunya.
"Tapi sepatu mu gak pakai tali." Tea menatap kesal pada pria itu.
Apa-apaan semua orang sekarang? Mereka seperti sepakat untuk menjahili Tea. Kenapa mereka tega sekali sih?
"Pfttt." Asher sedari tadi berusaha menahan tawanya, tapi masih tidak bisa juga. Pelan tapi pasti, senyuman berujung tawa hadir di wajahnya.
"Oke, ketawa aja terus!" Tea menghentakkan kakinya kesal.
Perjalanannya di lanjutkan, dan Asher masih mengganggu Tea yang cemberut. Hingga akhirnya tanpa terasa, mereka semua sudah berada di depan pintu aula.
"Putri rata, kemarikan tangan mu." Asher mengulurkan tangannya romantis, ah dia seperti seorang pangeran, namun nyatanya dia bandit kan?
"Baiklah ratu rata, ayo kita masuk."
Asher mendadak diam, dia menghentikan langkahnya. Tangannya memegangi bibirnya, sembari dia memasang wajah yang aneh.
"Ada apa? Kau sariawan?"
"Tidak suka. Aku tidak suka memanggil mu Ratu rata. Itu sangat asing di ucapkan. Yang terbaik memang putri rata."
"Sekali lagi kau panggil begitu, aku akan kabur."
"Putri rata."
"Aku kabur nih?"
"Putri rata."
"Oke aku kab--"
"Ayo jalan istri ku."
__ADS_1
Noel dan Barant masing-masing sudah memegang gagang pintu. Mereka berdua membukakannya dengan sangat elegan.
"Tuan muda Asher Vinchete Anumertha, dan Nyonya muda Galatea Floyena Anumertha memasuki aula."
Tepat saat langkah pertama Tea pijakkan di di karpet merah yang sudah digelar di sepanjang jalan menuju pelaminan mereka. Suara penyambutan itu datang.
Padahal saat merencakan pernikahan itu, Tea tidak yakin ada adegan seperti itu. Dia yakin bahwa ini tidak ada. Tapi tidak apa-apa kan? Tidak terlalu buruk.
Dengan begitu, pusat perhatian satu aula dan banyak tamu yang berkunjung terfokus pada Tea dan Asher yang jalannya sangat pelan. Apa emang tradisi manten, jalannya pelan begitu?
Kekesalan Tea langsung hilang, saat dia menerima sambutan hangat, belum lagi ruangan yang di dekorasi dengan sangat indah. Mewah, tapi juga sederhana, sulit dijelaskan dengan kata-kata, yang jelas suasana ini sangat bermakna, hingga takkan pernah terlupa bahkan jika sudah tua.
Ada bunga, dan cukup banyak, namun tidak berlebihan, ada Asher yang sudah menuntunnya perlahan di atas karpet mereah itu.
Padahal dua hari lalu, dekorasinya belum begini, cepat sekali berubahnya.
Para tamu undangan, hanya mampu menatap dengan kagum, dan celotehan bisik-bisik yang mengatakan bahwa Tea dan Asher sangat serasi. Tidak ada yang berani mengatakan bahwa mereka sangat tidak cocok.
Kenapa para tamu itu begitu? Padahal di pesta terakhir kali mereka bilang Asher dan Tea tidak cocok kan? Ya, tentu saja itu semua berkat laki-laki yang sudah berusia lebih dari lima puluh tahun, yang berdiri di atas sana, mengawasi dengan wibawa. Senyuman terbit di wajahnya, saat dia yakin tidak sia-sia menurunkan ancaman.
Jantung Tea berdebar, dia sangat senang, debaran yang tak ingin dia hentikan. Tea terlalu bahagia saat ini. Bahkan tanpa dia sadari, sudah ada air mata yang menetes dari ekor matanya.
Asher dengan cepat mengusap air mata itu.
"Kau tau kau biasa aja kan? Bisa-bisanya merusak riasana ini."
"Kau menghina ku?"
"Mana mungkin, buat apa menghina diri ku sendiri? Karna harga diri mu, adalah harga diri ku, kehormatan mu, adalah kehormatan ku. Kau paham? Jadi, jika ada yang menghina mu hari ini? Lempar saja dia."
Tea tersentak halus, entah sejak kapan Asher yang dingin ini berubah menjadi manis dengan segala kalimat puitis menggelikan versi dirinya.
"Kalau begini terus, aku bisa mencintai mu." gumam Tea.
"Bukan bisa mencintai ku. Tapi kau memang sudah mencintai ku."
...***...
...Cuplikan next episode: mwehehe...
Asher dan Tea sudah duduk di tempatnya.
"Acaranya akan dimulai de--"
__ADS_1
"Acaranya tidak bisa dimulai sekarang, karna masih ada satu kuman di pesta ini! Yelena, kau ingin mengakui kesalahan mu? Atau aku yang akan menjabarkannya?!" -Noel