Ayo Move On Sumiku!

Ayo Move On Sumiku!
75. Aku maksa!


__ADS_3

*Cup


Asher mengecup bibir Tea dengan lembut. Tea mendorongnya kasar.


"Apa kau mengerti sekarang?"


"Aku tidak mengerti apapun! Jelaskan pada ku sekarang!"


Sepertinya cara ini tidak lagi bisa membuat Tea diam. Atau Tea memang sudah tidak lagi bisa mengendalikan dirinya. Itu adalah hari yang sangat dia nantikan, dimana dia akaj duduk bersanding dengan status suami istri bersama orang yang dia cintai. Tidak apa-apa jika suami yang dia cintai tidak mengetahui isi hatinya.


Setidaknya, bagi Tea, impian kecil nya bisa terwujud, dia bisa memamerkan pada dunia bahwa dia sudah menikah dengan orang yang dia cintai, dia ingin semua orang tau bahwa dia sudah menikah dengan Asher. Dengan diadakannya pernikahan besar-besaran ini, akan menjadi bukti bahwa Asher menerika keberadaan Tea sebagai istrinya sahanya. Dengan perayaan ini, Tea tak akan lagi mendapat label pengantin pengganti, atau istri yang tidak dicintai.


Meskipun faktanya, aku memang gak dicintai oleh Asher. Tapi, biarlah itu menjadi rahasia aku dan Ash. Seenggaknya, Ash lebih baik dan gak menolak keberadaan ku.


Tapi kenapa? Kenapa hari yang sudah sejak lama aku nantikan malah di tunda?


"Aku tidak mengerti apapun yang kau katakan! Aku tidak paham dengan segala tindakan mu! Jelaskan pada ku!"


"Aku mencintai mu bodoh, jadi buat apa aku harus membatalkan perayaan ini. Aku juga ingin menggandeng tangan mu, mengumumkan pada dunia, bahwa kau adalah istri yang aku cintai. Tapi, aku tidak bisa jika harus memaksa mu, kau terluka."


Tea diam, air mata yang tadi menetes, kini sudah mengalir. Jantungnya juga mendadak lebih tenang, tapi otaknya seperti bug. Pikiran Tea masih belum bisa mencerna segala pernyataam Asher barusan.


"Apa? Ash kau mencintai ku? Aku tidak salah dengar kan? Atau telinga ku sedang bermasalah?"


Tea masih menatap Asher tidak percaya, kata-kata cinta yang Asher ucapkan, ajaibnya mampu terus berputar di kepala Tea.


Asher diam, dia tidak menjawab pertanyaan Tea dan hanya mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu.


"Shhh..."


Desis Tea saat Asher menggigit pelan telinganya yang kini sudah memerah.


"Hmm? Telinga mu baik-baik saja kok. Tidak bermasalah, tidak ada yang salah. Artinya yang kau dengar juga tidak salah, yang ku ucapkan juga benar adanya. Aku mencintai mu."

__ADS_1


Asher menyunggingkan senyuman menyebalkan ala dirinya. Saat dia melihat, istirnya masih memerah, baik wajah maupun telinga.


"Kau sungguh mencintai ku? Bukan obsesi?"


Tea ingat, Asher suaminya pernah terlibat hubungan menyebalkan dengan mantannya, karna obsesinya terhadap sang mantan.


"Entahlah, yang jelas aku suka saat kau berada di dekat ku, dan aku ingin selalu bersama mu. Apa itu sudah cukup?"


"Apa jika aku meninggalkan mu, kau akan mengejar dan memaksa ku kembali? Sepertu kau memaksa Eve?"


"Apa kau berniat meninggalkan ku?"


Deg


Tea terdiam, dia tidak pernah memikirkan ini sebelumya, jika ditanya benar-benar ke dalam dirinya, jika di gali dalam hatinya, mungkinkah dia memang benar-benar ingin meninggalkan Asher? Bahkan jika dulu dia memiliki anak.


"Tidak." Gumam Tea pelan.


Asher tersentak halus, meskipun Tea menggumamkannya dengan sangat pelan, Asher masih bisa mendengarnya, dan yakin dengan pasti bahwa telinganya baik-baik saja, jadi tidak mungkin dia salah dengar.


"Kau sungguh mencintai ku?"


"Apa aku harus menulisnya di taman kota baru kau percaya?"


"Jangan pikirkan itu, itu sangat menggelikan."


"Makanya, terima saja aku mencintai mu."


"Kalau kau memang mencintai ku! Ayo merayakannya besok!"


"Aku menolak."


...***...

__ADS_1


Asher kalah, atas bujuk rayu istrinya yang luar biasa menggoda. Mereka kembali ke hotel, kali ini masih subuh, dan keduanya sedang duduk berhadapan di dalam kamar mereka.


Setelah semalaman mengeluarkan teknik meyakinkan dengan dalih cinta, akhirnya Tea memenangkan perdebatannya dan dia akan merayakan pernikahannya siang nanti. Meski memang agak sakit saat pertama kali tertusuk, berkat dokter, alat, dan obat-obatan mahal yang bukan main harganya. Efek kesembuhannya juga lumayan cepat. Memang agak sakit, tapi untuk berjalan ke pelaminan Tea masih bisa.


Klek


Suara pintu sudah terbuka, tampak Viocha yang masuk dengan wajah lesu.


"Gimana Cha? Gaunnya bisa diperbaiki?" Tanya Tea pada sang adik. Dia ingat, dia memerintahkan Viocha untuk menemui Jenny dan memperbaiki gaunnya. Yah, meskipun keputusan tidak menunda pernikahan sangat di tentang oleh Icha. Tapi bujukan Tea lebih kuat daripada perlawanan Icha. Meskipun perdebatan yang jarang terjadi oleh kaka adik itu, semuanya berakhir dengan Tea yang memenangkan debat, dan mereka akan melanjutkan acara ini.


"Enggak Ka, gaunnya udah rusak, selain rusak gaunnya juga kotor. Walau udah di cuci dan dikasih banyak parfum, tapi bau amis darahnya gak ilang-ilang, mending kaka pake gaun lain. Atau lebih baik, tunda aja pestanya."


"Gak boleh!" Pekik Tea seketika. Apa sih? Kenapa Putri rata kekeuh sekali?


"Ya udah lah, pakai gaun lain aja." Tea menghela napasnya lesu. Bukan dia tidak suka dengan gaun lainnya, hanya saja dia sudah jatuh cinta pada gaun sebelumnya.


Klek


Pintu kembali terbuka, dan Noel sudah masuk disana. Tapi, Noel hanya menatap Asher sekilas, dia tidak mengoceh dengan ramah, atau berisik ceria seperti biasanya.


Tidak ada lagi celetukan menyebalkan yang lajang tua ini keluarkan. Aura yang Noel pancarkan juga sangat berbeda dari biasanya. Aura sangat menekan ini datang dari dirinya. Dia yang biasa membawa laporan aneh untuk Tea, kini diam, dia bahkan tidak menatap wajah Tea. Jangankan candaan, Noel bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun, walau hanya sekadar basa basi menanyakam kesehatan Tea.


Noel kenapa? Kenapa dia jadi gak seru? Apa karna udah gak jadi supir ku? Padahal kemarin-kemarin dia masih asik kok.


Batin Tea, dia ingin menanyakannya langsung, soalnya dia Putri rata kita yang ceplos. Tapi, entah kenapa tenggorokan nya sulit, setiap kata yang dia keluarkan untuk menyapa Noel, mendadak tidak bisa dikeluarkan. Ada beban berat yang di tanggung.


Asher menghela napasnya. "Pada awalnya aku ingin memberikan ini sebagai hadiah, tapi karna kejadiannya sudah begini. Mau bagaimana lagi pada pesta ini, pakailah gaun ini. Masuklah."


Saat Asher memberikan aba-aba itu, seorang perempuan yang sangat Tea kenal sebagai pahlawannya memasuki ruangan. Dia membawa sebuah gaun yang masih tertutupi kain putih.


"Ely!"


"Berisik Galea, liat ini, gaun yang aku khusus buat untuk mu. Berterima kasihilah pada ku."

__ADS_1


Ely menarik kain putihnya, tampak sebuah gaun yang 'luar biasa'


Tea bahkan sampai terkejut, dia menutup mulutnya, tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Matanya berbinar sangat terharu, dia sangat menyukai gaun yang suaminya hadiahkan.


__ADS_2